Up Close Interview With Karina Salim

08-08-2015 02:08:43 By Tyas Pamungkas
img

Ramah, cantik, dan cerdas. Begitulah kesan yang  kala bertemu Karina Salim. Sosok ini mulai menjadi sorotan sejak aktingnya di Teater ONROP! karya Joko Anwar lima tahun lalu. Padahal, ia sudah lama menekuni dunia performing arts sebagai pebalet klasik. Kini, ia mengembangkan potensinya sebagai aktris dan penyanyi. Film berjudul “What They Don’t Talk About When Talk About Love”di mana ia turut berperan menjadi satu-satunya film Indonesia yang diputar di Sundance Film Festival. Selain itu, ia tengah menekuni dunia tarik suara karena menyanyi ternyata menjadi mimpi masa kecilnya. Dengan adanya kesempatan, ia mengeluarkan single “Dalam Hati Saja” yang merupakan remix lagu milik grup musik Warna. Sebenarnya proses rekaman sudah selesai dua bulan lalu, namun karena ia sibuk syuting dua film yang akan rilis tahun depan, ia baru bisa melakukan promo lagunya bulan ini. https://www.youtube.com/watch?v=CGdPYO7iBqY Memiliki aktivitas baru bukan berarti ia meninggalkan balet klasik, bidang yang ditekuninya sejak kecil. Sekarang ia tengah menyelesaikan sekolah baletnya di Namarina Dance Academy untuk mendapatkan sertifikat dari Royal Academy Dance of London. Balet pulalah yang membawanya ke bidang lain dalam industri performing arts lain.

Kalau balet itu gak bisa dijadikan pilihan lagi karena aku dan balet udah nyatu. I born from ballet dan itu yang membawa aku ke akting dan nyanyi yang sekarang lagi seru-serunya aku jalanin.
Karin tak berhenti di industri hiburan saja. Lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Bisnis Manajemen Binus University ini memulai bisnis salon dan barber shop. Ia serius menekuni dunia bisnis, hingga terpilih menjadi salah satu panelis dalam acara "Women In Leadership in The UK & Indonesia" akhir Juli lalu bersama Dian Sastrowardoyo, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Susi Pudjiastuti, dan Menteri Industri Kecil Inggris Anna Soubry. “Kalau bagaimana saya terpilih saya juga nggak tau pertimbangan mereka ya. Pokoknya saya bersyukur aja bisa terpilih. Jadi semoga aja bisa menginspirasi anak muda yang mungkin di usia muda udah punya bisnis. Saya juga bersyukur bertemu pembicara lain karena kita sama-sama memberikan speech temanya women empowerment,” ujarnya sembari tersenyum ramah.

Karin and Her Lifestyle

Tinggal di Jakarta ternyata membuat Karin mengamati gaya hidup orang-orangnya. Ia berpendapat bahwa gaya hidup yang tengah tren sekarang menjurus ke arah positif: olahraga. Tak hanya itu, ia juga memandang orang Jakarta sudah mulai memakan makanan sehat. “Kalo liat di Instagram, sesimpel foto sepatu, pilates, yoga, atau zumba lagi in banget nih buat sesuatu yang menunjang kesehatan mereka. Bahkan 6 dari 10 temen aku menerapkan makan sehat. Mungkin dulu belum ada nih yang kayak gini,” tuturnya. Ia sendiri juga menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga dan memakan makanan yang bersih dans sehat. Olahraga yang ia pilih ternyata sederhana saja, yaitu berlari di sekitar rumahnya pukul 05.30 pagi saat udara masih cukup bersih dan matahari belum terik. Di samping itu, ia juga berolahraga dengan menari, mulai dari menari jazz hingga kontemporer. Karin memiliki selera yang unik untuk beberapa hal. Misalnya untuk kafe favorit ia memilih Le Quartier di daerah Senopati karena membuatnya serasa di luar negeri kala menikmati secangkir teh favoritnya. Musik yang disukainya juga tak biasa, yaitu karya composer Ryuichi Sakamoto dan Late Night Alumni. Untuk film, ia memilih The Curious Case of Benjamin Button dan film yang dibintanginya sendiri What They Don’t Talk About When They Talk About Love sebagai film favoritnya. Sehari-hari ada di dalamnya, Karin memiliki cara sendiri untuk menikmati kota Jakarta. Buku yang pernah ia baca menuliskan bahwa setiap orang perlu untuk menikmati waktu luang pada sore hari setelah siangnya melakukan aktivitas yang padat. “Ada disitu kata-kata sesibuk-sibuknya kita, sore sekitar jam 5, sempetin duduk di luar, cukup duduk, jauhin telepon. Udah gitu kita minum teh tapi tetep cari spot yang enak. Aku coba terapkan setiap hari dan yaa, lumayan membuat tenang sih,” kata perempuan penyuka musik klasik ini.

Q&A With Karin

Sebagai putri dari Djohar Iskandar Salim (Alm.) dan cucu dari Hj. Agus Salim serta keponakan Emil Salim, ia sukses mencuri perhatian sebagai pebalet, aktris, model, dan penyanyi. Di balik itu semua, ternyata ia masih memiliki cita-cita yang sangat ingin diraih. Bagaimana kamu menyikapi hidup sebagai anak dan cucu dari orang ternama? Sebelum masuk ke industri ini, aku dititipin pesen kalo “kamu membawa nama Salim, kamu tahu batasan-batasannya”. Jadi, aku juga nggak akan main film yang macem-macem karena aku tau batasannya. Bagaimana aku bertanggung jawab memilih karakter dalam sebuah film, tapi bukan berarti aku mempersempit juga yaa. Jadi lebih ke bagaimana pembawaan aku sendiri pada masyarakat. Aku berharap aku bisa membawa dampak positif. Siapa sosok yang menginspirasi kamu? Aku ngefans banget sama Opa Emil (Emil Salim.red). Walau umurnya sudah senja, tapi ngomongin politik segala macem masih lancar. Aku masih belajar banget dari dia dengan ngomongin bisnis dan ekonomi. Di luar keluarga, walau baru bertemu dan have a lil chit chat with her, aku ngefans sama Ibu Susi. Di sini aku membahas kalo kegagalan tuh tuh lu jangan berhenti sampe situ aja. Seneng banget sih denger speech-nya. Mungkin aku adore dia sebagai pengusaha sih, bagaimana dia yang bukan dari nol lagi bahkan, dari minus sampai dia jadi hebat. Rencana terbesar dalam hidup? Mungkin bukan besar yang heboh ya, selain di bisnis, out of the box aku pengen banget jadi dosen. Ini jadi salah satu faktor yang ngebuat aku pengen ngelanjutin sekolah S2. Aku pengen jadi dosen karena aku suka banget ngajar dan bagi ilmu.