Bersiap Menghadapi MEA di Festival IYC 2015

02-12-2015 11:12:09 By Tyas Pamungkas
img

Indonesia Youth Conference (IYC) memasuki tahun keenam. Konsep Festival IYC yang diusung tahun ini lebih segar karena anak-anak muda disiapkan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Beragam pembicara lintas bidang dihadirkan dan berbagi pengalaman serta strategi untuk menghadapi MEA. Sabtu (28/11) menjadi hari anak muda untuk mempersiapkan diri menghadapi MEA melalui Festival IYC 2015. Upper Room di Annex Building, Wisma Nusantara dipenuhi anak muda beragam latar belakang, usia, dan minat untuk berinteraksi. Mereka antusias berpindah-pindah ruangan untuk mengikuti berbagai seminar yang diadakan. MEA dianggap penting karena Indonesia adalah negara dengan tingkat ekonomi paling besar di ASEAN. Anak muda merupakan sumber daya manusia yang harus disiapkan untuk bersaing di dunia internasional. Acara yang diselenggarakan oleh Sinergi Muda ini menjadi wadah anak muda agar dapat bersama mempersiapkan diri, menggali potensi, serta mampu peka terhadap kondisi di sekitarnya. Semua isu itu dikemas dalam tagline ‘KITA SIAP’. “Lewat Festival IYC, kami ingin anak muda Indonesia bisa mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk dapat berani mengembangkan diri dan potensi. IYC ingin isu MEA menjadi suatu hal yang akrab, dekat, serta ringan dibicarakan oleh semua kalangan, khususnya kalangan muda.

Media: Sarana Pengembangan Isu
Muhammad Farhan, salah satu pembicara sesi Media & Jurnalisme mengatakan ia mengapresiasi inisiatif anak muda yang berupaya menyelenggarakan Festival IYC. Kegiatan tersebut dianggapnya sebagai aksi positif sehingga harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam sesinya, ia berbagi pengetahuannya mengenai media yang bisa dijadikan sebagai sarana pengembangan isu, tapi harus digunakan secara hati-hati. “Media sosial adalah sarana pengembangan isu. Tapi, hati-hati karena bisa jadi sarana membesarkan masalah yang seharusnya tak besar,” ujarnya. Ia kemudian mencontohkan beberapa hal negatif yang disebar melalui berbagai media sosial dan dipercaya masyarakat. Hal-hal negatif tersebut kemudian menimbulkan perpecahan dan konflik, padahal informasi yang tersebar bukan dari sumber yang terpercaya. Pangeran Siahaan, yang dikenal biasa membicarakan masalah politik dan olahraga di media sosialnya juga sependapat dengan Farhan. Akun-akun anonim kini sudah serius menyebarkan informasi yang tak jelas sumbernya, maka anak muda harus terus belajar skeptis dan mau melakukan verifikasi atas kebenaran. Sesi Creativepreneur tak kalah seru. Dimoderatori Kresna Julio, isu creativepreneur membahas dunia film yang ternyata bisa dijadikan sebagai ladang usaha. Sesi ini menghadirkan para sound engineer yang berbagi ilmu mengenai teknik pengambilan suara dalam produksi film dan cara mengembangkannya menjadi sebuah profesi. Setelah sesi seminar selesai, peserta diminta untuk berkelompok dan membuat film pendek mereka sendiri di area Festival IYC 2015. Sesi lain yang diselenggarakan di Festival IYC 2015 adalah ekonomi, pendidikan, sains & teknologi, financial planning, pariwisata, politik, kepemimpinan, dan personal branding. Semua peserta bisa masuk ke area seminar sesuai minat yang disukai. Selain itu, ada juga pemutaran film indie karya anak muda Indonesia, bazaar, dan pertunjukan musik dan kebudayaan.