Epic Java : Merekam Kemegahan Pulau Jawa

16-09-2013 05:09:07 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Film Epic Java yang sempat hangat menjadi perbincangan di dunia maya dalam satu tahun ke belakang, akhirnya diputar di bioskop Blitzmegaplex Grand Indonesia pada hari Jumat, 13 September 2013 kemarin.

Tim JakartaVenue.com tak ketinggalan menonton film non–naratif yang menceritakan tentang perjalanan lahirnya Javadvida atau lebih kita kenal sebagai pulau Jawa itu. Dengan durasi 30 menit, kita dibawa kedalam visual keunikan Pulau Jawa dari sudut pandang yang berbeda. Ada tiga part besar dalam film ini untuk pemberian kesan yang spesifik pada masing-masing wilayah, yaitu : Surya, mencakup wilayah Jawa bagian timur, Sakral mencakup wilayah Jawa bagian tengah, dan Priangan mencakup wilayah Jawa bagian barat,

Berawal dari keisengan Febian Nurrahman Saktinegara, sutradara film Epic Java yang mengabadikan moment liburan di Jogjakarta dengan menggunakan kamera DSLR miliknya. Kemudian ia mengumpulkan footage-footage dari kameranya dan dibuatlah sebuah video teaser dengan judul "Mysterious Ashes – Epic Java". Dengan durasi 52 detik ia unggah video tersebut ke YouTube dan Vimeo. Tak disangka, sambutan di dunia maya sangat besar, dari mulai jumlah viewer di youtube yang meningkat setiap harinya sampai pernah juga menjadi hot thread di salah satu forum online terbesar di Indonesia.

Dari situ muncul perasaan tanggung jawab terhadap karya yang dibuat. “Mau diapain dan mau dibawa kemana nih Epic Java?” Ujar Febian kala itu. Namun, kebingungannya pun terjawab seiring dengan bergabungnya kedua temannya menjadi tim Epic Java. Yang tadinya hanya bekerja berdua bersama Arie Naftali Hawuhede (produser Epic Java) hingga akhirnya menjadi empat orang tim bersama Galih Mulya Nugraha sebagai screenwriter dan Denny Novandi Ryan sebagai Music Composer dan Sound Designer.

Dengan mengunjungi sekitar 50 lokasi di pulau Jawa dan menghabiskan waktu selama satu tahun, mereka merekam berbagai moment di pulau Jawa serta perilaku alamnya. Jika sebelumnya hanya asal merekam saja, maka setelah kehadiran Galih, semua gambar itu jadi mengisyaratkan sebuah makna. “Perjalanan matahari ketika terbit dari timur melambangkan sebuah kelahiran, kemudian ia berjalan terus mengelilingi pulau jawa sampai akhirnya tenggelam di ufuk barat. Itu ibarat symbol perjalanan kita sebagai manusia yang hidup di masa kini” terang Galih menjelaskan.

Berkat kegigihan para crew tersebut, walaupun Epic Java dibuat dengan budget dan peralatan minim, saat berbentuk teaser saja, film yang menyajikan  90% gambar timelapse dan video slow motion itu meraih banyak penghargaan baik di dalam maupun luar negeri.

https://www.youtube.com/watch?v=ybwOOSt8Ur0

Banyak kesulitan yang dihadapi tim Epic Java, baik dari segi teknis, maupun non teknis. Menurut Febian, untuk merekam moment alam yang pas itu dibutuhkan waktu dan kesabaran yang sangat tinggi. Dengan peralatan yang minim, membuat mereka mengerjakannya secara manual. Misalnya ketika merekam Lengan Bima Sakti di daerah Garut Selatan, ia memasang slider-80cm (yang sudah ditempeli meteran jahit) pada dua tripod dan memposisikan kamera DSLR di atasnya. Dengan konsentrasi dan kesabaran penuh, ia harus mengambil motion timelapse pergerakan bintang dengan cara memindahkan kamera secara manual per 0,5 cm dengan interval 1 menit sejauh 80 cm. Dari start sampai selesai memakan waktu berkisar 3 jam untuk mendapatkan video hanya 6 detik. Kesulitan lainnya adalah ketika sudah datang jauh-jauh ke lokasi tujuan, tetapi keadaan alam sedang tidak bersahabat.

Menurut Asep Rocadi, pengamat dari sisi pariwisata yang datang saat itu berpendapat bahwa film dengan jenis seperti ini merupakan hal yang baru di jika dilihat dari kacamata tourism movie. Namun yang menjadi persoalan, apakah film seperti ini dapat berpengaruh terhadap minat kunjungan wisatawan terhadap tempat-tempat tersebut.

Lain lagi pendapat Cahyo Alkantana yang melihat film Epic Java dari sisi industry film documenter. Cahyo agak menyayangkan peralatan yang digunakan tim Epic Java belum memenuhi syarat untuk “dijual” ke industri international.  “Kalau saja menggunakan gear yang diupgrade sedikit, blackmagic film ini mungkin bisa lebih maksimal. Kenapa kita jual ke luar negeri? Karena film documenter di Indonesia nggak laku. Stock shot  yang dijual ke agen saya di Bristol, Inggris. Kalau gambar kita masuk kategori best shoot , harga film yang biasanya 500 dolar AS per menit bisa naik hingga 20 kali lipat” Katanya menjelaskan.

“Saran saya, keep going on with your passion dan cari market di luar negeri. Karena semakin bertambah usia, harus semakin realistis menjalani hidup. Apalagi jika suatu saat kalian berkeluarga” lanjut Cahyo menerangkan industry dokumenter.

Text by Meliza Sopandi