3 in 1: Diberlakukan Atau Dihapuskan?

24-05-2016 04:05:25 By Yehezkiel Sihombing
img

Kemacetan di Jakarta sepertinya sudah menjadi hal yang tidak mengherankan lagi bagi warganya. Padat dan rapatnya kendaraan menjadi santapan sehari-hari saat sebelum dan sesudah beraktifitas. Banyak cara yang dilakukan Pemerintah untuk menyikapinya. Salah satunya adalah diberlakukannya 3 in 1 sejak tahun 2003. Namun belakangan isu sosial menjadi masalah tatkala 3 in 1 diberlakukan. Yaitu ketika banyak ditemukan penyedia jasa ‘joki 3  in1’ yang menggunakan anak sebagai atribut. Dimana anak-anak tersebut didapatkan dengan cara menyewa. Hal itu akhirnya mendorong Pemerintah DKI untuk mengadakan percobaan penghapusan 3in1. Pro dan kontra pun beredar dalam opini masyarakat. Pasalnya, keputusan tersebut dirasa menambah kemacetan Ibukota. Jalan-jalan alternatif yang awalnya menjadi pilihan untuk melaju saat diberlakukannya 3 in 1 memang sudah sangat macet. Ditambah ketika 3 in 1 dihilangkan, jalan protokol yang seharusnya relatif lebih lancar justru juga menjadi macet. Alhasil, kedua hal tersebut dirasa serba salah. Warga Jakarta hanya memiliki satu pilihan, yaitu menunggu keputusan Pemerintah. Jika 3in1 Diberlakukan

  • Jalan-jalan alternatif akan semakin dipenuhi kendaraan. Pengemudi yang berkendara sendiri ataupun berdua dipastikan tidak dapat melewati jalan protokol, seperti Sudirman misalnya.
  • Hal yang dikhawatirkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengenai isu sosial ‘joki 3 in 1’, akan tetap terjadi. Beliau juga menyebutkan bahwa ada banyak ‘joki 3 in 1’ yang memberi obat tidur kepada anak-anak tersebut.
  • Akses menuju beberapa gedung semakin sulit. Meskipun beberapa gedung di bilangan Sudirman memiliki akses pintu belakang, tapi tetap saja beberapa diantaranya menyulitkan. Terlebih untuk gedung-gedung yang berada di jalan Gatot Subroto.
Jika 3in1 Dihapuskan
  • Kemacetan akan semakin merata. Ini bisa berarti baik jika kamu tidak melewati jalan protokol setiap harinya. Tapi untuk kamu yang melewatinya, pasti kemacetan akal lebih terasa. Karena kemacetan tidak hanya terjadi di jalan-jalan alternatif.
  • Selain meratanya kemacetan di seluruh ruas jalan, kemacetan juga akan merata di setiap waktunya. Dengan dihapusnya 3in1, kemacetan bisa terjadi kapan saja.
Diluar dari sekedar memberlakukan 3 in 1 atau tidak, sebenarnya masih ada beberapa strategi yang ingin dicoba oleh Pemerintah DKI Jakarta, seperti ERP (Electronic Road Pricing). Dimana pengendara yang melewati jalan non-tol tertentu akan dikenakan biaya. Selain itu, jalan keluar yang juga sedang didiskusikan adalah system ganjil-genap plat kendaraan. Apapun hasilnya, semoga Pemerintah dapat menemukan jalan terbaik untuk memerangi isu sosial ‘joki 3 in 1’ sekaligus menghapus kemacetan.