Menelaah Eksistensi Ondel-ondel

22-06-2016 10:06:08 By Marcha Nurliana
img

Sudah dikenal semua orang bahwa Indonesia memiliki potensi kekayaan budaya yang sangat tinggi. Dari ujung barat hingga ujung timur, semua daerah pasti memiliki kebudayaan uniknya tersendiri. Mulai dari tarian, alat musik tradisional, bahasa, lagu daerah, logat, baju daerah, adat pernikahan, hingga makanan khas daerah tersebut. Termasuk juga Jakarta sebagai ibu kota Indonesia yang lekat dengan budaya Betawinya. Jakarta dikenal dengan maskotnya yaitu ondel-ondel, yang juga merupakan bagian dari kebudayaan betawi itu sendiri. Kita sering melihat wujud boneka raksasa setinggi 2 meter tersebut di jalanan maupun di taman-taman kota. Sering juga kita lihat ondel-ondel di pamflet-pamflet acara kebudayaan Betawi. Dulu, ondel-ondel ternyata bukan hanya sekedar maskot Jakarta, melainkan juga merupakan suatu ornamen yang dikaitkan dengan ritual-ritual tertentu. Pembuatannya pun tidak sembarangan. Konon sesaat sebelum membuat ondel-ondel, sang perajin akan melakukan proses tertentu agar roh yang masuk ke ondel-ondel tersebut merupakan roh baik. [caption id="attachment_13116" align="aligncenter" width="700"]JV_ondel Ondel-ondel pada tahun 1923. Image via wikipedia.org[/caption] Ondel-ondel dulu disebut sebagai “barongan”. Warga sering melakukan arak-arakan bersama ondel-ondel untuk mengusir roh jahat. Ondel-ondel dahulu juga dipercaya bisa mengatasi wabah penyakit seperti cacar jika diarak-arak keliling kampung. Pada masanya, ondel-ondel dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Seiring dengan perkembangan zaman, ondel-ondel menjadi sesuatu yang semakin menyenangkan. Jika dulu ondel-ondel berawajah seram, kini wajahnya tidak seseram yang dulu. Ondel-ondel biasanya kita lihat akan hadir di acara-acara adat Betawi atau pernikahan untuk memeriahkan acara tersebut. Sepasang ondel-ondel pria berwajah merah yang berdampingan dengan ondel-ondel wanita berwajah putih juga biasanya turut memeriahkan perayaan khas Betawi, seperti ulang tahun Jakarta. Kondisi ini merupakan salah satu hal positif, mengingat sebagian besar warga Jakarta bukan merupakan suku asli Betawi. Beredarnya ondel-ondel di berbagai kesempatan merupakan sebuah peluang untuk memertahankan, bahkan memperkenalkan eksistensi ondel-ondel sebagai warisan budaya Betawi. Ondel-ondel dan budaya Betawi bisa semakin dikenal oleh banyak orang, bukan hanya yang suku asli Betawi, tapi juga para perantau yang datang ke Jakarta. Tapi, apakah ondel-ondel sudah sepenuhnya dilestarikan ke arah yang positif? Atau setidaknya, apa yang dipikirkan warga Jakarta pertama kali setelah mendengar kata “ondel-ondel”?

“Terakhir lihat ondel-ondel belum lama, sih. Dia lagi keliling nyari uang. Memang itu kan pekerjaannya?”
Kalimat itu terlontar dari Yasa, seorang warga Jakarta yang sudah tinggal selama 28 tahun. Sebagian orang bahkan menganggap ondel-ondel sebagai sesuatu yang menyeramkan ketika mendengar kata “ondel-ondel”. Saat sedang makan di kedai-kedai jalan raya ibu kota pun, kita sering melihat ondel-ondel menghampiri pengunjung kedai untuk minta uang alias ngamen. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa pelestarian ondel-ondel tidak sepenuhnya berjalan ke arah yang positif. Peranan ondel-ondel pun bergeser seiring dengan perkembangan zaman modern. Padahal, ondel-ondel merupakan maskot Jakarta yang notabene ibu kota nusantara. Jika mengingat sejarah ondel-ondel dan peranannya di masa terdahulu, sangat miris jika membandingkan eksistensinya di era modern ini. Beredarnya ondel-ondel di jalanan untuk ngamen membuat ondel-ondel terlihat “murah”. Hal ini kemudian akan membuat keberadaan ondel-ondel itu sendiri tidak dihargai. Padahal sebuah budaya, apalagi maskot daerah seharusnya masih dibanggakan oleh warga daerah itu sendiri, bukan? Anyway, happy 489th birthday, Jakarta!