AADC 2: Mesin Waktu Tak Tentu Arah

11-05-2016 05:05:39 By Yehezkiel Sihombing
img

2 juta penonton dalam 8 hari pertama telah menyaksikan “Ada Apa Dengan Cinta 2” (AADC 2). Sebuah kalimat berita yang terkesan gagah, tapi tidak mengejutkan. Seperti sebuah brand besar, meraih angka setinggi itu hanyalah pencapaian sederhana bagi “AADC 2” Mengemban tugas untuk memuaskan dahaga publik yang berharap rindunya terobati dan dugaannya tervalidasi, AADC 2 diharapkan menjadi sajian nostalgia yang bergizi seimbang. Konten-konten yang sudah terlanjur lama hidup di hati para penonton AADC dari 14 tahun yang lalu menjadi senjata utamanya. Meski demikian, perubahan tak dapat dielakan. Rangga yang dulu sinis dan arogan kini menjadi pria yang (entah kenapa) selalu bimbang dan gamang, resah seperti ingin berbuat seuatu. Cinta yang dulu selalu tampak melankolis baik di kantin atau koridor sekolah kini menjadi wanita dinamis yang berusaha tangguh. Bagaimana dengan ‘geng cinta’? efek jerat substansi narkotika pada Karmen meredakan kegarangannya. Milly, yang diperankan sangat baik oleh Sissy Pricillia tidak lagi selambat dulu dalam mengolah pesan. Hanya Maura yang masih sama moleknya. Gaya penyutradaraan Riri Riza yang sangat berbeda dengan cara Rudi Soejardwo menggarap AADC adalah faktor kuat yang menjadikan perubahan formula AADC 2 terasa mengagetkan. 14 tahun lalu film Ini seperti seorang anak remaja yang emosinya eksploitatif. Yang sangat bahagia pada situasi yang sekedar menyenangkan, namun menangis tersedu-sedu ketika mendengar fakta yang tidak begitu menyedihkan. AADC 2 yang semestinya menjadi sosok dewasa AADC justru malah seperti menjadi pribadi lain. Pribadi yang lebih mirip dengan karya Riri Riza lainnya, “3 Hari Untuk Selamanya”. Atau bahkan drama garapan Richard Linklater di tahun 1995, “Before Sunrise”. Jogja yang sebagian besar dipilih sebagai latar tempat beradegan menjadi saksi perubahan-perubahan itu. Kompromi memang perlu diadakan, mengingat 14 tahun bukanlah waktu yang singkat. Set up seperti apapun menjadi serba salah untuk dieksekusi. Jika dalam rentan waktu tersebut perjalanan karakter-karakternya dibuat terlalu pelik, pasti penonton akan gerah dan merasa ketinggalan. Tapi jika secara cuma-cuma meneruskan apa yang ada di AADC, rasanya juga kurang cermat. Karena sejatinya 14 tahun adalah kurun waktu yang lebih dari cukup untuk merubah karakter. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=3c_McS4_2A8[/embed] Dalam beberapa hal, film ini tetap bisa memuaskan penonton dengan ragam aspek penilaian. Mereka yang ingin bernostalgia masih bisa merasakan kemesraan berbalut drama dari ’geng Cinta’. Beberapa adegan bahkan dibuat memang untuk mengingat-ngingat bahagianya masa SMA mereka 14 tahun lalu. Apalagi untuk kamu yang tidak memperdulikan eksistensi AADC 2 sebagai sebuah sequel, berbagai konten menarik bisa kamu nikmati. Itinerary perjalanan Cinta dan teman-temannya di Jogja misalnya. Ada juga karakter Milly yang melempar reaksi-reaksi lucu nan segar, yang bahkan dipakai untuk product placement. Dengan Scoring kontemporer yang juga banyak dipasang di beberapa adegan. AADC 2 juga masih menghadirkan beberapa dialog yang menarik untuk dikutip. Maka dari itu, kurang tepat jika konklusi pembahasan AADC 2 hanya soal lebih baik atau lebih buruk dari pendahulunya. Seperti mesin waktu tak yang tak tentu arah, bahkan sulit untuk membandingkannya dalam standar penilaian yang linear. Sekali lagi, 2 juta penonton dalam 8 hari pertama hanyalah pencapaian sederhana bagi film ini. Yang hebat adalah jika dengan jalan cerita yang seharusnya, sequel ini berhasil meninggalkan kesan sedalam versi terdahulunya. Untuk yang sudah menonton, berkesankah AADC 2 untukmu?