Raden Saleh: Pionir Seni Modern Indonesia

11-07-2016 06:07:04 By Yehezkiel Sihombing
img

Jika pada catatan sejarah kamu mencari pelukis paling berpengaruh sepanjang masa di Indonesia, pastilah akan muncul Raden Saleh sebagai jawabannya. Bukan tanpa alasan, Raden Saleh, yang lahir dengan nama Saleh Sjarif Boestaman adalah pionir seni modern Indonesia. Pada masa Indonesia masih bernama Hindia Belanda, Raden Saleh kerap melahirkan karya-karya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa dengan gaya romantisme ala Eropa. Selain melukis, dalam kesempatannya untuk belajar di Belanda selama dua tahun, Raden Saleh juga mempelajari teknik cetak dengan batu. Kecakapan Raden Saleh dalam melukis membawanya berkesempatan untuk mengadakan pameran tunggal di Den Haag. Sampai dengan menjadi pelukis istana kerajaan Belanda saat pemerintahan Raja Willem II. Tepatnya di tahun 1843. Kemampuan melukis Raden Saleh kian berkembang seiiring dengan pengalamannya belajar dan berkarya di Negara-negara di Eropa. Tidak hanya Belanda, ia juga sempat berkarya di Perancis, Jerman, bahkan Austria. 20 tahun ditempuh, hingga pada tahun 1852 Raden Saleh kembali ke Hindia Belanda. Sepanjang masa berkaryanya, lukisan Raden Saleh yang paling historikaladalah “Penangkapan Diponegoro” yang ia lukis pada tahun 1857. Di mana dalam karya tersebut tergabar suasana penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Kolonial Belanda di Magelang pada tahun 1930. [caption id="attachment_13443" align="alignnone" width="1646"]Penangkapan Diponegoro (1857) - Image via sejarahrupa.files.wordpress.com Penangkapan Diponegoro (1857) - Image via sejarahrupa.files.wordpress.com[/caption] Yang membuat lukisan ini begitu penting adalah karena terkadungnya nilai sejarah kontrofersial antara Hindia Belanda dan Belanda pada saat itu. Nicolaas Pieneman, seorang pelukis Belanda sudah terlebih dahulu melukiskan peristiwa tersebut. Tepatnya di tahun 1935. Dalam versi Peneman yang berjudul “Penyerahan Diri Diponegoro” tersebut, terlihat kepasrahan Diponegoro saat ditangkap oleh Kompeni Belanda. Rekayasa sejarah tersebut menimbulkan rasa dengki bagi Raden Saleh, yang selanjutnya menggambar “Penangkapan Diponegoro” 22 tahun setelahnya. Pada versi Raden Saleh lebih ditonjolkan kegagahan Diponegoro dan kekejian Belanda. Ragam upaya dilakukan berbagai pihak guna dijadikan penghargaan bagi Raden Saleh. Kediamannya kini menjadi Rumah Sakit PGI Cikini. Penghargaan bersifat anumerta juga diberikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di tahun 1969 dalam bentuk Piagam Anugerah Seni. Ingin melihat karya-karya Raden Saleh? Kamu bisa melihatnya terpajang di ruang pameran tetap di Galeri Nasional, Jakarta.