Spirit Baru Aray Daulay di Album Solo

02-11-2014 03:11:56 By Egon Saputra
img

Sepulangnya Aray Daulay ke Indonesia, pria gimbal berbadan besar ini seolah mendapat spirit baru dalam dirinya. Perjalanan karier seorang Aray Daulay dimulai ketika dirinya menjadi bagian dari band Plastik. Belasan tahun dari satu project ke project lain, Aray memutuskan untuk bersolo karier dan merilis debut album. Kepada JakartaVenue.com, Aray bercerita bagaimana perjalanan karier dan proses penggarapan album terbarunya. ‘On the Move’, album yang bercerita tentang perpindahan. Perpindahan memiliki arti luas buat Aray, lebih ditekankan lagi kalau sebenarnya album ini bercerita mengenai perjalanan hidup. Perjalanan hidup Aray mulai saat ia bergabung bersama band Plastik di era 90-an, lalu menjadi salah satu personil Steven and the Coconut Trees, vokalis Ray d’ Sky sampai kembali membentuk sebuah project Daddy and the Hot Tea bersama Ipang dan Didit Saad. Selama satu tahun, Aray memproduseri sendiri serta menyiapkan materi albumnya. Ipang dan Didit Saad juga turut berperan dalam penggarapan album terbaru Aray. Dari segi materi dan musik, Didit banyak ikut campur. Sedangkan Ipang lebih ke pembuatan artwork album ‘On the Move’. Salah satu teman Aray yang berdomisili di Australia, yang juga seorang fotografer secara sukarela mengabadikan momen Aray ketika nge-gig di negeri Kanguru tersebut. Hasil jepretannya pun diserahkan ke Ipang untuk diolah menjadi artwork album ‘On the Move’. Aray-Sing Di album ‘On the Move’ semua lagu dalam bahasa Inggris, sesuai mood Aray saat berada di kampung halaman istrinya. Tak sampai disitu, sang istri juga ikut membantu Aray mengoreksi semua lirik lagu. Ragam warna musik bakal terdengar di debut album Aray. Reggae, Rock n Roll, Ballad dan Blues tapi masih dengan karakter yang ia punya. Aray sejujurnya tidak mau mengkotak-kotakan arah genrenya kemana.

Biar orang lain menilai. Yang pasti di album ini gue merasa mendapatkan ilham, menggabungkan kreasi yang pernah gue bikin. Gue tuangin di dalam album ini.
Istri dan anak Aray memang berdomisili di Australia, tepatnya di sebuah kota kecil dekat dengan Perth. Di tempat itulah Aray bersama keluarga kecilnya merajut kebahagiaan. Meski hanya dikelilingi padang tandus, Aray mengisi kesehariannya dengan bernyanyi di sebuah bar. Memanjakan pengunjung dengan vocal suaranya yang agak berat yang mempu membuat para pengunjung terhibur dan memberi apresiasi berkat kelihaian Aray memainkan gitar dan mengolah vokal. Proses penggarapan album ‘On the Move’ terhitung cepat. Dalam setahun Aray mengumpulkan materi album. Tidak ada target apapun dari Aray. Semua mengalir begitu saja tanpa ada hambatan. “Kalau bikin musik itu yang gue punya aja, yang gue bisa. Engga gue paksain, ya apa adanya” Ujar Aray sembari menyisir rambut dengan jari jemarinya. Aray-Foodism Diantara  tujuh lagu di albumnya, Aray membuat sebuah lagu untuk putranya bernama Dylan. Lagu dengan judul ‘Good Man’ merupakan pesan Aray untuk Dylan. Pengharapan seorang ayah agar anaknya nanti bisa menjadi seorang pria yang baik. Sedangkan singel pertama berjudul ‘On My Way’ menceritakan transisi Aray ke Australia yang harus meninggalkan beberapa project dan teman-teman terdekat. Pria yang memiliki referensi bermusik dari Iwan Fals, The Rolling Stones dan Bob Marley ini, sampai sekarang masih belum memikirkan project selanjutnya. Aray masih fokus dengan promo debut album. Harapannya cuma satu, musiknya bisa menginspirasi semua orang.