Pentas Teater Indonesia Kita: Roman Made in Bali

02-09-2014 11:09:10 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Pada tanggal 12-13 September 2014, panggung Indonesia Kita kembali menggelar pertunjukan Roman Made in Bali. Ini pertunjukan Indonesia Kita yang kedua di tahun 2014 ini setelah pada bulan April lalu mementaskan Matinya Sang Maestro, yang menampilkan para maestro seni seperti Didik Nini Thowok dan Kartolo. Bagi yang sudah akrab dengan pentas-pentas Indonesia Kita, pada pementasan Roman Made in Bali ini akan menemukan banyak kejutan artistik. Panggung akan kaya dengan tata visual dan artistik dari wayang yang dikembangkan oleh I Made Sidia. Lalu ada grup Cek Body atau Kobagi (Komunitas badan Gila), yang anggotanya rata-rata warga kampung yang sehari-hari bekerja sebagai petani, pedagang dan pegawai negeri, berhasil menggembangkan tarian yang ekspresif dan atraktif dengan menggunakan media tubuh mereka. “Tarian Cek Body dan wayang I Made Sidia, akan menimbulkan sensasi visual yang magis khas bali, tetapi dengan idiom-idiom yang sangat kontemporer,” ujar Agus Noor, yang bertindak sebagai sutradara pertunjukan ini. “Ditambah lagu musik yang digarap oleh Balawan, rasanya ini menjadi kolaborasi yang luar biasa. Yang menarik, balawan tak hanya bermain gitar, yang memang sudah menjadi kepiawaiannya, tetapi juga ikut bermain sebagai aktor bersama Cak Lontong dan Marwoto. Ini akan menjadi surprise yang tak hanya kocak, tetapi juga menarik.” Kemudian Heny Janawati, penyanyi opera asal Bali, telah tampil di panggung opera di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa, menjadi begitu unik ketika membawakan tembang pop tradisi bali “Sekar Sandat” dengan tehnik opera. Lalu ada Ayu Laksmi, penyanyi bergaya new age, yang musiknya penuh meditatif dan kontemplatif. “Ini akan menjadi pertunjukan yang kuat dalam tampilan visual,” tegas Agus Noor. Lakon Roman Made in Bali sendiri berkisah tentang persaingan Roman (diperankan oleh Cak Lontong) dan Made (dimainkan oleh Balawan), yang memperebutkan cinta seorang gadis. Semula, Roman datang ke Bali untuk mencari ketenangan spiritual, kemudian mencoba memikat seorang gadis, untuk tujuan-tujuan yang disembunyikannya. Inilah yang kemudian memicu konflik dan meledak di akhir cerita. Kisah cinta mereka, persaingan mereka, menjadi sebuah roman kontemporer berlatar Bali dengan berbagai persoalannya. Ini sekaligus juga menjadi sebuah kisah roman bergaya Bali, yang diciptakan oleh para seniman Bali, yang mengolah beragam bentuk seni yang tumbuh di Bali. Reservasi Tiket: KAYAN 0838 9971 5725 – 0856 9342 7788 TIM 0813 1953 1953 – 0815 1935 1935 – 0857 1935 1935 Roman Made in Bali