Pentas Orde Omdo: Lantas Siapa yang Pantas Menjadi Pemimpin?

25-12-2013 02:12:55 By Egon Saputra
img

Setelah rehat untuk sekian waktu, panggung teater Indonesia kembali dihiasi pentas humor nan penuh kritik. Siapa lagi kalau bukan Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto. Ketiga orang “edan” ini emang dikenal dalam kemampuannya mengemas pertunjukan secara menarik dan artistik dengan mengangkat isu sosial politik di dalamnya.

20 - 21 Desember 2013, sebuah lakon bertajuk ‘Orde Omdo’ digelar untuk pertama sekaligus menutup rangkaian acara yang dibawa pula oleh Indonesia Kita bersama Djarum Apresiasi Budaya. Ya, tahun ini hanya satu pertunjukan yang dihelat. Tidak seperti tahun sebelumnya, dalam setahun bisa lebih dari tiga pertunjukan.

[slider crop="yes" slide1="http://jakartavenue.com/wp-content/uploads/2013/12/orde-omdo1.jpg" slide2="http://jakartavenue.com/wp-content/uploads/2013/12/salma-happy.jpg" slide3="http://jakartavenue.com/wp-content/uploads/2013/12/orde-omdo2.jpg"][/slider]

Ada yang bilang bahwa dunia politik adalah dunia yang kejam. Bagaimana tidak? Di dunia politik, Kita tidak mengenal lawan dan kawan. Lebih parahnya, semua idealisme dapat bungkam oleh secarik uang dan kekuasaan. Orang-orang yang terjun ke dunia politik seakan terjerumus ke lubang setan. Mereka berlomba-lomba untuk meraih kedudukan. Sebagai pemimpin di ranah politik mereka saling bersaing dengan penuh keyakinan bahwa mereka pantas untuk dipilih, tanpa menyadari apakah mereka memiliki kemampuan dan yang lebih penting apakah mereka memiliki nurani. Bahkan dari sudut pandang religi, seorang pemimpin harus Amanah, Fathanah dan Siddiq. Skeptisisme sulit dihindari dari setiap ajang Pemilu di negara ini. Reformasi sekalipun tidak bisa mengusir skeptisisme ini terutama ketika wajah reformasi teryata malah makin mengaburkan siapa sosok anatagonis dan protagonis. Lantas, siapa yang pantas menjadi pemimpin di negara ini ?

Sebagai latar belakang cerita, lakon ‘Orde Omdo’ memakai dunia industri batik. Kelompok Sahita yang terdiri dari Inong, Sri Setyoasih (Tingtong), Sri Lestari (Cempluk) dan Atik Kenconosari berperan sebagai para pengrajin batik. Tidak cuma mereka, nama-nama besar seperti Marwoto, Susilo Nugroho, Cak Lontong, Yu Ningsih, Trio GAM (Guyonan Ala Matraman), Gundi dan Alit turut mengisi pentas yang berdurasi lebih dari dua jam tersebut. Hampir setiap skena penonton dibuat terpingkal-pingkal lewat guyonan cerdas dan kritik pedas yang dilemparkan oleh para pemain.