Konsistensi Peter Gontha Selama 10 Tahun Bawa Java Jazz Festival Ke Ranah Dunia

08-11-2013 01:11:05 By Egon Saputra
img

10 tahun bukanlah waktu yang singkat buat Peter F. Gontha untuk membangun apa yang beliau impikan selama ini. Kepulangannya dari North Sea Jazz di tahun 2004, ternyata membawa ‘buah tangan’ bagi masyarakat di Indonesia. Disini lah cikal bakal Java Jazz Festival terbentuk.

Melihat kondisi Indonesia saat itu yang sedang tertimpa musibah mulai dari peristiwa Tsunami hingga tragedi bom Bali 2, seolah menggerak hati dan pikiran Pak Peter (begitu sapaan rekan-rekan media) guna memberi sumbangsih terhadap Indonesia. Akhirnya Pak Peter pun memutuskan untuk membuat sebuah festival musik jazz, guna mengembalikan kepercayaan dunia terhadap Indonesia sekaligus jembatan diplomatik antar negara. “Bringing the World to Indonesia”

Peter Gontha dan tim Java Festival Production (JFP) mengupayakan festival ini menjadi festival jazz terbesar di dunia. Alasannya sederhana meski tidak mudah dilaksanakan, yaitu membuat festival jazz yang membuat mata publik dunia melihat ke Indonesia. Apa yang diinginkan memang tidak selalu berjalan mulus. Di awal tahun berdiri, mau tidak mau harus ada nama besar yang mengisi pagelaran ini. Pak Peter pun memutuskan James Brown untuk menjadi headline pertama dari Java Jazz Festival. Tidak mudah mengundang James Brown saat itu, perlu modal yang besar buat menariknya kesini.

Dicap sebagai negara yang “ekstrim” oleh beberapa musisi Jazz luar karena musibah yang sering menimpa Indonesia, tidak membuat semangat pak Peter luntur begitu saja. Pak Peter saat hadir di press conference pertama Java Jazz Festival 2014 di Hotel Sultan Jakarta, bercerita bagaimana usahanya meyakinkan para musisi luar agar mau tampil di Java Jazz Festival. “Selama ada kemauan, disitu lah ada jalan”, mungkin itu yang menjadi modalnya dalam membangun Java Jazz Festival yang kini sudah satu dekade.

Selama bertahun-tahun penyelenggaraannya, Java Jazz Festival telah memberikan ruang bagi berbagai kreativitas musik Indonesia. Banyak musisi yang semakin dikenal setelah tampil di Java Jazz Festival, dan ada pula yang berkesmpatan berkolaborasi dengan musisi kelas dunia yang dikagumi selama ini.

Usaha dan kerja keras JFP yang kini dipimpin oleh putri Pak Peter, Dewi Gontha, mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2010. Rekornya adalah “Festival Jazz Terbesar di Dunia”. Data yang ada, lebih dari 1.500 musisi asing dan Indonesia yang bermain di 20 panggung selama 3 hari penyelenggaran Java Jazz Festival 2010, dan ditonton oleh lebih dari 105.000 pencinta jazz dari Indonesia dan luar negeri. Angka ini pun setiap tahun makin bertambah. Selain itu, Java Jazz Festival berada diurutan ketiga dalam pemutaran live streaming setelah momentum pelantikan presiden Obama dan ulang tahun Oprah Winfrey.

Java Jazz Festival 2014 adalah edisi ke-10 festival ajzz terbesar di dunia. Indonesia boleh bangga akan festival yang produksinya dilakukan oleh orang Indonesia dan dalam waktu kurang dari 10 tahun telah menjadi festival terbesar di dunia. Hingga akhirnya Pak Peter berpesan, “Ada atau tidak ada saya, Java Jazz Festival harus tetap ada!"