Pentas Indonesia Kita Dalam Lakon "Orde Omdo"

13-12-2013 03:12:14 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Indonesia Kita rutin menggelar pertunjukan sejak tahun 2011. Tercatat antara lain Laskar Dagelan, Beta Maluku, Kartolo Mbalelo, Mak Jogi, Kutukan Kudungga, Kadal Nguntal Negara, Kabayan Jadi Presiden dan Maling Kondang. Dalam pentas-pentas tersebut ikut mendukung Glenn Fledly, Sujiwo Tejo, Kill The DJ, Didi Petet, Hanung Bramanntyo, Oppie Andariesta, Nirina Zubir, Tom Ibnur, Yusril Katil, dan masih banyak lagi. Pentas-pentas Indonesia Kita selalu menjadi sebuah upaya menyampaikan gagasan perihal keberagaman dan kebersamaan tentang Indonesia. Pentas menjadi sebuah jalan artistik dan kebudayaan, untuk menumbuhkan sikap toleran dan menghargai keberagaman, hingga Indonesia bisa menjadi “rumah bersama”.
Terlebih-lebih ketika Indonesia hari ini seperti rentan dan penuh berbagai persoalan. Pelbagai kerusuhan dan ketimpangan sosial, gejala-gejala intoleransi kehidupan yang kian rentan dan gampang meledak, ketidakadilan dan persoalan hukum dan merosotnya etika politik, menjadi campur aduk: menimbulkan banyak persoalan yang pada tingkat tertentu membuat banyak orang mempertanyakan kembali perihal ke-Indonesiaan yang pernah dan ingin dicita-citakan bersama. Melalui pentas-pentas yang meengangkat kekayaan dan kekuatan etnik, sekaligus modernitas yang berlangsung dalam masyarakat, Indonesia Kita mendorong tumbuhnya sikap saling memahami, sikap membuka diri bagai dialog dan keberagaman. Melalui- pentas-pentas itulah, ke-Indonesiaan coba didialogkan kembali, diekspresikan kembali, agar semangat berbangsa dan bernegara selalu aktual dan semakin menumbuhkan keberagaman. OrdeOmdo

Perihal Lakon "Orde Omdo"

Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, juga dalam hubungan keluarga. Ketika politik hanya didasari kepentingan, maka hubungan kekerabatan bisa langgeng atau malah berantakan oleh kepentingan. Kisah dalam Orde Omdo adalah gambaran itu. Politik dinasti hendak dilangsungkan, sekaligus ditentang. Lakon Orde Omdo adalah satire politik Indonesia hari ini, lakon ini menarik bukan hanya karena kritik-kritik sosial di dalamnya, tetapi juga tata artistiknya. Bukan hanya pertunjukan yang akan membuat penonton tertawa atau menertawai keadaan, tetapi juga mengajak merenungkannya. Ada komedi, atau musik, ada tari-tarian. Ini menjadi pertunjukan yang lengkap element artistiknya. Lagu-lagu Sinten Remen akan menjadi bagian tak terpisahkan dari pertunjukan ini. seperti lagu “Parodi Jatilan”, “Omdo”, “Keroncong Sunat”, dan lain-lain. Lakon Orde Omdo bisa menjadi gambaran bagaimana para pemimpin, menjelang pemilihan, malah sibuk mengumbar janji dan terus banyak omong, sembari berupaya menutupi konflik-konflik di antara mereka. Berkisah tentang seorang Kepala Daerah (Susilo Nugroho) yang habis masa jabatannya dan ingin melanggengkan kekuasaannya dengan hubungan kekerabatan. Sementara kandidat lain, seorang politikus muda ( dimainkan Cak Lontong) yang jadi idola karena ketenarannya, juga maju mencalonkan diri. Pertentangan keduanya, ternyata menguakan sejarah keluarga mereka yang selama ini ditutup-tutupi. Hal lain yang menarik dalam lakon Orde Omdo ini adalah pemakaian unsur batik dalam artistik pertunjukannya. Cerita Orde Omdo memang memakai dunia industri batik sebagai latar belakang kisahnya. Batik yang kini banyak dipuja, bahkan menjadi kebanggan di dunia internasional dan dan menjadi program nasional, ternyata juga menyimpan kisah para pengrajin batik yang nasibnya seperti tak tersentuh perubahan. Batik bisa menjadi kisah yang relevan ditengah hirukpikuk politik yang sibuk omong doang. Politik omdo.