Pentas Monolog Inggit oleh Happy Salma: Konflik Batin Istri Sang Proklamator

13-05-2014 05:05:24 By Egon Saputra
img

Dibalik suksesnya seorang pria terdapat sesosok wanita yang mendampinginya. Termasuk kesuksesan Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Selama ini tidak banyak yang tahu lika-liku kisah cinta beliau. Termasuk sosok wanita yang selama ini selalu menemaninya setiap waktu. Inggit Garnasih (1888-1984), tak banyak orang yang mengenal sosok ini. Melebihi pengetahuan bahwa ia adalah salah seorang istri Soekarno, aktivis pergerakan yang lantas dikenal sebagai presiden RI pertama. Bahkan, tak sedikit pula orang yang hanya mengenal Inggit Garnasih sebata nama sebuah jalan di Kota Bandung. Inggit begitu setia menemani Kusno - begitu Inggit memanggil Soekarno – tanpa mengharapkan imbalan apapun. Karena tentu itu merupakan hakekat seorang istri terhadap suami yang dicintai. Lewat pentas “Inggit: Sebuah Monolog oleh Happy Salma” kita bisa melihat seberapa tegarnya Inggit menghadapi setiap cobaan yang menerpanya bersama suami. Dalam durasi 120 menit, Inggit membawa para penonton yang hadir di Teater Besar Jakarta pada 10 Mei 2014 untuk berkaca kepada peristiwa bersejarah yang terpinggirkan. Kisah yang diambil dari buku Kuantar Ke Gerbang. Buku ini mengisahkan keteguhan hati seorang perempuan sederhana. Yang dalam pentas ini ialah Inggit. Ia menolak poligami, dan memilih hidupnya sendiri. Ini tidak adil, saat seluruh hidup Inggit dileburkan dalam suka duka kehidupan tapi yang ia dapat hanyalah kekecewaan. Menikah dengan Kusno yang seorang Mahasiswa, Inggit tahu apa yang harus dilakukan untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya. Dan Inggit tahu benar bagaimana melayani Kusno, mendengar semua cerita-ceritanya, menenangkannya dan memanjakannya. Lingkungan perkuliahan Kusno di THS Bandung, menarik dirinya terjun ke dunia politik sebagai pemuda aktivis pergerakan. Tak Jarang Inggit menemani Kusno dalam rapat-rapat umum di mana Kusno berpidato. Beberapa waktu kemudian, Kusno akhirnya lulus dan menjadi insinyur. Tapi Kusno lebih suka menerjuni dunia politik ketimbang bekerja di biro teknik. Artinya, Inggit-lah yang kembali harus bekerja mencari nafkah. Selama 20 tahun Inggit terus menemani Kusno hingga menjelang kemerdekaan. Hingga akhirnya Inggit berani berkata “tidak” ketika Kusno meminta ijin untuk menikah lagi. Hal ini dilakukan Kusno karena Inggit tidak bisa memberikan seorang anak kepadanya. Inggit memilih untuk pergi dan meminta Kusno menceraikannya lalu memulangkannya ke Bandung. “Kalau begitu, aku minta pengertian Inggit. Perkawinan kita tak bisa lagi dipertahankan” begitu Kusno bilang. Inggit memandangnya dengan tenang. “Baik. Dan Kus sudah tahu jawabanku sejak di Bengkulu. Kita akhiri ini semua dengan baik-baik” pasrah sudah Inggit sembari meneteskan air mata. Pergolakan jiwa seorang Inggit divisualisasikan dengan tarian yang dibawakan oleh Tarian Kontemporer Studio Titik Dua. Suasana dan penghayatan lakon semakin syahdu dengan musik gamelan Sunda yang dibawakan oleh Gamelan Mustika Inggit dan paduan suara dari Seni Musik UPI Bandung. Unsur kekinian berupa penggunaan multimedia turut dimasukkan guna mendukung penggambaran peristiwa yang melatarbelakangi monolog yang disampaikan Happy Salma. Pementasan Monolog Inggit terselenggara berkat kerjasama Titimangsa Foundation dan The Jakarta Post.