Seputar Demam Berdarah Dengue (DBD)

17-06-2016 12:06:47 By Marcha Nurliana
img

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. Organisasi kesehatan dunia memperkirakan bahwa jumlah orang yang terjangkit penyakit DBD adalah sebanyak 50 – 100 juta per tahunnya. DBD banyak menyerang di negara kawasan tropis dan subtropis. Maka dari itu, Indonesia sebagai negara yang terletak di wilayah tropis perlu mengetahui informasi mendalam serta melakukan tindakan antisipatif untuk mencegah penyebaran virus DBD. Apalagi, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa jumlah kematian DBD pada 2009-2011 tercatat sebanyak 1.125 kasus. Kemudian pada 2013, jumlah penderita DBD di Indonesia mencapai 48.905 kasus dengan 376 di antaranya meninggal dunia. Indonesia pun tercatat sebagai negara tertinggi kedua yang masyarakatnya terjangkit DBD setelah Brazil, bahkan yang nomor 1 di Asia Tenggara. Berbagai gejala jika terjangkit DBD adalah demam tinggi, sakit kepala, kulit yang menjadi kemerahan, muntah-muntah, hingga nyeri persendian. DBD juga dikatakan sebagai “bonebreak fever” karena penderita DBD juga merasakan sakit tulang yang hebat.  Gejala tersebut biasanya muncul empat hingga tujuh hari setelah seseorang terjangkit DBD. Untuk anak-anak, gejalanya bahkan lebih parah dibandingkan orang dewasa. Saat seseorang terjangkit DBD, biasanya fase awal ditandai dengan demam tinggi dan sakit kepala. Pada fase ini pula, mayoritas penderita DBD akan mengalami ruam atau kemerahan pada kulit. Bintik-bintik tersebut kemudian akan terlihat seperti campak pada hari ke empat hingga hari ke tujuh. Ada juga beberapa orang yang mengalami fase kritis selama 2 hari saat demam sudah mulai turun. Fase kritis ditandai dengan menumpuknya cairan di dada dan abdomen karena pembuluh darah kecil yang bocor. Karena organ tidak mendapatkan darah seperti biasanya, maka pada fase ini organ-organ di tubuh pun tidak bisa bekerja secara normal. Tidak jarang juga, penderita DBD yang mengalami fase kritis juga dapat mengalami pendarahan. Saat penyembuhan, cairan yang tadinya keluar dari pembuluh darah akan diambil kembalike dalam aliran darah dan fase ini akan berlangsung selama 2 – 3 hari. Penderita DBD akan mengalami pemulihan yang disertai gatal-gatal dan detak jantung melemah. Hingga saat ini, belum ada obat antibiotik khusus yang bisa menyembuhkan DBD. Pengobatan yang dilakukan bagi orang yang terjangkit DBD adalah dengan cara mengurangi kesakitan yang dirasakan penderita, seperti mengobati demam, nyeri, dan sakit kepala dengan meminum obat parasetamol. Selain itu, penderita juga dianjurkan untuk banyak meminum air putih untuk mengembalikan cairan yang hilang. Mencegah tentu saja lebih baik daripada mengobati. Tetapi untuk mencegah, kita juga harus tahu bagaimana DBD bisa menyebar. Nah, salah satu penyebaran DBD yang paling umum adalah genangan air yang merupakan sarang nyamuk berkembang biak. Seringkali juga DBD dijumpai di wilayah yang sistem sanitasinya buruk. Untuk mencegah terjangkitnya penyakit DBD, disarankan untuk selalu menguras bak mandi di dalam rumah dan membersihkan genangan air yang ada di sekitar rumah supaya tidak terdapat  nyamuk yang berkembang biak. Ada juga cara mudah lain untuk memberantas jentik-jentik nyamuk di dalam genangan air, yaitu dengan melepaskan seekor ikan mas di dalam bak mandi atau penampungan air. Ikan mas tersebut kemudian akan memakan jentik-jentik nyamuk sehingga penampungan air pun akan bebas dari perkembangbiakan jentik nyamuk. Cara ini sudah diterapkan di salah satu desa di Jawa Tengah dan hasilnya, selama 2 tahun desa tersebut bebas dari kasus DBD. Mengingat tingginya potensi Indonesia untuk terjangkit DBD sekaligus memperingati hari DBD pada 15 Juni lalu, ada baiknya jika mulai hari ini kamu melakukan pencegahan-pencegahan dengan memerhatikan lingkungan, bukan?