Suguhan Istimewa Lady In A Blues Band di Jakarta Blues Festival 2013

19-11-2013 02:11:53 By Egon Saputra
img

Udara dingin serta hujan deras boleh saja menyapa Istora Senayan pada sabtu malam tanggal 16 November 2013 lalu, namun penonton di dalam blue stage Jakarta Blues Festival 2013 sepertinya tak merasakan hal yang sama.

Bisa jadi karena kemunculan sebuah band wanita bernama Lady in A Blues Band yang berhasil menyuguhkan sajian blues yang kental sehingga penonton tak menghiraukan dinginnya air conditioner serta keadaan cuaca pada malam itu.

Bermodalkan kemampuan bermusik yang mumpuni, Lady in A Blues Band menghibur penonton dengan menampilkan beberapa lagu seperti “Light My Fire” karya The Doors hingga “Time After Time” karya Cyndi Lauper. Kejutan pun terjadi ketika penyanyi legendaris Margie Segers turut bergabung dengan Lady in A Blues Band ke atas panggung dan menyumbangkan vokal primanya melalui lagu “Time After Time”. Tak pelak sambutan meriah kemudian dialamatkan kepada kolaborasi apik musisi-musisi berbakat ini.

[slider crop="yes" slide1="http://jakartavenue.com/wp-content/uploads/2013/11/Lady-in-Blues-3.jpg" slide2="http://jakartavenue.com/wp-content/uploads/2013/11/Lady-in-Bues-10.jpg" slide3="http://jakartavenue.com/wp-content/uploads/2013/11/Lady-in-Blues-4.jpg"][/slider]

Penampilan Lady In a Blues Band di festival ini pun turut menyisipkan sesi perkenalan antar personi. Pada sesi yang kebanyakan ditunggu oleh para penonton pria ini, tampaknya perkenalan pemain drum, Jeane Phialsa serta pemain gitar, Migi Parahita mendapat sambutan yang paling meriah di antara seluruh personil. Terlebih ketika leader band, Happy Pretty Asmara melontarkan gurauan kepada Migi Parahita dengan mengatakan “Kamu baru single kan? Nanti ya, aku kasih tahu nomor HP sama BB kamu ke penonton” yang sontak membuat sorakan penonton pria di Istora Senayan semakin lantang.

Keberadaan tiap-tiap personil yang mampu berkoordinasi satu sama lain dalam format band seolah-olah menyatakan bahwa Lady In a Blues Band adalah sekumpulan musisi yang telah memiliki “jam terbang” tinggi. Selain itu, mereka juga membuktikan bahwa preferensi bermusik bersifat tak terbatas dan sudah bukan jamannya lagi masyarakat melakukan segregasi bermusik sesuai dengan gender. Benar-benar sebuah edukasi musik yang bermanfaat bagi masyarakat masa kini.

Coverage by Galih Gumelar