Datuk Bagindo Presiden: Mencari Bapak Bangsa Asal Tanah Minang

31-08-2015 07:08:59 By Tyas Pamungkas
img

Sabtu malam (29/8) lalu, Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki dipenuhi pengunjung. Mereka menantikan penampilan Jajang C. Noer, Fadhli Wayoik, Lukman Sardi, Nirina Zubir, dan Cak Lontong dalam Pentas Teater Datuk Bagindo Presiden. Saat tirai dibuka, tepuk tangan berkumandang memenuhi ruangan. Ian Antono muncul di panggung dengan permainan gitarnya yang memukau. Kisah dibuka dengan munculnya pemimpin baru asal tanah Minang (Fadhli Wayoik). Ia adalah presiden yang jujur, memiliki integritas, dan nilai kepemimpinan yang tegas. Tak lama setelah ia dilantik, berbagai macam orang berputar di sekelilingnya mengharapkan kekuasaan. Ada yang ingin menjadi juru bicara presiden (Insan Nur Akbar), ada yang ingin menjadi Menteri Utama (Cak Lontong), dan ada pula sekelompok wartawan yang akhirnya ditawari kekuasaan (Trio GAM). Berbagai saran yang mengutamakan kepentingan pribadi bermunculan dan membuat presiden kebingungan, muncul sosok Lukman Sardi, yang hanya menatap sedih di kejauhan. Sosok itu hanya bisa dilihat oleh presiden saja, membuat presiden ingin pulang ke kampungnya di tanah Minang. Akhirnya, presiden beserta rombongan pulang ke tanah kelahirannya, bertemu ibunda (Jajang C. Noer) dan Nirina Zubir yang tertarik ingin menjadi pendampingnya. Di kampung, presiden yang diberi gelar tambahan “Datuk Bagindo Presiden” ini melihat kenyataan bahwa stafnya ternyata tak bekerja dengan baik karena masih ada kesenjangan sosial terjadi. Respon ibunya pun tak antusias, karena menjadi presiden saja tak cukup jika masih ada kekurangan di masyarakat. Di situlah sosok Lukman Sardi yang memerankan Bung Hatta muncul. Ia memberikan nasihat-nasihat mengenai kepemimpinan dan kepandaian mengatur negara agar bisa menyejahterakan rakyatnya. Walau agak panjang, monolog Lukman Sardi ini bisa diresapi baik-baik oleh presiden dan penonton. Ia dengan cermat memerankan sosok bapak bangsa, tak terlihat dibuat-buat. Pentas teater ini merupakan angin segar di dunia hiburan tanah air. Pesan yang dibawa, yaitu kemampuan orang Minang dalam memimpin dan menjadi bapak bangsa bisa menjadi inspirasi anak muda asal Sumatera Barat. Pentas yang dimotori Butet Kartarejasa, Agus Noor, dan Bre Redana ini juga ingin menyampaikan pentingnya persaudaraan antar suku dan budaya yang ada di Indonesia dalam ranah kepemimpinan. Akting segar penuh humor dan sindir satir terhadap kondisi Indonesia kini pun sukses dibawakan aktor dan aktris yang berlaga di panggung. Belum lagi penampilan spesial tim Sa’andiko dan Rancak Voice dipadukan musik yang ditata oleh Yaser Arafat berhasil membangun suasana lebih hangat dan bergairah. Memang ada beberapa kalimat dalam bahasa Minang yang tak dimengerti oleh semua penonton, tapi kemampuan Cak Lontong dan Trio GAM dalam menjembatani perbedaan budaya ini patut diapresiasi. Sosok jujur, adil, dan berintegritas asal Sumatera Barat sesungguhnya masih ada di Indonesia. Semua ini berkat kultur berpikir dan kebiasaan merantau dari orang-orang Minang. Apalagi dengan banyaknya sosok bapak bangsa dari sana, seperti Bung Hatta, Tan Malaka, Haji Agus Salim, atau Sutan Syahrir yang memiliki kearifan yang bisa menjadi contoh. Semua pesan baik ini dikemas dalam pertunjukan modern penuh dialog, tari, musik, dendang, pantun yang sebenarnya merupakan seni tradisional. Seperti kata Butet Kertaredjasa dalam pengantar sebelum teater dimulai, “Penonton telah hadir untuk menjalankan ibadah budaya,” seperti itulah juga pementasan Datuk Bagindo Presiden berlangsung. Penonton benar-benar dibawa ke dimensi lain yang membuat semua berkaca sudah sejauh mana negeri ini berjalan, dan seperti apa bangsa ini akan dibawa di masa yang akan datang.