Andien Metamorfosa: Glamor dalam Kesederhanaan

17-09-2015 05:09:40 By Tyas Pamungkas
img

Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar bagi solois Andien yang dikenal dengan suara dan musiknya yang lembut. Konser bertajuk Andien Metamorfosa yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (15/9) itu menjadi bukti bahwa dirinya telah berkembang menjadi penyanyi yang lebih matang. Konser yang dimulai sekitar pukul 08.32 itu diawali dengan Andien yang membawakan lagu ‘Aku di Sini Untukmu’ setelah sebelumnya suara Andien menyapa penonton dilanjut langgam macapat Jawa . Penampilan pertamanya malam itu mengundang decak kagum penonton, karena perempuan kelahiran Jakarta 30 tahun silam ini terbelit kain biru bertabur kristal bersama penari latarnya. Vokal yang dibawakan ringan, namun terdengar kuat. Ia tak hanya bernyanyi, tapi juga berkomunikasi dengan para penonton, menceritakan awal kesukaannya bernyanyi, dan bercanda dengan bintang tamu lain. Penampilan sepanjang dua setengah jam ini menjadi lebih intim karena Andien ternyata mampu juga melontarkan sindiran-sindiran satir mengenai kondisi sosial saat ini dan mengemasnya seolah ia adalah comic di atas panggung. Misalnya saat lagu karya Titiek Puspa yang berjudul ‘Bimbi’ dibawakan, ia menyahuti lirik “Bimbi nama seorang gadis, sederhana tapi manis…” dengan “Emang masih ada yang manis tapi gadis” atau “Bimbi tak ingin kenal lagi saudaranya…” ia membalasnya dengan “Lupa kampung gak apa-apa, tapi kalau habis selinguh jangan lupa clear chat! yang mampu membuat penonton terbahak-bahak geli. Di Metamorfosa, Andien berusaha memuaskan penggemar dengan mendatangkan lima nama bintang untuk menemaninya di atas panggung yaitu Teza Sumendra, The Cash, Yovie Widianto, Llyod Pop + Jevin Julian, dan G.A.C. Walau demikian, konser ini tetap menjadikan Andien sebagai bintang utama dengan primanya penampilan dan pakaian yang dikenakan. Pakaian menjadi aspek penting dalam Metamorfosa karena Andien juga menggandeng lima desainer terkenal untuk merancang wardrobe yang dikenakannya selama konser. Tak tanggung-tanggung, nama besar Didi Budiarjo, Sapto Djojokartiko, Mel Ahyar, Danjyo Hiyoji dan Nefrin Fadlan sebagai perancang sepatu ditambah Rinaldi sebagai perancang aksesori rambut. Pakaian-pakaian indah, gemerlap, namun unik membuat visual penonton termanjakan. Selain bintang tamu dan visual, aspek musik pun tak ketinggalan. Lima music director dilibatkan, yaitu Nikita Dompas, Ali Akbar, Aghi Narotama, Dandy Lasahido dan Rishanda Singgih. Wajar saja jika kualitas musik yang dibawakan tak setengah-setengah karena kelimanya sudah begitu berpengalaman di dunia musik Indonesia. Lagu yang ia bawakan adalah ‘Rindu Ini’, ‘Bernyanyi Untukmu’, ‘Milikmu Selalu’, ‘Saat Bahagia’, ‘Pulang’, ‘Teristimewa’, ‘Gemintang’, ‘Satu yang Tak Bisa Lepas’, ‘Valentine’, ‘Menjelma’, ‘Bisikan Hati’, ‘Detik Tak Bertepi’, ‘Selamat Jalan Kekasihku’, ‘Let It Be My Way’, ‘Meniti Pelangi’, ‘Sahabat Setia’, ‘Moving On’, dan ‘Akankah Mungkin’. Bertabur bintang, baik di panggung maupun kursi penonton. Itulah yang bisa ditangkap dari Metamorfosa ini. Tapi, kekontrasan muncul dari panggung yang hanya berbahan tripleks tanpa cat. Bentuknya memanjang dengan sedikit tonjolan di beberapa sudut. Latar belakangnya pun hanya dinding lengkung putih yang diisi gambar-gambar dari proyektor. Andien mengatakan dalam kalimat pembukanya bahwa memang hal itulah yang ia inginkan. "Konser ini adalah gambaran dari saya, saya ingin menunjukkan ketidaksempurnaan saya, lihat saja panggungnya. Saya sengaja yang minta untuk panggungnya tidak dicat, saya deg-degan di atas panggung, pokoknya panggung tidak boleh terlihat. Inilah sifat absurd saya, silahkan menikmatinya malam ini," katanya. Walau kursi penonton hampir penuh, konser ini terkesan tenang dan tak gegap gempita. Mungkin karena karakter dan lagu Andien yang lembutlah yang membuat penonton malu-malu kala diajak singalong. Saat encore dibawakan, penonton juga tetap anteng tak berteriak “We wan’t more” seperti kebanyakan konser lain. Beberapa dari mereka juga memilih pulang saat penampilan belum usai, mungkin karena masih harus bekerja keesokan harinya. Namun demikian, dedikasi Andien yang dikemas dalam Metamorfosa ini patut diapresiasi. Ia bukan lagi gadis belia yang hanya bisa bernyanyi di hadapan saudara-saudaranya. Ia adalah Andini Aisyah Haryadi, perempuan dewasa yang memiliki bakat bernyanyi asuhan Elfa Secioria dan telah menelurkan enam album sejak pertama debutnya. Ia berani berdiri sendiri di hadapan penonton, tanpa ragu bernyanyi, bergerak riang dalam suguhan musikal yang menarik hati. Photo by Seto Ery