Maha Cinta Rahwana: Menggali Makna Cinta Sejati Bersama Sujiwo Tejo

02-09-2013 09:09:23 By Egon Saputra
img

Tak ada nyala lilin di atas kue maupun pesta meriah dalam memperingati dua puluh lima tahun perjalanan karir Sujiwo Tejo di ranah seni.

Hanyalah panggung sederhana serta ungkapan artistik sebagai selebrasi kematangan kreatifitas yang dituangkan ke dalam sebuah roman unik berjudul “Maha Cinta Rahwana” yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 30 dan 31 Agustus kemarin.

Sujiwo Tejo, yang juga bertindak sebagai dalang, mengawali perjumpaan dengan melantunkan bait-bait perlambang curahan hati seorang Rahwana. Sebuah momen menarik karena tak disangka seniman yang populer akan lontaran “jancuk”-nya ini dapat terdengar begitu puitis serta romantis. Kesempatan ini turut dimanfaatkan Sujiwo Tejo untuk menyorot perasaan murni Rahwana terhadap Sinta, membantu melepaskan label antagonis yang Rahwana emban sejak jaman dahulu.

Alur cerita pun kemudian terbentuk melalui rangkaian lagu-lagu yang dinyanyikan oleh musisi-musisi berbakat tanah air seperti Syaharani, Sruti Respati, Anji, hingga Glenn Fredly. Sebanyak 14 lagu dimainkan, namun lagu “Maha Cinta Rahwana” serta “Kidung Kekasih”-lah yang paling banyak mengundang decak kagum dari para penonton yang hadir. Butet Kartaredjasa juga tak ketinggalan ikut menyuarakan kritik-kritik sosialnya dengan berperan sebagai seorang tokoh agama yang kerap mengguyonkan sindiran-sindiran cerdas.

Walaupun bertajuk konser, namun “Maha Cinta Rahwana” lebih terlihat seperti sebuah pertunjukkan seni terpadu. Monolog, dialog, tarian, lakon wayang, serta berbagai nyanyian membangun sebuah plot kisah yang begitu emosional. Terlihat jelas upaya Sujiwo Tejo dan Agus Noor sebagai creative director untuk meyakinkan penonton bahwa cinta sejati itu memang nyata adanya.

Penonton juga dapat merasakan gejolak perasaan Rahwana meskipun penggunaan bahasa Jawa sangat dominan pada konser ini. Dan atas alasan tersebut, tak berlebihan rasanya apabila “Maha Cinta Rahwana” terbilang sebagai wujud kredibilitas seorang Sujiwo Tejo dalam menghasilkan karya-karya seni yang mampu menembus batas-batas kultur tertentu.

Text by Galih Gumelar Photo by Egon Saputra