Film “Green Street Hooligans": Proses Pendewasaan Diri melalui Fanatisme Sepakbola

15-08-2013 10:08:04 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Tak selamanya pendidikan formal mengajarkan pelajaran bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia nyata. Pernyataan itulah yang ingin ditegaskan oleh film “Green Street Hooligans”, sebuah film yang tak hanya menyajikan nilai-nilai moral namun juga menawarkan plot cerita yang menarik.

Film asuhan sutradara Lexi Alexander ini berkisah tentang seorang mahasiswa jurnalistik bernama Matt Buckner (Elijah Wood) yang dikeluarkan dari Universitas Harvard karena difitnah menyimpan obat-obatan terlarang dan kemudian memutuskan untuk pindah ke London demi melupakan masalah yang terjadi di Amerika Serikat. Namun pertemuannya dengan adik sang ipar bernama Pete Dunham (Charlie Hunnam) malah membuat Buckner terjerumus ke dalam dunia fanatisme sepakbola yang cukup kelam dengan bergabung ke dalam firm bernama Green Street Elite (GSE), sebuah perkumpulan suporter-suporter fanatik bagi klub West Ham United.

Kehadiran Buckner di GSE ternyata tidak disambut baik oleh orang kepercayaan Dunham bernama Bovver (Leo Gregory) yang mencurigai identitas Buckner sebagai mahasiswa jurnalistik. Dan disaat kebencian Bovver terhadap Buckner berubah menjadi pengkhianatan terhadap GSE, berhasilkah Buckner dan Dunham mempertahankan reputasi organisasi serta harga diri mereka masing-masing?

Film yang dirilis pada tahun 2005 ini banyak menuai kritik positif serta berhasil menjadi official selection di berbagai festival film internasional. Di samping itu, “Green Street Hooligans” juga menggunakan lagu-lagu dari musisi Inggris kenamaan seperti The Stone Roses, Kasabian, serta Dire Straits sebagai backsound yang melatari berbagai adegan di dalamnya. Film ini memberi pelajaran bahwa melarikan diri dari masalah adalah tindakan mengecewakan bagi seorang manusia dewasa, layaknya quote terkenal yang dilontarkan oleh Pete Dunham di dalam film ini: “You don’t run, not when you’re with us. You stand your ground and fight!”

Text by Galih Gumelar