A Jazz Tribute to Sultan: Sulawesi dan Kalimantan dalam Nuansa Swing dan Bossanova

07-07-2015 02:07:41 By Tyas Pamungkas
img

Kecintaan terhadap budaya Indonesia bisa ditunjukkan dengan bermusik karena musik daerah memiliki cita rasa tersendiri yang bisa memberikan pengalaman baru bagi yang mendengarkan. Galeri Indonesia Kaya mengapresiasi hal tersebut dengan menampilkan pertunjukan musik bertajuk A Jazz Tribute to Sultan yang menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap lagu daerah Sulawesi dan Kalimantan Sabtu (4/7) lalu di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Lagu-lagu Sulawesi dan Kalimantan seperti Kalayar, Tondok Kadadiangko, dan Cik Cik Periok dibawakan oleh The Swing Boss Jazz Band yang menggandeng penyanyi jazz senior Indonesia Syaharani. Tak hanya itu, kolaborasi juga dilakukan dengan Sion Brothers a Capella. Mereka memberikan sensasi baru mendengarkan lagu daerah bagi para penikmat musik selama enam puluh lima menit.

“Ketika saya diajak berkolaborasi oleh The Swing Boss Jazz Band, tanpa pikir panjang saya langsung menyetujuinya. Saya pikir ini adalah konsep yang unik untuk melestarikan lagu-lagu daerah yang juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Sebagai orang Indonesia kita patut bangga dan turut menjaga kelestarian kekayaan budaya kita". - Syaharani
Memicu pola pikir masyarakat bahwa seni dan budaya dapat dibawakan dengan cara apa saja selama dibawakan dengan positif, dengan tujuan mempertahankan dan memperkenalkan budaya Indonesia ke khalayak luas adalah tujuan The Swing Boss Jazz Band yang sukses mengaransemen lagu daerah Sulawesi dan Kalimantan ini dengan nuansa swing dan bossanova. Nama Swing-Boss berasal dari paduan kata Swing dan Bossanova, yaitu dua genre jazz yang melegenda. Nama ini menjadi pilihan para pendiri Swing-Boss karena mencerminkan cita-rasa jazz yang ‘everlasting’, cita-rasa yang menjadi konsep utama musik-musik Swing-Boss. Photo Courtesy: Galeri Indonesia Kaya