Popcon Asia 2015: Pesta Kreativitas Kaum Muda

10-08-2015 10:08:17 By Tyas Pamungkas
img

Ajang Popular Culture Convention atau Popcon Asia 2015 yang berlangsung selama tiga hari, 7 hingga 9 Agustus 2015 menjadi pembuktian bahwa karya kreatif dari pekerja kreatif tak bisa diremehkan. Jakarta Convention Center (JCC) menjadi saksi ribuan anak muda berkumpul untuk melihat karya para kreator, mengikuti workshop kreatif, mengikuti seminar mengenai industri kreatif, hingga memberikan karyanya untuk di-review oleh produsen, penerbit, atau agen. Menakjubkan! Konsep Popcon Asia 2015 kental dengan nuansa galaksi sejak pintu masuknya. Pengunjung disebut “Cosmonaut” yang dibekali buku bernama Cosmodex, berisi panduan Popcon Asia yang dibedakan per harinya, lengkap dan detail termasuk denah area pameran dan jadwal kegiatan. Area pameran disebut “Creative Galaxy”, dibagi menjadi beberapa area dengan nama unik, misalnya “Green Planet” untuk media, “Red Moon District” untuk area komik, ilustrasi, dan animasi, “Blue Satellite” untuk area film dan arena board game, dan “Toysmonaut HQ” untuk area mainan, pakaian, dan official merchandise. JakartaVenue sendiri dijuluki “Nebula News”. Menarik sekali! Festival yang telah berlangsung untuk keempat kalinya ini diharapkan mampu mempertemukan pekerja kreatif dengan industri yang lebih besar. Misalnya dari Perancis, Malaysia, dan Korea Selatan. Misalnya Lolo, seorang komikus asal Solo yang menjadi exhibitor di Popcon Asia untuk pertama kalinya untuk launching serial komik berjudul “BIRU”. Komik yang dibuatnya ini memiliki tokoh modern namun tetap memiliki kisah yang memiliki nilai tradisional masyarakat Indonesia. Dalam ajang Popcon Asia, Lolo didatangi beberapa penerbit, salah satunya Mapple Comic dari Malaysia yang mengajak bekerja sama. Komikus Sweta Kartika yang terkenal dengan karyanya “Grey dan Jingga” dan “Nusantaranger” menegaskan bahwa acara ini memang harus dimanfaatkan oleh para kreator muda agar mengerti kondisi pasar dan memiliki ciri khas karena saingan makin banyak. Ia menyatakan bahwa tantangan kreator di masa sekarang lebih berat. Ajang ini juga bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan pekerja kreatif lintas bidang agar makin menambah wawasan. “Dulu pas saya awal-awal bikin kan masih sepi tuh, belum terlalu rame. Sekarang karena udah rame karena udah punya banyak saingan. Untuk bisa sampai titik seperti saya sekarang ya harus tetap disiplin dan menghasilkan karya yang bagus. Mungkin itu poin yang harus diadaptasi oleh komikus muda biar sampai titik yang sama,” ujar Sweta yang juga melakukan launching karya terbarunya, Pusaka Dewa Jilid II pada ajang ini. Ada hal yang menarik di Artist Alley di area Red Moon District Popcon tahun ini, yaitu kehadiran Indozu, sebuah perkumpulan karakter-karakter lucu dengan hewan asli Indonesia sebagai tokohnya. Foundernya adalah Brandon, ekspatriat konsultan hukum PBB asal New Zaeland yang bekerjasama dengan desainer Gunawan Lo. Ia mengenalkan hewan-hewan asli Indonesia seperti tapir, kura-kura, garuda, dan hanoman dengan bentuk yang fun dan lovable. “Ini cuma karena papa saya dokter hewan dan dari kecil saya sudah cinta sama hewan dan binatang. Indonesia sebenernya jadi number one dangerous species in the world, di Indonesia orang nggak tahu. Kalo mereka nggak menjaga, bakal hilang,” ujar Brandon yang berharap karakter asli Indonesia ini bisa punya nama juga di luar negeri. Industri kreatif tak berhenti pada komik, ilustrasi, atau sketsa. Film menjadi bentuk industri kreatif yang mendapatkan tempat di acara ini. Popcon Asia mengenalkan sekuel film Filosofi Kopi Movie: Ben&Jody pada hari pertama, talkshow film Ada Apa Dengan Cinta 2 dan launching film Valentine dari Skylar Comics pada hari kedua, dan talkshow film Negeri Van Oranje di hari ketiga. Booth film juga tak mau kalah meramaikan dengan adanya booth rumah produksi Falcon, Film I Am Hope, Filosofi Kopi, Hari Film Nasional, dan Layaria.