Album-album akustik asik untuk bersantai

08-07-2016 10:07:48 By Yehezkiel Sihombing
img

Banyak hal yang bisa dilakukan tatkala bersantai. Seperti membaca buku, menikmati segelas teh, atau sekedar meregangkan badan di atas sofa kesayangan. Mengingat masih ada hari-hari libur untuk bersantai, JakartaVenue memilihkan 4 album akustik untuk mengiringi waktu bersantaimu. Berikut daftarnya:

Nick Drake – Bryter Layter (1971)

Tidak perlu tenar untuk jadi besar. Itulah yang dibuktikan Nick Drake, seorang penyanyi folk asal Inggris. Di masa hidupnya (1948-1974) karya-karyanya tidak banyak dibicirakan. Namun kini ketiga albumnya dipastikan ada di jajaran essentials album media-media musik besar. Salah satunya adalah Bryter Layter. Album ini akan menjadi teman yang tepat untuk menghabiskan waktu bersantaimu. Suara Drake yang halus seperti bisikan, permainan gitar klasik yang indah, dan alunan orkestra simple yang menenangkan akan membuatmu sulit menyudahi menikmati album ini. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=Qr3-ScLFG4w[/embed]

Graham Coxon – The Spinning Top (2009)

Pilihan tepat untuk kamu yang ingin bersantai di pagi hari. Album ke-tujuh dari proyek solo gitaris Blur, Graham Coxon. Berbeda dengan rilisan-rilisan sebelumnya, di mana Graham Coxon cenderung memainkan nomor-nomor rock yang urakan dan penuh distorsi. Dalam concept album yang satu ini, yang tersaji justru adalah dominasi permainan gitar akustik yang menawan. Yang cantik namun tidak cengeng. Yang mendayu-dayu namun tidak lantas membuatmu tersedu-sedu. Untuk kamu penggemar Blur, aksi Coxon melagukan tembang-tembang folk ini jangan sampai terlewatkan. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=zIvvftXOV0M[/embed]

Linda Perhacs – Parallelograms (1970)

Sama halnya dengan dengan Nick Drake, Linda Perhacs juga tidak mendapat apresiasi yang tinggi saat album ini dikeluarkan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari dunia musik dan beralih menajdi seorang dokter gigi. Lalu pada tahun 2012, seorang pasien yang mengidolakan karya-karyanya membantunya untuk kembali naik ke atas panggung. Parallelograms adalah satu-satunya hasil dari masuknya Linda Perhacs muda ke dapur rekaman. Mendengarkan harmonisasi psychedelic folk penyanyi berkebangsaan Amerika ini akan membawamu mengawang dalam tenang. Tidak hanya itu, didalamnya juga banyak part yang mengejutkan. Seperti pada lagu “Parallelograms” dan “Chimacum Rain”. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=iXBd-SjQxpQ[/embed]

AriReda – Menyanyikan Puisi (2015)

Ini dia Simon & Garfunkel-nya Indonesia! Seperti judul albumnya, duo yang sudah berkarya sejak tahun 1982 ini menyebut karya-karyanya sebagai musikalisasi puisi. Ya, nomor-nomor yang bisa kamu nikmati di album dan penampilan AriReda sejatinya adalah puisi. Beberapa diantaranya karya-karya penyair klasik seperti Djoko Damono, Toto Sudarto Bachtiar, dan lain-lain. Yang indah pasti mudah dinikmati. Sama halnya dengan petikan gitar Ari Malibu dan merdu suara Reda Gaudiamo. Terlebih untuk kamu para pecinta sastra, indahnya syair-syair yang dilagukan juga akan menjadi sesuatu yang membuat AriReda begitu spesial. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=qDaAZ8zi8_w[/embed]