Jakarta International Java Jazz Festival 2015: Menjadi Indonesia

23-01-2015 07:01:58 By Egon Saputra
img

Setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun... Java Jazz Festival menginjak usia 11 tahun di tahun 2015 ini. Usia dini bagi seseorang, namun usia yang tidak lagi muda bagi sebuah pertunjukan berskala internasional seperti JJF. Perubahan dan inovasi setiap tahunnya selalu dilahirkan. “Tahun lalu kami mencoba mengenalkan Indonesia lewat Batik dan Wayang, tahun ini giliran Barong Bali yang akan memperkenalkan dirinya. Aplikasinya masih sama yaitu pada desain sebelum dan juga pada saat festival berlangsung. Ada banyak hal yang bisa dieksplor di Indonesia, tidak cukup dengan Java Jazz Festival 10 tahun saja, mungkin hingga tahun ke sekian puluh nanti, kita masih bisa memperkenalkan budaya Indoenesia yang beraneka ragam” Kata Dewi Gontha, Dirut Java Festival Production. Misi yang dipegang JJF selama 10 tahun belakangan menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara tujuan favorit untuk para pelancong lokal dan mancanegara menikmati keragaman Indonesia. Terlalu banyak yang harus dijelaskan dari ragam budaya Indonesia. Sebagai bahasa universal, musik layaknya sebuah gambar yang memiliki 1001 visual didalamnya dapat menjelaskan seluk beluk Indonesia. Tahun ini Jakarta International Java Jazz mengangkat tema Exploring Indonesia. Exploring Indonesia pada Java Jazz Festival tahun ini, selain dari desain bisa dilihat dari musisi Indonesia yang telah melakukan konfirmasinya untuk tampil di festival. Menonjolkan unsur etnik, seorang maestro klasik bernama Ananda Sukarlan yang lebih terkenal di Eropa akan membawakan sederetan lagu Nusantara dengan nuansa dan aransemen jazz. Benny Mustafa, drummer senior yang pernah bergabung dalam grup musik Eka Sapta yang terkenal pada era 60-an ini akan menampilkan project Djangger Bali yang dulu pernah dibawakan pada tahun 60-an hasil kolaborasi orang Indonesia dan pemain clarinet asal Amerika, Tony Scott di Jerman.