Lakon "Matinya Sang Maestro" Menjadi Pembuka Pentas Indonesia Kita 2014

03-04-2014 04:04:38 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Tahun 2014 ini pentas Indonesia Kita akan dimulai dengan lakon Matinya Sang Maestro. “Ini boleh dibilang sebagai panggung para maestro,” ujar Butet Kartaredjasa, penggagas ide dari Indonesia Kita. “Lakon ini sangat relevan dengan situasi kita hari ini,” sambung Didik Nini Thowok. “Bangsa kita sibuk mencari tokoh, tetapi lupa pada nilai-nilai ketokohan dan kepemimpinan. Sementara Agus Noor, penulis cerita dan sutradara Matinya Sang Maesto menegaskan, bahwa sejak awal pementasan ini memang ingin melibatkan sebanyak mungkin “para mastero” dari disiplin seni yang beragam. “Ini sekaligus juga menandai pencapaian kreativitas mereka. MSM

Inilah kisah seorang maestro seni yang nasibnya miskin dan terlupakan. Lalu suatu hari datang kabar, kalau pemerintah akan memberinya hadiah uang 10 Milyar. Dalam Surat Keputusan (SK) itu disebutkan, kalau hadiah itu diberikan "karena jasa-jasanya selama hidup". Kalimat itu menimbulkan masalah tafsir. Para pejabat menganggap, “uang hadiah itu hanya bisa diberikan setelah ia mati". Padahal sang maestro hidup. Inilah yang kemudian menimbulkan kelucuan-kelucuan sekaligus kegetiran. Para pejabat bersikeras, SK Pemberian hadiah itu tidak mungkin diubah. Bila diubah, maka itu berarti menanggap SK itu salah atau bermasalah. Padahal yang bermasalah adalah sang maestro, yang kenapa belum mati sesuai SK itu. Berita soal hadiah 10 Milyar itu juga menimbulkan kehebohan. Banyak yang kemudian menjadi begitu baik pada sang maestro, tapi diam-diam sesungguhnya berharap agar nanti mendapatkan bagian warisan. Bahkan ada yang mulai “memproyekkan kematiannya”, dengan uang 10 Milyar itu berencana membikin patung sang maestro bila nanti sudah meninggal dunia. Semua ingin uang 10 Milyar itu cepat cair. Misalnya dengan cara agar sang maestro itu pura-pura sakit. “kalau tidak benar-benar mati, ya mati separuh saja, lumpuh separuh begitu, biar uangnya juga bisa cair separuhnya dulu,” saran pejabat yang mengurus pemberian hadiah itu. begitulah, sang maestro kini dibutuhkan, diperhatikan, sekaligus diingikan kematiannya, Bila ia mati, nasib keluarganya akan berubah karena akan menerima warisan 10 Milyar. Bagaimana sang maestro menghadapi itu semua?
Tiket Pertunjukan : Platinum : Rp 500.000 VVIP : Rp 300.000 Wing : Rp 200.000 Balkon : Rp 100.000 Informasi lebih lanjut dan pemesanan tiket dapat dilakukan melalui : KAYAN Production & Communication 0838 9971 5725 / 0856 9342 7788 www.kayan.co.id @infoKAYAN