Shun: Musik Indonesia Itu Sangat Menarik

27-05-2016 01:05:49 By Yehezkiel Sihombing
img

Sore menjelang malam di Mondo Cafe, Fatmawati, Jakarta Selatan. Shun, seorang pria warga negara Jepang berkeliling mengontrol jalannya sebuah acara musik yang sedang digelar di cafe miliknya itu. Di sela waktu santainya, JakartaVenue mengajaknya berbincang-bincang.

Bagaimana awalnya Shun bisa menetap di Indonesia?

Pertamanya karena ada tawaran dari senior saya untuk kerja di satu hotel di Jakarta. Saat itu saya berumur 30 dan ambil kuliah desain grafis dan sinematografi di Jepang. Tapi karena susah dapat kerja di Jepang kalau diatas 30 tahun, jadi saya ambil kesempatan itu.

Lalu bagaimana ceritanya bisa membuka Mondo Café?

Dari dulu saya kan koleksi piringan hitam lagu-lagu vintage. Dan semenjak saya di Indonesia saya semakin suka dengan retro culture Indonesia. Saya pergi ke restoran-restoran khas Indonesia, dan kebanyakan menawarkan wajah Indonesia yang sifatnya tradisional. Saya terpikir untuk bikin tempat yang nunjukin retro culture Indonesia. Jadi saya langsung bangun Mondo Café dengan teman saya yang orang Jepang juga. Sebelumnya dia sudah kerja di Japanese restaurant. Jadi dia yang urus soal operasional. Saya bagian konsepnya.

Unsur musik cukup kental di Mondo Café. Apa sebenarnya cita-cita shun lewat dibangunnya tempat ini?

Intinya saya ingin bikin melting pot untuk semua jenis musik. Saya ingin di Jakarta ada tempat untuk apresiasi semua genre. Baik hip hop, electronic, jazz, noise, punk, dan yang lain-lain. Selain itu tempat ini juga ingin jadi wadah untuk live painting, photo shooting, atau kegiatan seni grafis lainnya.

Sekarang ini Shun bergabung dengan Irama Nusantara, komunitas pecinta dan pengarsip lagu-lagu Indonesia lama. Bagaimana awal mula keterlibatan Shun?

Saya suka cari piringan hitam di Jalan Surabaya. Di situ saya bertemu dengan David Tarigan, Acum, dan Alvin. Dan kita sering nongkrong-nongkrong bareng di sana, sekalian tukar informasi. Saat itu saya menyediakan tempat untuk aktifitas Irama Nusantara dan meminjamkan koleksi-koleksi piringan hitam saya untuk di convert ke dalam format digital. Hasilnya dijadikan arsip Irama Nusantara.

Saat tinggal di Jepang, apakah Shun sudah mendengarkan musik Indonesia?

Oh tidak. Dulu itu yang saya tahu hanya music gamelan, kecak, dan musik-musik tradisional saja. Baru ketika saya mulai cari tahu, ternyata ada banyak musik obscure Indonesia yang menarik dari tahun 50 dan 60-an. Saya sempat kaget juga, karena keren-keren banget.

Sebenarnya apa faktor utama yang membuat Shun tertarik dengan musik Indonesia?

Banyak banget, terutama keunikannya. Saya akhir-akhir ini lagi suka musik Sunda. Menurut saya musik Sunda sangat unik, karena pakai tangga nada pentatonik. Itu mirip sekali dengan musik tradisional Jepang dari daerah Okinawa. Selain itu, saya juga tertarik dengan sejarah musik Indonesia. Saya pernah dengar kalau keroncong adalah cikal bakal musik pop pertama di dunia. Saat zaman penjajahan portugis di abad 16, Vasco De Gama melanjutkan perjalanan ke Jepang, Hawaii, Amerika, dan Brasil. Itu dia kenapa bossa nova Brasil dan music Hawaii kental sekali unsur keroncongnya. Orang-orang Portugis juga pernah bikin komunitas musik di Tugu, Yogyakarta. Di situ musik keroncong yang hybrid mulai banyak disaksikan sama pendatang-pendatang lain. Seperti yang dari Belanda dan Inggris.

Tapi selain musik tradisional Indonesia, apakah Shun juga mendengarkan musik-musik tradisional dari Negara lain?

Oh tentu. Paling pertama yang saya suka dengarkan itu musik Maroko. Saya coba dengarkan itu karena gitaris The Rolling Stones, Brian Jones pernah ke Joujouka di Maroko untuk bikin album yang judulnya “The Pipes of Pan at Joujouka”. Disitu dia bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk bikin musik eksperimental yang menurut saya bagus banget. Selain itu saya juga suka lagu-lagu India. Apalagi yang pakai instrument sitar.

Shun suka dangdut? Siapa penyanyi dangdut favorit Shun?

Saya suka dangdut. Tapi yang paling saya suka bukan penyanyi ya. Favorit saya itu grup musik dangdut yang namanya “Orkes Melayu Purnama”. Itu grup dangdut di tahun 60 sampai 70-an. Didalamnya ada Meggy Z, Elvy Sukaesih, dan Rhoma Irama juga.

Banyak orang Indonesia yang menganggap musik dangdut itu kampungan. Bagaimana pandangan Shun mengenai hal ini?

Sebenarnya di Jepang juga begitu. Musik-musik yang kental unsur tradisionalnya sering dinilai kampungan. Apalagi di Indonesia yang dulu sempat dilarang dengar musik barat kan? Ketika waktunya sudah diperbolehkan untuk dengar lagu barat, langsung deh lagu-lagu kayak dangdut mulai ditinggalin. Memang pas era 80’an dangdut udah mulai norak musiknya. Tapi kalau dicari tahu lebih dalam, sebenarnya ada juga dangdut yang keren di masa itu. Seperti grup “Pancaran Sinar Petromax”. Mereka bawain dangdut dengan cara yang berbeda, yaitu dengan masukin unsur komedi. Intinya orang Indonesia harus cari tahu lebih banyak tentang dangdut. Termasuk tentang sejarahnya. Pasti nanti jadi lebih tertarik dengan dangdut.

Shun bisa sebutkan 3 musisi Indonesia terfavorit?

Wah! Susah sekali. Banyak banget musisi Indonesia favorit saya. Saya suka Harry Roesli, Jack Lesmana, Yopie Item, dan Fariz RM. Tapi diluar itu masih banyak lagi.