Reform Good Times Festival: Menciptakan Lantai Dansa di Tengah Taman Kota

11-09-2013 02:09:45 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Masyarakat metropolitan seringkali terjebak dalam dilema, termasuk dalam menghabiskan waktu akhir pekan. Kadang terlintas keinginan untuk melakukan sesuatu yang unik pada akhir pekan, namun sering kali berujung pada kegiatan tipikal pada umumnya.

Nampaknya sebuah acara sederhana namun juga mampu memuaskan utilitas personal di akhir pekan menciptakan permintaan tersendiri di kawasan ibukota.

Reform Good Times Festival hadir memenuhi permintaan tersebut. Dengan menyulap Taman Krida Loka menjadi lantai dansa yang besar, acara ini terasa seperti sebuah pesta di halaman belakang rumah sendiri. Strata demografis pun tak menjadi halangan, masyarakat tua, muda, lokal, serta ekspatriat menikmati pesta yang digelar hari Sabtu tanggal 7 September kemarin ini.

Panitia sepertinya paham akan keinginan pengunjung yang memiliki selera berbeda-beda sehingga tiga panggung disediakan di dalam acara yang digadang oleh Juice Magazine dan Soundshine Events ini. Whiteboard Journal Stage di sisi kiri venue menjadi rumah bagi para pecinta musik urban dan eklektik. Jajaran pengisi seperti Soulmenace Sound System dan Aardvarck me-mash up antar genre di antaranya reggae, soul, hip hop, dan R&B menggunakan satu set turntable diiringi atraksi scratching yang retro.

Sedangkan Mevius Stage yang terletak dekat dengan Main Stage menyajikan suguhan musik yang lebih kekinian. Rangkaian DJ seperti Archie, Bergas, dan Rei memanja pengunjung dengan remix yang mengandalkan beat-beat medium. Selain itu, acara ini juga mengadakan bazaar vinyl-vinyl impor dan juga food stall di sekeliling venue.

Semakin malam, Main Stage pun diramaikan oleh musisi seperti Jamie Aditya, Dam Funk, hingga Chris Karns, namun sayangnya hujan mengguyur Senayan sesaat sebelum The Stepkids naik mengisi panggung. Tapi sepertinya hal tersebut tak menyurutkan antusiasme pengunjung untuk bersenang-senang pada malam itu. Sebuah pembuktian bahwa pengunjung memang sedang menikmati waktu berharganya yang mungkin jarang mereka dapatkan, layaknya sebaris idiom Inggris kuno, “It’s the whale of a time, there’s no time like the present”.

Text by Galih Gumelar Photo by Egon Saputra