AYCIF 2015: Pameran Kreativitas dan Pertukaran Budaya di Kota Tua

01-09-2015 02:09:25 By Tyas Pamungkas
img

Kreativitas anak muda berbagai bidang terus maju dan berkembang. ASEAN Youth Creative Industry Fair (AYCIF) 2015 menjadi buktinya. Sabtu siang (29/8) yang terik itu tak menghalangi gelombang anak muda memasuki kawasan Kota Tua Jakarta yang menjadi lokasi AYCIF 2015. Mereka antusias mengikuti beragam acara yang ditawarkan, mulai dari AYCIF Seminar, AYCIF Fashion Show, AYCIF Movie Screening, AYCIF Music, dan AYCIF Games Trial. Lapangan di depan Museum Sejarah Jakarta pun dipadati pengunjung yang berbelanja beragam kerajinan, produk fashion, dan produk kreatif lainnya di AYCIF Creativepreneur Showcase. Uniknya, tak hanya anak muda Jakarta yang berada di kawasan Kota Tua baik sebagai peserta maupun pengunjung. Mereka berasal dari berbagai negara di kawasan ASEAN seperti Kamboja, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Bahkan, anak muda Jepang juga turut serta meramaikan acara ini. Belum lagi para wisatawan dari negara di Amerika, Australia, dan Eropa yang ikut berkeliling menikmati sajian kegiatan. Bisa dikatakan, AYCIF 2015 sukses menggabungkan berbagai kreativitas dari berbagai kebudayaan. JakartaVenue berkesempatan menyaksikan fashion show dari 18 desainer ASEAN yang menampilkan finalis AYCIF Fashionpreneurship Competition. Diselenggarakan di Fashion Doom Museum Keramik dan Seni Rupa, mereka memamerkan kemampuan terbaiknya dalam merancang pakaian dan sepatu dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing. Misalnya koleksi Kekean by Ahmad Nurhasyim yang menampilkan pakaian bernuansa tradisional dengan warna-warna alam. Pakaian tradisional yang biasanya identik dengan acara adat bisa dibawa ke ranah modern dengan potongan yang sederhana namun tetap terkesan elegan. Penonton dibuat terkagum-kagum dengan kreativitas anak muda satu ini. Tak hanya berasal dari Indonesia, finalis AYCIF Fashionpreneurship Competition ini juga berasal dari negara ASEAN lain seperti Monique Wardobe dari Kamboja, Simon Sister, 31 THANWA, PASU, dan SARRAN dari Thailand, juga Michaele and Stellars dari Brunei Darussalam. Hasilnya, beragam model pakaian, aksesoris, dan sepatu bermunculan, tak kalah dengan desainer profesional lain. Ketika melangkah ke kawasan Creativepreneur Showcase di lapangan Museum Sejarah Jakarta, ratusan booth berjejer memamerkan beragam produk fashion, mulai dari pakaian, tas, aksesoris, dan kerajinan berbagai material dan bentuk. Mata serasa dimanjakan dengan energi kreatif yang tak habis-habis. Misalnya Loom Avenue yang berasal dari Kamboja yang menawarkan produk berbahan sutra dengan motif tradisional dan dibuat oleh perempuan-perempuan desa di negeri aslinya. Walau sekilas mirip dengan motif tradisional Indonesia, mereka tetap memiliki keunikan tersendiri dari warna dan motifnya. Chomnab HO, Managing Director Loom Avenue mengatakan bahwa produknya merepresentasikan kemampuan para perempuan di daerah terpencil di negaranya. Pola dan warna yang muncul juga menggambarkan keaslian tradisi Kamboja. Ia juga merasa senang bisa berpartisipasi dan berinteraksi dengan sesama anak muda kreatif lain dari berbagai negara di AYCIF 2015. “When I’m going around I see different product and material. Our product made from silk, another product made from another material and skill. People pass by and see our product as well,” ujarnya. Selain produk sutra dari Kamboja, ada juga produk dari Gammara yang menjual berbagai tas kulit sapi dan kerbau dengan bentuk unik dan jahitan yang rapi dengan nama-nama produk dari wilayah Sulawesi. Gammara sendiri dalam bahasa Makassar diartikan sebagai “bagus”. Gina Adityalugina, CEO Gammara menjelaskan bahwa pengunjung asing tertarik untuk mampir ke booth mereka, karena harga produk berkualitas sama yang ditawarkan ternyata lebih murah dibandingkan di negara mereka. Produk berbahan kulit yang selama ini dianggap mahal ternyata tidak relevan lagi. “Kalo mahal itu relatif ya, ada kualitas dan range harga yang berbeda. Kalo customer sudah tahu kualitas kulit dan jaitannya, harga itu akan terasa seimbang dengan kualitasnya. Mereka akan mudah menerimanya. Kalo soal perawatan, sekarang sih banyak leather care jadi gampang aja ngerawatnya,” ujar Gina. Acara ini bisa dikatakan sukses dengan persiapan yang cukup lama, hampir setahun. Berbekal dana dari pemerintah Jepang, anak muda dari UKM Center UI akhirnya menggandeng beberapa partner seperti Akusara Production sebagai event organizer, lingkaran.co di sektor seminar, dan localbrand.co.id untuk partner bazaar. Semua partner itu berasal dari kalangan muda untuk mensukseskan acara ini. “Total seminar kita ada lima, ada subsector games, fashion, craft, dan general seminar dari Line dan Twitter tentang creative thinking. Kita juga ada games trial dan movie room juga berasal dari production house anak muda yang mamerin produknya. Itu sih, kita nggak expect bakal segede ini, tapi ya jadinya gede juga ternyata, alhamdulillah,” jelas Pierre Steffen, Vice Project Director AYCIF 2015. Pengunjung yang hadir pun kebanyakan sudah menjadwalkan akan datang berkat publikasi yang ada. Jadi, mereka bukan sekadar mampir, tapi sudah berniat ingin menikmati sajian acara, baik dari Creativepreneur Showcase maupun AYCIF Music. Misalnya Ika dan Soko yang datang dari Jakarta Timur dan Cibubur. “Kalo saya tau dari Instagram soalnya banyak stand kreatif dari berbagai negara di seluruh ASEAN dan Jepang. Pengen liat barang-barang unik dari berbagai negara aja sih, dan emang karena suka juga,” kata Soko kala ditanya motivasinya datang ke AYCIF. Ika juga mengatakan datang ke acara ini karena dia tertarik dengan band yang tampil, Elephant Kind. Selain itu, acara yang gratis tapi kreativitas yang ditawarkan tak main-main juga menjadi pemicunya untuk bergabung bersama ratusan orang lain walau panas itu sangat terik. “Saya dukung dan senang banget sama acara ini. Ini baru di Jakarta dan ngegabungin creative industry sebesar ini. Saya antusias dan ngedukung juga. Semoga di taun-taun mendatang bisa banyak acara kayak gini lagi diadain di Jakarta,” ujar Soko sambil tersenyum lebar.