Matinya Sang Maestro: Nasib Sang Seniman yang Terlupakan

17-04-2014 01:04:23 By Egon Saputra
img

Indonesia, negara yang kaya akan karya seninya. Negara yang kaya akan kebudayaannya. Dari ujung barat hingga ujung timur, tersebar semua ragam kekayaan seni dan budaya yang seharusnya dapat dieksplor dengan sebaik mungkin. Akulturasi budaya yang ekstrim, membuat semuanya tergerus. Bahkan para seniman yang sudah mengharumkan nama Ibu Pertiwi di ranah internasional pun, kini terlupakan. Pantas rasanya jika seniman yang sukses memboyong kekayaan seni dan budaya Indonesia ke luar negeri mendapat gelar ‘Sang Maestro’. Tak cuma itu, ketulusan dan loyalitas mereka terhadap Indonesia patut mendapat apresiasi yang tinggi guna menggoreskan nama mereka di sejarah kita. Pemerintah pun terkadang lupa akan nasib para seniman. Padahal kontribusi seniman Indonesia sangat besar demi ikut memajukan negara. Mengawali tahun 2014, panggung pertama Indonesia Kita kembali digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 12 dan 13 April 2014. Lewat pentas Matinya Sang Maestro, Butet Kartaradjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto sebagai tim kreatif  mencoba mengangkat problematika ‘seniman yang terbuang’. Matinya Sang Maestro menceritakan tentang seorang maestro seni asal Jawa Timur yang diperankan oleh Cak Kartolo. Dalam cerita, kehidupan Cak Kartolo dan istri, Yu Ning, sungguh memperihantinkan. Nasib Cak Kartolo yang miskin dan terlupakan memaksanya ikut dalam rombongan Djaduk Ferianto, Didi Nini Thowok dan Trio GAM untuk menjadi ‘selebriti Dor tu Dor’. Atau lebih tepatnya pengamen. Hingga suatu saat dikabarkan pemerintah akan memberikan penghargaan dan hadiah uang sebesar 10 M. Namun dalam surat keputusan disebutkan hadiah dapat diberikan karena jasa-jasa sang maestro selama hidup. Hingga timbul lah kesalahpahaman. Dimana sang maestro ternyata harus meninggal terlebih dahulu baru bisa menerima hadiah uang tersebut. Duet Marwoto dengan salah satu finalis Stand Up Comedy Indonesia, Akbar, sebagai pejabat pemerintah menambah bumbu-bumbu guyonan semakin terasa sedap. Meski baru, Akbar mampu mengimbangi permainan lawan mainnya di atas panggung. Improvisasi yang ditampilkan oleh Marwoto dan Akbar, sukses mengocok perut penonton walaupun materi yang dibawakan cukup membuat geleng-geleng kepala. Bukan pentas Indonesia Kita namanya jika dalam materi pentas tidak menyerempet ke hal yang berbau ‘isu panas’ saat ini. Mulai sindiran acara televisi yang mempertontonkan ratusan orang bak kerbau dicucuk hidungnya mengikuti komando sang ‘Cesar’ hingga seorang tokoh politik yang baru-baru ini ketahuan liburan bersama dengan salah satu artis ibukota, dengan boneka Teddy Bear sebagai caption-nya.