Batman V Superman: Sentuhan Eklektik Zack Snyder di DC Cinematic Universe

30-03-2016 03:03:01 By Tyas Pamungkas
img

Eklektik dan tak biasa. Mungkin kesan itulah yang bisa dirasakan penonton Batman V Superman: Dawn of Justice kala selesai menyaksikan saga sepanjang 2,5 jam ini. Sentuhan Zack Snyder sebagai sutradaralah yang membuat keseluruhan film ini memiliki alur kisah dan pemotongan adegan terasa tak biasa. Jangan bandingkan Bruce Wayne buatan Christopher Nolan yang terlihat konvensional dengan Wayne di film ini. Jangan juga bandingkan Clark Kent dengan si wartawan culun yang ada di film sebelumnya. Keseluruhan karakter sudah mencapai tahap yang berbeda. Ada sakit hati yang dibawa Wayne sebagai Batman dan Kent sebagai Superman. Jadi, kalau ada pertanyaan “Apa yang diributkan Batman dan Superman?”, jawaban yang paling tepat adalah “ideologi.” Film ini membalut drama dan cinta pada orang tersayang. Batman yang selama ini memendam sakit hati sepanjang hayat karena orangtuanya dibunuh di depan matanya dan Superman yang mati-matian menyelamatkan umat manusia demi masa depan yang lebih baik untuk ibu dan pacarnya, Lois Lane. Drama ini kemudian dipanasi oleh Lex Luthor, milyuner, peneliti, sekaligus filantropis Metropolis. Kegilaannya membuat Superman merasa harus menghabisi Batman. Tapi keadaan berbalik di satu titik dan mereka harus melawan musuh yang lebih besar, musuh yang bisa dibilang tak terkalahkan. Batman V Superman: Dawn of Justice memiliki kualitas grafis yang bagus, tatanan kostum yang menakjubkan, dan tata suara indah. Kualitas grafis ini terlihat di layar IMAX, walau masih ada bagian 3D yang berlubang. Kostum Superman terlihat lebih bagus dan terang, kostum Batman lebih bagus lagi, dan jangan pertanyakan kostum Wonder Woman yang mampu membangkitkan fantasi penontonnya. Tatanan suara sepanjang film juga indah, apalagi scoring Hanz Zimmer yang khusus diciptakan untuk mengiringi kemunculan Wonder Woman. Beberapa review memang berisi kekecewaan penonton. Ada yang kurang dalam film ini, seperti tatanan kisah yang tak jelas, keberadaan Lex Luthor sebagai villain yang kurang nyata, dan kebingungan mengenai topik pertengkaran dua manusia super ini. Belum lagi komentar sensitif seperti film yang terlalu patriarki, tak mendukung keberadaan perempuan karena semua pertarungan didominasi laki-laki. Tapi, JakartaVenue menganggap bahwa film ini cukup excellent sebagai prekuel Justice League yang akan keluar tahun 2017. Ada beberapa karakter penting yang muncul, seperti Cyborg, si manusia super buatan Silas Stones, Flash, manusia supercepat yang nantinya akan diperankan Ezra Miller, dan Aquaman yang akan diperankan Jason Momoa. Jangan juga lupakan Diana Prince alias Wonder Woman yang dengan ciamik diperankan aktris Israel Gal Gadot. Batman, Superman, dan Wonder Woman bersatu melawan musuh dengan formasi Trinity. Bukan yang terbaik memang, apalagi dengan kesinisan orang terhadap karakter Batman yang dimainkan Ben Affleck, ketidakseriusan orang memandang Jesse Eisenberg sebagai pemegang karakter Lex Luthor, dan karakter mengganggu Lois Lane yang diperankan Amy Adams. Tapi, film ini sudah cukup mengobati kerinduan fans DC Cinematic Universe pada kemunculan pahlawannya dengan format baru hingga menantikan film-film lainnya. Zack Snyder memang memilih plotnya sendiri, membuat penonton harus terbiasa dengannya. JakartaVenue Rating: 3.5/5 IMDb Rating: 7.4/10