Alexander Thian: “Enjoy the Moment, It Matters!”

30-10-2015 11:10:38 By Tyas Pamungkas
img

Perbincangan JakartaVenue dan Alexander Thian terjadi beberapa waktu lalu di sebuah kafe bilangan Senopati. Kami duduk di meja samping jendela, mengobrol hangat ditemani segelas es teh manis. Ia berkisah mengenai kebiasaanya melakukan impulsive travelling, proses kreatif saat memotret dan menulis, dan proyek buku barunya. @aMrazing, ia dikenal oleh followersnya di Twitter dengan nama itu. Menjalani kehidupan profesional sebagai pekerja digital agency, tapi punya pekerjaan lain yang cukup ajaib: impulsive traveller. Ia suka sekali berbagai pengalamannya saat mengunjungi berbagai tempat di dunia dan tak takut membagikannya dalam bentuk foto atau tulisan. Alasannya sederhana: karena dia pelupa. Alasan itulah yang membuatnya tak pernah berhenti membagikan banyak foto-foto dari berbagai penjuru dunia untuk dinikmati bersama, mengingat setiap momen yang telah ditemui. Alex bercerita, kesukaannya akan travelling mulai sejak kecil. Ia harus melakukan perjalanan dari Pontianak ke Jakarta dengan kapal laut, kemudian melanjutkan perjalanan ke Malang sendiri menggunakan bus. Sejak itulah ia jatuh cinta dan memutuskan untuk sering bepergian. “Sampai di lokasi, gue bengong dulu biasanya. Apalagi kalau pemandangannya luar biasa gila, gue akan bengong dulu ngeliatin, abis itu baru deh motret. Keliling dulu cari angle yang enak baru foto-foto. Ya, selalu motret, karena aku pelupa banget anaknya,” ujarnya. Walau terbiasa membagikan pengalamannya baik dalam bentuk tulisan atau foto, ternyata tak semua ia posting di media sosialnya. Terlalu berharga, begitu katanya. Alex pernah berada di suatu tempat di Australia, pukul dua pagi ia memutuskan untuk duduk di teras hotel dan mengagumi keindahan bintang yang luar biasa banyaknya. Hanya satu foto yang ia ambil untuk mengabadikan momen. Sisanya? Ia berbaring dan mengagumi langit hingga pagi menjelang. “Terus pas di Bali, aku diajak ke sana untuk review hotel. Dikasih kamar yang rate­­-nya mungkin 11 juta permalem.  Di malem kedua pengen liat milky way. Akhirnya, gue bawa selimut, oke…gue bawa handuk di kamar, gue bawa satu buku, senter, tripod, kamera, gue tiduran dulu. Dalam hati gue mikir ‘Gila yah, punya kamar oke minta ampun tapi gue tidur di sini. Hahahaha…”, kata pria yang baru-baru ini meluncurkan novel fiksi pertamanya.

Menulis, Cara Lain untuk Mengingat

Selain jatuh cinta pada dunia fotografi, Alex juga suka menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan, baik di blognya maupun menjadikannya buku. Alasannya sama seperti mengapa ia jatuh cinta pada fotografi: menjadi caranya untuk mengingat. Buku fiksi pertamanya berjudul Somewhere Only We Know telah terbit dan mendapat respon cukup baik. “Sebenernya gue ga pernah bikin novel fiksi. Ketika bikin novel fiksi pun sebenernya ada cerita non fiksinya, karena ini terinspirasi dari orang yang gue kenal. Idenya dari temen-temen gue, cerita mereka terlalu luar biasa akhirnya gue memutuskan untuk menjadikannya kisah fiksi,” ujarnya. Dua tahun Alex habiskan untuk mengamati kehidupan teman-temannya seperti Jenny Jusuf dan Rahne Putri karena ia membutuhkan pemahaman terhadap perempuan kala jatuh cinta dan dihadapkan pada sebuah pilihan. Semua itu karena sudut pandang yang ia gunakan dalam bukunya merupakan sudut pandang orang pertama. Tak hanya menceritakan perempuan, ia juga mengemas sudut pandang laki-laki dalam kisahnya. “Ceritanya adalah tentang kakak adik yang berbeda banget, sifatnya 180 derajat, mereka mencari sebenernya ‘Am I worthy for love?’. Orang sering mensabotase kebahagiaannya sendiri. Jadi ketika semua berjalan terlalu mulus, you’ll start questioning yourself, pasti ini abis ada kejadian ga enak, pesimis duluan. Padahal, why you don’t just enjoy the moment, at the end it matters,” tutur pria kelahiran 5 Februari 1982 ini. Kini, ia tengah mempersiapkan buku terbarunya, sekuel The Not So Amazing Life of @aMrazing. Buku ini akan berkisah mengenai kehidupannya sebagai penulis skenario. “Akan ada banyak sekali gosip soal artis, hahahaha. Artis yang rese, produser yang lo harus bikin ini, gue ga peduli kalo lo nyontek. Ini ga perlu research lagi, karena udah gue alami,” katanya.

Quickie Question

Kafe favorit? 1/15! Bar favorit? Nggak ke bar, hehe. Hotel favorit di Jakarta? Nggak ada! Hahahahaha Barber shop? Gue selalu ke Headquarter Senayan City lantai 4 Tempat tattoo? Ini sama temen dari Jogja. Jadi impor gitu, temen gue nato di rumah, hahahaha.