Menikmati Humor Klasik dalam Pementasan ‘Nyonya Nomor Satu’

02-12-2015 11:12:50 By Tyas Pamungkas
img

Pementasan ‘Nyonya Nomor Satu’ yang digelar 27-28 November 2015 di Grha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki mengingatkan penontonnya akan kejayaan Kelompok Komedi Stamboel. Kisah para primadona yang dulunya mampu menghibur penonton dengan kecantikan, kemahiran akting, menari, hingga menyanyi patut dikenang dan diapresiasi bagi generasi seniman selanjutnya. Teater ini berkisah tentang kelompok tonil/stamboel yang mulai bangkrut. Para bintang lama di kelompok itu mulai gelisah, karena kini mereka bagai monumen kenangan. Padahal, mereka tetap ingin eksis di dunia hiburan panggung. Di tengah situasi yang menggelisahkan, muncul mantan pemain kelompok Stamboel Komedi yang dulu hanya bermain di peran kecil, namun kini telah kaya raya dan menganggap dirinya sebagai ‘Nyonya Nomor Satu’ (Yu Ningsih). Nyonya ini selalu ingin menjadi yang utama dan primadona. Ia kemudian mau kembali menghidupkan kembali kelompok kesenian itu dengan satu syarat: menjadi pemeran utama. Dengan kekayaan yang dimilikinya, ia merasa bisa mengatur segalanya, termasuk crita dan lakon yang akan dipentaskan. Padahal, ada calon primadona (Happy Salma) yang lebih disukai dan diharapkan menjadi bintang. Persaingan pun dimulai, hingga akhirnya terbongkarlah rahasia yang selama ini ditutupi. Kekuatan akting pemainnya, dipadukan dengan komedi-komedi satir klasik dan permainan musik Orkes Sinten Remen mampu menghidupkan suasana. Belum lagi penampilan khusus dari Koes Hendratmo dan Titiek Puspa beserta Duta Cinta di sela-sela pementasan, makin mengingatkan pentingnya bintang di masa lalu yang teryata masih bisa menjadi bintang di masa kini. Salah satu hal penting yang tidak bisa ditinggalkan dari pementasan teater ‘Nyonya Nomor Satu’ adalah kemampuan Trio GAM (Guyonan Ala Matraman), Susilo Nugroho, Cak Lontong, dan Akbar dalam meramu komedi dalam panggung. Mereka membawakan humor ‘jadul’ dan terkesan ‘jayus’, namun penonton tetap terbahak-bahak dibuatnya. Belum lagi kehadiran komedian senior Tarzan, yang membuat penonton seolah menonton Srimulat. Agus Noor, salah satu tim kreatif ‘Nyonya Nomor Satu’ menyatakan bahwa kini tengah tumbuh penonton yang merindukan alternatif tontonan. Ada semangat dan kecintaan, hasrat, kerinduan juga keyakinan bahwa pertunjukan-pertunjukan yang bagus harus terus diupayakan dan didukung. “Kota yang bisa membuat warganya cepat gila seperti Jakarta ini memang mestinya membutuhkan tontonan yang “membebaskan dan mencerdaskan”. Tapi, pada sisi lain, pentas-pentas yang mampu memenuhi hasrat dan kerinduan penonton akan hiburan berkualitas juga tak bisa diabaikan. Antara pertunjukan dan penonton mesti sebuah ada ikatan, yang membuat keduanya terus saling bersinergi,” ujar Agus. Happy Salma berpendapat bahwa seni teater selalu memberikan tantangan tersendiri baginya, karena tidak mudah untuk berakting isu-isu aktual di masyarakat dan menampulkannya dalam seni pertunjukan yang memukau. “Karena itu saya selalu antusias untuk ikut pementasan yang digelar oleh Indonesia Kita,” ujarnya.