DWP 2014 Tak Hanya Milik Jakarta

17-12-2014 12:12:03 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Festival dance tahunan terbesar di Indonesia, bahkan bisa jadi terbesar di Asia selain ZoukOut di Singapura tentunya, Djakarta Warehouse Project 2014 atau DWP 2014, tak lagi menjadi milik pecinta Electronic Dance Music (EDM) di Jakarta, tapi juga datang dari berbagai belahan termasuk dari Malaysia dan Singapura banyak yang datang menikmati dua hari perhelatan festival di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 12-13 Desember 2014. Banyak penonton dari Malaysia yang menunjukkan identitasnya dengan membawa bendera negara mereka baik di hari pertama maupun hari kedua. Selain lebih mudah dikenali oleh sesama penonton asal Malaysia, sepertinya itu sebagai salah ekspresi kebanggaan tim nasional sepak bola mereka yang lolos ke final Piala AFF 2014. Apa pun alasannya, yang pasti mereka sangat menikmati berbagai EDM yang disuguhkan dan tentu auranya akan sangat berbeda jika mereka datang dengan mengibarkan bendera di Stadion Utama Gelora Bung Karno. https://www.youtube.com/watch?v=BN4pWHzYrdU Seorang pengunjung keturunan India dari Malaysia yang sudah datang ke DWP dari tiga tahun lalu pun meluapkan keheranannya: "Tiga tahun lalu saat saya datang ke DWP sama sekali tak ada penonton dari Malaysia, tapi sekarang orang Malaysia dan Singapura sangat banyak sekali yang datang. Luar biasa DWP tahun ini." Yang membawa identitas bendera negara bukan hanya penonton dari Malayaia, ada pula yang membawa bendera Korea Selatan, bahkan bendera Iran, tentu sebagai kebanggaan identitas mereka datang dari mana. Tapi inilah DWP, kenyataannya tak peduli Anda datang dari mana apakah lokal, bule, atau dari negeri tetangga, remaja atau dewasa, memakai celana pendek atau panjang, sandal atau sepatu, bahkan dengan baju lengkap atau hanya sekedar memakai bikini atau bra, semua berbaur menikmati DWP, Pecah! [caption id="attachment_8495" align="alignnone" width="1500"]Martin Garrix - Garudha Land Martin Garrix - Garudha Land[/caption] Di hari pertama, salah satu DJ yang banyak dinanti penampilannya adalah remaja berusia 18 tahun Martin Garrix yang meledak namanya melalui lagu Animals dan Wizard. Meski menjelang penampilannya sempat gerimis yang membuat sebagian penonton di arena terbuka stage Garudha Land melipir, tapi sebagian besar penonton menikmati musik-musik yang digeber oleh sosok yang terinspirasi oleh DJ Jayvee dan Tiesto itu. Namun, sebagian besar penonton sebetulnya terasa lebih menikmati musik-musik progressive, electro, dan trance yang dimainkan Showtek, Steve Angelo, Damian Lazarus, dan juaranya tentu Skrillex, pemenang Grammy yang benar-benar membakar adrenalin penonton melalui berbagai track andalannya seperti Rampage, Voltage,  Monster and Nice Spirits, Bangerang, hingga Promises. Aksi mereka membuat hampir semua penonton dengan wristband warna biru di tangan yang memang tiket untuk dua hari pasti datang lagi di hari kedua. Begitu pula penonton dengan wristband warna hijau yakni tiket hanya untuk hari pertama, banyak yang datang lagi dengan berganti warna gelang merah untuk hari kedua. Dan di hari kedua, kenyataanya penonton jauh lebih banyak lagi yang membuat pesta gelaran Ismaya Live ini bisa dikatakan sukses besar. Jika di hari pertama Jl. Benyamin Sueb yang merupakan jalan utama untuk memasuki kawasan JIExpo hanya dipenuhi empat baris parkir mobil di jalur lambat maupun jalur cepat, di hari kedua ada sembilan jalur parkir yang memakai jalanan, sehingga empat jalur jalan yang tergolong besar masing-masing hanya menyisakan satu jalur sempit untuk mobil lain bisa lewat. Dan jangan ditanya di dalam kawasan parkir mobil JIExpo, penuh sesak! Jika di hari pertama minuman masih bisa dibeli hingga penghujung acara, di hari kedua banyak minuman yang sudah sold out di tengah-tengah event. [caption id="" align="alignnone" width="1500"]DWP 2014 BCA Lounge - DWP 2014[/caption]   Di hari kedua, penampilan keren beruntun Nervo, Above & Beyond, dan Nicky Romero dengan memainkan lagu-lagu hit-nya termasuk I Could Be The One, yang merupakan track kolaborasi Romero dengan Avicii, serta ditutup oleh Steve Aoki yang menghadirkan berbagai hit termasuk Boneless, Livin' My Love, Dangerous, I'm In The House, No Beef, dan Turbulence, benar-benar memuaskan penonton, sekaligus memupus kekecewaan penonton yang ingin menyaksikan Kaskade yang batal tampil. Tak lupa, Aoki pun melakukan ritual yang biasa dilakukan saat penampilannya yakni melempar kue ke penonton. Sensasi stage Life In Color yang pertama kali dimunculkan di Asia Tenggara, di arena tertutup, juga tidak kalah keren, dimana penonton berdansa dengan diguyur oleh air warna-warni dan semua penonton malah sangat menikmati musik-musik yang digeber Mathew Koma, Adventure Club, Blasterjaxx, dan DVBBS dengan berbasah-basah kuyup! Steve Aoki DWP benar-benar ditutup oleh pesta kembang api berbarengan dengan ujung penampilan Aoki yang membuat pesta Tahun Baru seolah datang lebih cepat bagi penikmat EDM. DWP 2014 memang meninggalkan banyak cerita bagi para penontonnya termasuk seorang penjaga toko di salah satu mall di Jakarta Selatan yang tetap memakai wristband  meski DWP 2014 telah beberapa hari berlalu. "Saya masih belum bisa move one oleh hebohnya DWP kali ini, seru banget!" ucapnya sambil dengan bangga menunjukkan wristband  warna biru di tangannya, tanda ia menonton dua hari beruturut-turut. Text & Coverage by Yudie Oktav Photo by Maulana Akbar