Kiprah 64 Tahun Film Indonesia

04-04-2014 03:04:02 By Egon Saputra
img

Perkembangan film Indonesia saat ini bisa dibilang mengalami kemajuan pesat. Beberapa film Indonesia berhasil mencuri perhatian mata internasional. Ini semua tidak terlepas dari peran para pelaku seni dan sineas film Tanah Air.

Gagasan-gagasan yang dikemas secara kreatif menghasilkan sebuah karya memiliki nilai seni tinggi di masyarakat. 64 tahun sudah industri film Indonesia berdiri. Semua insan perfilman patut bersyukur dengan umur industri film Kita yang cukup mampu bertahan selama ini. Pasang surut kejayaan dialami selama 6 dekade.

30 Maret 2014, Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar perayaan Malam Puncak 64 Tahun Hari Film Nasional di Ballroom Djakarta Theater XXI Sarinah, Jakarta. Acara tersebut dihadiri mulai dari movie maker, aktor, aktris hingga mahasiswa.

Dalam acara itu, Alex Komang sebagai ketua pengurus BPI menekankan beberapa poin yang berkaitan dengan peran pemerintah turut serta menjaga dan memelihara kebudayaan seni film Tanah Air. “Film bisa dilihat lewat dua sisi. Film sebagai hiburan, yang kedua film dilihat sebagai karya seni. Film jadi produk kebudayaan yang wajib dipelihara dengan sungguh-sungguh. Melalui UUD 1945 dan UU pasal 33, negara memiliki tugas penting untuk perfilman Indonesia.” Jelas Alex Komang. Pada pembukaan malam puncak Hari Film Nasional 2014 itu, Ihsan Idol menghibur para tamu undangan dengan membawakan lagu-lagu dari beberapa soundtrack film Indonesia seperti Garuda di Dadaku (ost. Garuda di Dadaku) dan Melompat Lebih Tinggi (30 Hari Mencari Cinta). Usai mendapat hiburan dan speech dari ketua BPI, para tamu undangan diajak untuk menyaksikan sebuah film lawas berjudul ‘Darah & Doa’ karya Usmar Ismail.