Up Close Interview With Olivia Marzuki

11-05-2016 10:05:05 By Tyas Pamungkas
img

Olivia Marzuki tampak ceria saat ditemui JakartaVenue di salah satu kedai kopi di pusat perbelanjaan selatan Jakarta, padahal ia tengah setelah meeting. Mungkin kamu mengenali sosok presenter berita ini yang sudah sejak 2008 woro wiri di layar kaca nasional seperti Metro TV, Berita Satu, Bloomberg Indonesia dan CNN Indonesia. Tapi, sudahkah kamu mengenal kepribadiannya? JakartaVenue merangkum hasil wawancara dengan Olivia yang membahas banyak hal: karir, usaha mandiri yang tengah dijalani, alasan masuk dunia broadcasting, dan cita-cita yang selalu diimpikannya.

Halo Mbak Olivia, lagi sibuk apa sekarang?
Sekarang aku siaran di CNN, dan biasanya siaran malam. Saya pegang program World Now jam 9 dan CNN Indonesia Tonight jam 11. Jadi siang-siang saya sibuk dengan serangkaian aktifitas lain, termasuk mengajar kelas broadcast, menjadi public speaker di acara edukatif seperti forum dan media training, dan wirausaha di bidang kecantikan.
Istirahatnya kapan?
Istirahatnya kapan ya? Saya jarang istirahat hahaha. Saya kebetulan jam tidurnya pendek ya. Saya tidur paling 5-6 jam sehari aja. Selain siaran, saya juga memiliki bisnis franchise di bidang kecantikan, yakni Amara Home Spa, sebuah layanan spa delivery yang dimana saya tidak aktif terlibat secara operasional. Saya lebih aktif mengajar di communication & broadcasting school namanya Communicasting Academy dan sekarang juga lagi menjajaki usaha baru namanya OMG Learning Center. OMG Learning Center ini terafiliasi dengan Communicasting Academy, jadi saya bekerja sama dengan tenaga pengajar di Communicasting untuk mendesain materi pengajaran untuk grooming.
Wah, apa itu grooming?
Grooming itu appearance. Buat orang-orang yang mau jadi presenter TV, MC, atau public speaker, itu bisa latihan di tempat saya, saya grooming biar penampilan atau look-nya itu sesuai, sempurna, dan siap tampil di depan kamera.
Emang apa aja yang dibutuhkan untuk siap tampil di depan kamera?
Menyeluruh ya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, nanti kan saya berikan konsultasi. Misalnya kacama nih kalo tampil di depan kamera sebaiknya biar gak reflect cahaya pake softlens deh. Gitu, softlensnya sesuai sama rambut. Misalnya rambut cokelat, softlensnya harus cokelat juga, gitu… Pokoknya saya akan memeriksa secara menyeluruh, tapi kan biar perfect. Gak mesti harus berprofesi sebagai presenter. Semua orang butuh grooming. Grooming itu mulai dari kita gosok gigi sampe pakai krim malem itu namanya grooming. Kalo cowok tuh dari cukur kumis, itu grooming, gunting kuku itu part of the grooming. Ya, semua itu diajarkan. Kalau bicara soal cukur nih ya, itu gak boleh sampe berlawanan sama arah tumbuh rambuh, nanti bisa bikin luka dan pori-pori gede, jadi harus searah sama bulu.
Kenapa Mbak Olivia bisa tahu detail seperti itu?
Karena dari dulu saya suka memperhatikan orang dan peduli akan penampilan. Di Communicasting Academy, materi spesialisasi saya adalah grooming. Jadi image yang memperlihatkan gesture, kontak mata, cara berbusana, dresscode, itu semua saya ajarin, part of the grooming. Semua orang apapun profesinya, keahlian komunikasi itu dibutuhkan. Dan, komunikasi nggak hanya verbal, tapi juga nonverbal. Selama ini mungkin kalo komunikasi tahunya kita harus pinter ngomong atau pandai menulis. Nah itu spesifik hanya di verbal communication. Padahal, di dunia komunikasi, non verbal itu speaks louder than your words. Your appearance is how you’re judged. Kalo gini… kalau kita pertama kali ketemu sesama orang nih, 30 detik pertama adalah momen yang menentukan first impression. Jadi seperti kebanyakan orang di kota Jakarta, saya ini adalah wanita karir yang sibuk, tapi tetap bisa menjaga penampilan. Nah, gak ada excuse buat orang, siapapun, termasuk ibu rumah tangga, yang gak dandan. Sesibuk-sibuknya kita, tetap kita harus menyempatkan diri untuk grooming, baik itu untuk bercukur, waxing, menghilangkan bulu-bulu yang tidak enak dipandang hahaha, memperhatikan kuku dari ujung kuku sampe ujung rambut harus kita perhatikan, gitu loh.
Wow, Mbak Olivia ini spesialis grooming ya jadinya?
Yes, yes! Makanya sekolah saya namanya OMG, Olivia Marzuki Grooming Learning Center. Because I will make you look OMG!! Hahahaha. Bikin impression-nya tuh harus “Wah kamu jadi keren banget setelah grooming di tempat saya!”
Udah banyak yang ikut kelasnya?
Lumayan sih, kan sekarang masih lagi merintis. Jadi untuk sekarang ini, saya menawarkan kelas gratis atau not-for-profit untuk mengundang dan membuat orang datang ke tempat saya. Saya merasa sangat beruntung dapat rezeki dari profesi saya sebagai news anchor. Jadi usaha pribadi saya yakni OMG Learning Center ini sengaja saya bangun untuk memenuhi passion saya dalam mengajar, membagi ilmu dan berkontribusi untuk sesama. Di OMG Learning Center, saya mengadakan workshop tanpa memungut biaya sebagai bentuk sumbangsih saya bagi siapapun yang ingin menjadi broadcaster atau public speaker seperti saya. Olivia Marzuki

Oivia dan Karirnya Sebagai News Anchor

Kenapa pengen jadi news anchor?
Sebenernya jadi news anchor itu cita-cita yang sebenernya nggak saya sadari, jadi awalnya pas saya SMP saya sering nonton siaran berita berbahasa Inggris di SCTV, dan waktu itu ada news anchor keren yang namanya Brigitta Priscilla. Mungkin bukan di jaman kamu ya, tapi di jaman saya tuh Brigitta Priscilla top di Indonesia. Mereka orang Indonesia tapi membacakan berita dalam bahasa Inggris. Mungkin temen-temen lain idolanya Kurt Cobain, Gwen Stefani haha, tapi kalo saya idolanya Brigitta Pricilla, Jason Tedjakusuma dan Desi Anwar. I want to be like them. Buat saya mereka tuh role model yang boleh ditiru kesuksesannya di dunia penyiaran. Terus masuk SMA di Binus High School, saya nggak nyangka guru Inggris saya itu ternyata Brigitta Priscilla. Wow! Jadi dia ngajar Bahasa Inggris, pagi dia siaran terus jam 9 dia datang ke sekolah untuk ngajar. So, my own mentor was Brigitta yang saya idolakan dari dulu. Jadi terinspirasi banget pengen kayak dia meski nggak lanjut ambil jurusan journalism atau broadcast. Kuliah saya malah Hubungan Internasional di New Zealand, dan habis lulus S1 pulang ke Indonesia dan sempat lama bekerja di kantor perdagangan & investasi Queensland Government, Australia. Yah… Namanya juga destiny. Kantor perdagangan dan investasi ini ditutup karena alasan keamanan dan lain-lain. Jadi saat saya kehilangan pekerjaan, tiba-tiba dapet tawaran untuk audisi presenter di TVRI waktu itu di tahun 2008. Nah… memang kebetulan Queensland Government pernah mensponsori program quiz English for Fun di TVRI. Jadi kenal sama producernya yang kemudian menawarkan saya untuk ikut casting presenter. I believe that every thing happens for a reason. Jadi sebenarnya semua hal itu terjadi bukan karena kebetulan ya. Contohnya saya yang di-PHK dari Queensland Government, tapi justru malah dari koneksi itulah saya dibukakan pintu baru ke dunia broadcast yang sama sekali gak saya sangka. Mulai 2008, saya terjun ke dunia presenting, dan sampai sekarang tanpa terasa sudah hampir 8 tahun berkarir di on air dan off air. Dari TVRI, saya ke Metro TV freelance, kemudian Berita Satu, Bloomberg Indonesia, dan sekarang CNN Indonesia.
Gimana, enjoy nggak?
Enjoy banget, ternyata broadcast itu passion tersembunyi yang saya temukan secara kebetulan.
Ada pengalaman yang unik atau menyakitkan nggak?
Ada pasti. Karena saya nggak berpengalaman di broadcast, tiba-tiba didorong aja gitu. Oke, mulai siaran besok ya, padahal nggak ada training. Di TVRI tuh saya mulai siarannya co-house dengan Coki ngebawain acara talkshow interaktif dan tiba-tiba langsung mulai, gitu aja. Hahahahaha. Sempet gugup lah, nervous. Karena saya mau belajar tapi ya jadi dijalanin. Awalnya ya bikin kesalahan, menyapa penonton yang ada di studio saya bilang penonton di rumah. Tapi karena trial and error jadi jangan takut bikin kesalahan. Dari kesalahan itu kita bisa mengkoreksi dan belajar untuk jadi lebih baik.
Mbak Olivia ini belajarnya dari mana aja?
Dari praktik lapangan, terjun ke dunia presenting itu liat temen kiri kanan. Menonton banyak anchor yang membacakan berita, terus saya ulang berkali-kali dan saya practice at home, merekam diri sendiri, latihan di depan kaca juga, terus ya dengan kamera video misal merekam diri sendiri dan membandingkan udah mirip belum sama Frida Lidwina, misalnya, hehehe. Jadi awalnya saya meniru aja, menduplikasi orang lain sampai menemukan gaya saya sendiri. Karena nggak pernah ditraining sebelumnya, baca berita dalam bahasa Indonesia pula. Saya kan lulusan luar waktu itu bahasa Indonesia saya agak susah. Kalo baca berita jadi susah. Dulu saya gak tahu bedanya penyidikan sama penyelidikan. Aduh pokoknya bahasa Indonesia yang baku tuh susah buat saya. Bahasa berita gitu.
News anchor itu punya image yang pintar, gimana sih sebenarnya proses penyampaian berita ke publik?
Awalnya ya saya harus preparation dulu, yang namanya belajar ya kira harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Misalnya program jam 6, aku dari jam 12 udah dateng untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi. Apalagi orang baru ya newbie gitu, harus lebih banyak preparation-nya. Even buat anchor yang sudah matang pun sebelum show dia harus prepare minimal 2 jam sebelum show untuk mempelajari rundown. Terus baca skrip, nah skrip ini harus di rehearse word per word. Gak cuma baca cepet aja, pake suara dan komat kamit untuk melatih penyebutannya agar jangan sampai salah, jedanya, titik komanya jangan sampai salah. Kalau ada dialog dengan reporter atau narasumber, anchor harus mendalami dan mempelajari materi itu sebelumnya. Jadi harus tahu background informasinya, jadi nggak cuma tahu dan baca aja.
Bagaiman Mbak Olivia melihat dunia news anchor sekarang?
Ini kan masalah SDM di bidang news presenting di Indonesia masih agak langka. Karena news personality sering pindah TV tuh karena yang udah matang jarang dan TV maunya cepet, maunya yang udah siap siaran. Makanya saya dan teman-teman presenter buka sekolah, supaya bisa melatih orang yang gak punya kesempatan belajar, bisa belajar dulu sebelum dia terjun ke dunia TV. Jadi dia udah camera ready.

Olivia dan Gaya Hidup

Ngomong-ngomong hobi Mbak Olivia apa ya?
Hobi saya nyalon, manicure, pedicure, massage, makan, dan workout. Ya, saya suka Zumba hahaha. Zumba itu kan kayak aerobik kayak musik latin. Satu jam kita Zumba itu gak kerasa kita ngebakar 1.000 kalori. Nggak kayak lari di treadmill, satu jam bosen, kalo Zumba satu jam gak berasa. Saya juga afterwork gak mau pulang ke rumah saya mampir ke Amigos Kemang untuk Salsa.
Gimana cara Mbak Olivia menikmati rutinitas?
Fun ya, hidup itu pilihan. Biar lebih menikmati hidup, kita harus pintar-pintar memilih kegiatan yang berguna. Contohnya, kalo hobinya nyalon, meni-pedi, pijit, ya udah berbisnislah di bidang itu. Supaya selain menghabiskan uang, kita juga bisa menghasilkan uang dari situ. Janganlah berbisnis di bidang yang tidak sejalan dengan minat atau kemampuan kita. Kalo kita senang melakukan pekerjaan yang kita lakukan, itu bukan jadi pekerjaan lagi, jadinya fun. Bagi saya, siaran memang passion. Dan Amara Home Spa juga, bisnis yang diawali dari hobi nyalon dan spa. Pilihlah karir dan jenis bisnis yang sesuai dengan minat. Jadinya kayak hobi dibayar. You choose your own career, you choose your own lifestyle.
Musik favorit?
Aku suka musik latin, makanya suka salsa. Saya juga suka lagu yang berbahasa Spanish dan French gitu.
Tempat nongkrong favorit di mana?
Standar deh, Mall Plaza Indonesia, Plaza Senayan, hahahaha.
Suka baca buku?
Terus terang saya jarang baca buku, baca artikel iya, baca berita iya, buku kenapa ya? Mungkin saya punya problem short attention span, jadi kalo memperhatikan sesuatu yang sama berulang-ulang durasi saya nggak bisa lama. Jadi paling baca buku sih kecuali yang menarik banget kayak Eat Pray Love atau Da Vinci Code. Kalo ada versi filmnya saya suka nonton filmnya.
Film favorit?
Nggak ada favorit siih, tapi saya demen film yang agak misterius dan endingnya gak bisa ketebak. Endingnya terbuka untuk interpretasi siapapun, involving timelapse juga seperti Inception. It’s a thinking movie. Rom-com kan bisa nonton di mana aja dan gak usah mikir. Kalo TV series saya suka Sex and The City tapi nonton di DVD-nya.

Olivia dan Cita-citanya

Rencana hidup ke depan?
Dari dulu sampai sekarang memang cita-cita saya adalah menjadi enterpreneur. Jadi saya siaran ini merupakan satu bagian dari hobi saya, tapi ultimate goal adalah jadi enterpreneur. Makanya saya sangat menggantungkan hidup saya pada usaha saya seperti Amara Home Spa dan OMG Learning Center itulah yang akan mensupport saya secara finansial, secara personal satisfaction, jadi dari bisnis pribadi ini kan dari siaran saya gak mungkin selamanya, kalo udah mulai keriput pasti gak akan dipakai lagi di layar. Karir saya sebagai penyiar gak bisa diwariskan ke anak cucu. Makanya saya berharap banyak dari usaha saya ke depannya.
Sosok yang dijadikan panutan?
Brigitta Priscilla. She’s still my facebook friend, sekarang dia tinggal di Amerika, punya keluarga, anak dua. She’s one of the people I consider mentor, guru, sosok panutan, idola. Akhirnya ngobrol, masih. Orang pertama yang saya ucapkan terima kasih saat pertama muncul di layar adalah Miss Brigitta.
Apa motto hidup Mbak Olivia?
Live your life without regret. Live your live to the fullest. My name is Olivia, panggilannya Liv, kan? Jadi, LIV your life to the fullest dan positive thinking.