The Astonishing by Dream Theater Album Review

05-02-2016 03:02:44 By Tyas Pamungkas
img

The Astonishing menjadi pembuktian bahwa band rock progresif asal Boston ini mengikuti perkembangan jaman. Musik, visual, dan garis kisah yang disajikan dalam album ketigabelas ini membawa penggemanya ke dimensi lain: perpaduan Hunger Games, Insurgent, The 5th Wave, hingga Game of Thrones dan Star Wars. Album yang rilis 29 Januari 2016 ini berisi 34 lagu sepanjang 130 menit yang dibagi menjadi dua bagian. Tak hanya berisi lagu biasa, ada kisah yang dikembangkan oleh gitaris, John Petrucci sejak tiga tahun silam. Ia ingin membuat sebuah concept album berawal dari premis “What would happen if with all the advances in technology that music [became] all artificial?”. Didukung 100 persen oleh label Roadrunner, Petrucci langsung mengerjakan album dibantu oleh pemain keyboard Jordan Rudess dan komposer David Campbell yang bertanggung jawab dalam aspek orkestra. Dikisahkan pada tahun 2258 ada sekelompok pemberontak di The Great Northern Empire, dipimpin oleh Arhys dan Gabriel, melawan pengusasa bernama Lord Nafaryus. Arhys berperan sebagai pimpinan, sedangkan Gabriel berperan sebagai Sang Terpilih, memanfaatkan kemampuannya bermain musik sebagai strategi perang. Ia kemudian jatuh cinta dengan anak gadis penguasa, Faythe. Kisah berlanjut dibumbui intrik kecemburuan saudara, ibu yang penyayang, anak-anak kecil, hingga grup paduan suara yang memiliki suara indah. Semua kisah ini bisa dinikmati dengan mengakses laman resmi Dream Theater yang dilengkapi gambar pendukung untuk membangkitkan imajinasi. Lirik disajikan dalam 31 halaman dalam format screenplay untuk memandu pendengarnya memasuki negeri Empire. Musik disebutkan datang dari mesin bernama NOMACS, memberikan bayangan akan musik di masa depan. Dalam wawancaranya dengan The Huffington Post, Petrucci mengatakan bahwa konsep tur dunia yang akan mereka lakukan akan berbeda dari tur sebelumnya. Melahirkan concept album berarti harus meleburkan diri di semua performa. Ia menjanjikan hal spektakuler dalam rangkaian tur tahun ini, yang akan dibuka 14 April 2016 di Quebec City Theatre du Capitole. “But this time, you know, I wanted to do things different. Instead of doing that, I thought, let's book this tour in all really nice, prestigious, sit-down concert halls and venues all over the world where we can sit there and, in some instances, as in Europe, for two or three nights in the major cities and have a special event that people can come to and sit down and enjoy this,”ucap Petrucci. Seratus dua puluh sembilan menit, pendengar album ini menyajikan berbagai lagu yang akan lekat diingat, seperti “Moment of Betrayal”, “The Gift of Music”, “Dystopian Overtune”, “Chosen”, dan “A New Beginning”. Album ini lebih kompleks daripada Metropolis Pt. 2 atau Six Degrees of Inner Turbulence. Kekuatan vokal James LaBrie bisa membawa perubahan suasana yang ditemukan dalam tiap lagunya, belum lagi hasil kerja komposer David Campbell yang luar biasa. Tak hanya menawarkan single, Dream Theater kali ini menawarkan keseluruhan album untuk didengarkan secara utuh. The Astonishing menjadi salah satu album terbaik mereka, setelah lebih dari 30 tahun berkarya. https://youtu.be/B3YdzMy593Y