Michael Arnoldy: Photographer Under The Spotlight

16-03-2016 01:03:46 By Tyas Pamungkas
img

Michael tak sadar kalau dirinya punya bakat fotografi. Berawal dari pinjam kamera ke teman, ia kini serius menekuni profesi sebagai fotografer. Fotografi adalah hal yang bisa dipelajari. Itulah yang menjadi pedoman Michael Arnoldy di masa awal perkenalannya dengan kamera. Michael jatuh cinta pada kamera di bangku kuliah. Saat itu, ia iseng meminjam kamera dan belajar memotret otodidak. Tak puas, ia berusaha mencari tambahan ilmu dan memutuskan untuk sekolah fotografi. “Akhirnya saya sama temen saya ambil sekolah foto. Cari-cari di Kwitang. Mulai sejak itu saya minta kamera ke ibu saya, walau ibu saya bilang apaan sih kok beli kamera segitu. Nah tapi dibeliin dulu. Terus belajar dan tahu cara ngoprek kamera,” kisahnya saat mengenang masa itu. Selesai kuliah, ia tak lantas berkarir sebagai fotografer. Michael sempat bekerja di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahkan sempat direkomendasikan sebagai ahli gempa. Dua tahun bekerja di jalur biasa, ia memutuskan untuk keluar dan membuat usaha sendiri di bidang event organizer. Rupanya keberuntungan belum berpihak padanya karena usahanya sempat gagal. Michael tak menyerah, ia mencari potensi lain yang ada dalam dirinya: fotografi. Ia langsung tahu apa yang disukai, yaitu memotret orang karena ada proses komunikasi di dalamnya. “Karena sebetulnya foto itu melukis dengan cahaya. Jadi gimana sih caranya orang difoto tapi enak diliatnya, gimana caranya kita yang ngontrol. Akhirnya saya latihan dan latihan,”jelasnya.” Ia menjelaskan, kesulitan utama saat bekerja dengan manusia adalah saat orang itu sedang tidak mood difoto. Ia pernah ada di posisi itu. Model yang seharusnya bekerja dengannya mendapatkan tekanan tertentu sehingga tak mau difoto. Semua tim menyerah untuk membujuk, tapi ia sebagai fotografer harus bisa membujuk agar pekerjaan hari itu bisa selesai. “Nah itu peranan saya sebagai fotografer, melakukan pendekatan. Saya harus ada untuk mendukung dia. Jadi dia mau oke, tapi iya sih hasilnya nggak semaksimal kalau dia emang ready difoto,” kenangnya. Mengenai inspirasi, Michael mengatakan ia tidak punya satu fotografer yang dijadikannya sebagai inspirator atau panutan. Ia lebih mengagumi karya foto yang dihasilkan seseorang. Ketika hasil foto indah, pasti ada proses kreatif yang ada di dalamnya. Tak semua foto dari satu orang bisa stabil bagus, itulah alasan ia mengidolakan karya. Justru ia mengagumi karya fotografer Indonesia yang hasilnya tak kalah bagus dari fotografer luar. “Fotografer kita termasuk mendunia di bidang fashion, artistik, atau fine art. Mungkin yang paling populer itu London atau New York. Tapi Indonesia menjadi salah satu di Asia walau ada Jepang dan Cina atau India juga yang bagus” terangnya. Selain memotret manusia, sebenarnya ia juga suka memotret makanan. Alasannya simpel, karena ia suka makan. Prosesnya juga menarik karena piring-piring yang disajikan bisa diatur hingga menghasilkan foto indah. “Begitu selesai difoto, dimakan deh! Haha. Itu nyeni juga sebenernya. Saya ada kegemaran masak, tapi jarang diaplikasikan aja” tuturnya. Ia sempat menekuni kegemaran memotret makanan itu saat mendapatkan proyek dari sebuah restoran yang menyajikan beragam menu. Proyek ini berjalan cukup lama karena menu yang difoto cukup banyak, 160 menu. Jadi, setiap hari ia memotret makanan dan setelah pekerjaan selesai, ia bisa makan-makan bersama timnya. Selain makanan, Michael ternyata juga suka foto otomotif karena hobi. Ada proses mengatur pemotretan yang cukup kompleks di dalamnya. Produk otomotif, menurutnya bersifat bagaikan cermin. Jika seorang fotografer tak bisa mengatasinya, hasil fotonya tak akan bagus. Mengenai itu, ia  juga pernah mendapatkan proyek cukup prestisius dari salah satu produsen motor asal Jepang. “Waktu itu saya belum pernah foto motor. Ternyata saya bisa juga foto motor banyak dalam satu hari. Jadi itu pengalaman baru, pelajaran baru, saya juga bisa. Jadi bukan uangnya, wah itu menurut saya hal ini nggak bisa dipandang sebelah mata sih” katanya. Salah satu proyek foto manusia yang membuatnya bangga adalah pemotretan Raisa. Jadi, saat itu ia bekerja sama denga salah satu majalah. Hasil fotonya dipakai Raisa untuk profile picture selama satu tahun. Ia mensyukuri pengalaman itu sebagai salah satu hal luar biasa juga dalam hidupnya. Semakin lama di dunia fotografi, pria berusia 31 tahun ini menjadi sadar bahwa peran fotografer sangat penting dalam pengerjaan sebuah proyek. Ia jadi belajar bagaimana memperbaiki situasi dan membangun mood sehingga proses berjalan baik. Ia juga jadi tahu apa yang dicari berikutnya: menambah pengalaman dan terus belajar. Saat ditanya apakah ia ingin membuka sekolah, Michael menjawab bahwa perlu kesiapan sebelum hal itu terjadi. “Belum, belum waktunya. Jadi, sekarang fotografer banyak, otomatis pekerjaan itu terbagi menjadi banyak. Mungkin untuk jadi pengajar itu perlu persiapan dan kesiapan, harus ada penjelasan teknisnya bagaimana kalau kita mau membagi ilmu dan pengalaman kita. Saya takutnya pengalaman belum cukup, hehe” jelasnya. Michael Arnoldy tetap ingin melanjutkan karirnya agar menjadi fotografer profesional, bisa menjadi juri atau guru, dan melebarkan sayap ke dunia internasional. Fotografer Asia’s Next Top Model menjadi salah satu keinginannya kini. Goodluck, Michael!