Tugu Kunstkring Paleis: Wujud Romantisme Kuliner dan Seni Masa Lalu

03-03-2016 04:03:27 By Tyas Pamungkas
img

Bangunan tua nan anggun ini berdiri tahun 1914 dan kini sudah memasuki usia 102 tahun. Tapi konstruksi dan penampakannya masih cantik, tak kalah dengan berbagai bangunan modern yang ada di sekelilingnya. Grup Tugu Hotel and Restaurant mengubah tatanan dalamnya menjadi restoran berkonsep seni, baik dari furnitur, berbagai pajangan, dan konsep-konsep ruangan yang ada di Tugu Kunstkring Paleis. Kunstkring berasal dari bahasa Belanda. “Kunst” artinya seni dan “Kring” yang artinya lingkaran. Jadi jika diartikan secara bahasa, Kunstkring adalah lingkaran seni. Konon, inlander (sebutan untuk orang pribumi zaman dahulu) dilarang masuk ke gedung ini. Karena pusat seni, maka berbagai acara seni diselenggarakan di Kunstkring seperti pameran karya Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, Marc Chagall hingga les lukis dilakukan di sini. Ruang pertama yang dijumpai saat memasuki bangunan ini adalah lobi yang memiliki dua sayap, kanan dan kiri. Desainnya bagai ruang tamu di rumah Belanda kuno, berisi berbagai kursi dan meja berbagai bentuk yang ditata sedemikian rupa sehingga tamu merasa nyaman untuk sekadar duduk-duduk. Biasanya, tamu yang duduk di lobi ini memiliki janji bertemu kawan atau kolega di ruangan dalam yang sudah direservasi sebelumnya. Ruang utama yang dijumpai setelah lobi adalah Ruang Diponegoro. Ruangan ini difungsikan sebagai tempat fine dining berkapasitas 85 orang. Disebut Ruang Diponegoro karena di salah satu dindingnya tergantung lukisan berukuran 9 x 4 meter berjudul The Fall of Java yang berkisah tentang detik-detik sebelum Pangeran Diponegoro tanggal 28 Maret 1830 yang hendak dibuang ke Manado karya pemilik Grup Tugu. “Ini adalah lukisan ketiga yang menceritakan kejadian ini. Hanya ingin membangkitkan semangat perjuangan, patriotisme orang Indonesia yang bersantap di sini. Jadi bukan hanya mendapatkan cita rasakulinernya saja, tapi mendapatkan niai tambah tentang warisan budaya yang kita ingin share ke publik,” jelas Rosiany T. Chandra, Public Relation Manager Grup Tugu yang akrab disapa Sian ini. Kalau kamu melihat ke arah kiri saat memasuki Ruang Diponeogoro, ada ruangan yang menarik mata karena dekorasinya yang tak biasa. Ruangan itu adalah The World of Suzie Wong Lounge and Bar yang ditata layaknya bar di Hongkong. Ternyata, inspirasinya memang datang dari novel The World of Suzie Wong karya Richard Mason yang diangkat ke sinema dengan judul yang sama. Novel dan film ini sukses besar, segala properti syuting akhirnya dilelang dan kini berada di lounge Suzie Wong. Jadi, semua kursi, meja, partisi, bahkan becak yang ada di tengah ruangan merupakan properti film klasik tersebut. Selain ruangan fine dining dan lounge, Tugu Kunstkring Paleis juga menyediakan berbagai private room. Salah satunya adalah Ruang Multatuli yang terletak di belakang lukisan The Fall of Java. Ruangan ini banyak digunakan untuk meeting dan makan bersama keluarga dengan kapasitas 14 orang. Seperti namanya, ruangan ini bernuansa salah satu tokoh Belanda, Multatuli, yang memperjuangkan penghapusan sistem tanam paksa. Jadi, berbagai lukisan dan potongan artikel mengenai sosok bernama asli Edward Douwes Dekker ini menjadi sentral dekorasi ruangan.

Ruang Soekarno

Ruang Soekarno merupakan ruangan berkapasitas 24 orang yang ada di lantai dua. Inspirasinya rupanya datang dari sosok Bung Karno, yang dekat dengan seni dan mengoleksi berbagai benda seni. Jadi, di ruangan ini terdapat benda-benda yang berhubungan dengan Bapak Bangsa ini mulai dari foto-foto Soekarno muda hingga potongan artikel dan berita yang berkaitan dengannya.

Bread and Coffee Corner

Ruangan ini bisa diakses dari luar dan menonjol karena bentuknya yang setengah lingkaran. Begitu memasuki ruangannya, tercium wangi kopi dan roti di udara. Bread and Coffee Corner merupakan ruangan yang biasa digunakan untuk duduk-duduk santai tiga hingga empat orang. Selain itu, orang-orang juga biasa bekerja, menulis, atau membaca di tempat ini. Harga kopinya terbilang terjangkau, sekitar 35 ribu untuk secangkir kopi. Selain itu, ada kue yang JakartaVenue rekomendasikan untuk dipesan, yaitu Kue Bluder asli kota kelahiran Bung Karno, Blitar. Roti ini bertekstur lembut dan bisa dihangatkan dulu sebelum disantap. Berbagai kue tradisional khas daerah Indonesia lain juga disediakan di sini.

Grand Betawi Rijsttafel

Keunikan lain Tugu Kunstkring Paleis adalah adanya Grand Betawi Rijsttafel, yang awalnya merupakan  seni penyajian makanan yang berasal dari negeri Belanda. Rijsttafel merupakan tata cara makan penghidangan makanan yang diciptakan orang Belanda dan kini menjadi warisan Indonesia. Tugu Kunstkring Paleis mengadaptasi sistem makan tersebut dengan adat Betawi, mulai dari makanan, musik, hingga tariannya. Pelayan akan datang satu per satu membawa nampan makanan kemudian menarikannya sesuai irama. “Parade ini kita sediakan bisa dipesan orang dengan minimum 5 pax. Makanan yang disajikan seperti sate lembut Betawi, bebek opor, dan soto tangkar. Itu adalah sebuah paket, full appetizer sampai dessert,”kata Sian. Sian juga menjelaskan, awalnya Rijsttafel dihidangkan di Hotel Des Indes, salah satu hotel tertua dan paling prestisius zaman pendudukan Belanda. Sayangnya, kini hotel tersebut sudah tak ada, digantikan oleh pertokoan Duta Merlin di Jl. Gajah Mada. “Kita ingin menghidupkan kembali di sini. Bagian dari usaha kita ingin menghadirkan kembali keindahan masa lalu, keindahan emas, kegemilangan, dan romantisme masa lalu yang hampir dilupakan dan ingin kita hadirkan supaya orang teredukasi juga, kalau kita punya budaya dan tata cara penghidangan makanan,” ujar Sian. Agar tetap melestarikan keanggunan budaya Indonesia, Tugu Kunstkring Paleis tetap difungsikan sebagai pusat seni. Salah satu caranya adalah diadakannya pameran seni tiap bulannya di Art and Performance Hall yang terletak di lantai dua gedung ini. Selain itu, Kunstkring juga menyediakan tempat bagi seniman memamerkan karya di Gallery of Kunstkring. Gallery of Kunstkring berisi benda-benda seni mulai dari karya tenun tradisional hingga patung perak Star Wars yang baru dirilis tahun lalu. Art And Performance Hall merupakan satu ruangan luas yang cocok dijadikan sebagai tempat pameran dan menikmati karya seni. Karya seni yang dipamerkan adalah karya berbentuk besar, seperti lukisan atau karya foto. Tak hanya itu, ruangan ini juga bisa difungsikan sebagai tempat pertunjukkan balet. Selain konsep ruangan dan sejarah yang ada di dalamnya, Tugu Kunstkring Paleis tetap fokus menyajikan berbagai jenis makanan untuk disantap. Makanan yang ada di sini terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Southeast Asia, Western, dan menu Indonesia. Selain itu, ada makanan yang khusus dibuat untuk merayakan hari-hari khusus seperti Imlek. “Kita tetep fokus utama di makanan. Setiap orang yang datang selain liat pameran benda seni juga untuk tujuan kuliner. Jadi kita sangat memperhatikan makanan juga,” tegas Sian. Gedung ini merupakan warisan yang bisa dibanggakan untuk kawasan Menteng. Kepemilikan gedung ada pada Pemerintah Daerah DKI Jakarta, jadi Grup Tugu sejak 2013 hanya mengelola, mendekor, dan merawatnya. Tapi, jika berkunjung ke sini, banyak hal yang bisa didapatkan mulai dari fine dining, high tea, hingga menikmati berbagai karya seni dan mempelajari sejarah Indonesia. Location: Jl. Teuku Umar No. 1, Menteng, Jakarta Pusat Opening hours: Galeri, Restoran, dan Lounge 11.00 AM – 12.00 AM Sabtu dan Minggu: 8 AM – 12 AM