Titik Terang, Sidang Rakyat Dimulai: Secercah Harapan Melawan Korupsi

08-07-2013 03:07:07 By Egon Saputra
img

Ratna Sarumpaet kembali melahirkan karya drama teater berjudul “Titik Terang, Sidang Rakyat Dimulai”. Melahirkan karya-karya besar seperti “MARSINAH, Nyanyian dari bawah Tanah” (1994), “ALIA, Luka Serambi Mekah”, “Maluku Kobaran Cintaku” dan “Jamila dan Sang Presiden”, tak membuat Ratna Sarumpaet “menutup mata” menilik persoalan pelik di negara ini.

Korupsi terus menggila dan merajalela, mulai dari kantor-kantor kelurahan hingga Istana Presiden. “Titik Terang, Sidang Rakyat Dimulai” tercetus sebagai bentuk perlawanan atas penjajahan kapitalis asing yang membuat kedaulatan rakyat dan harkat bangsa ini terus terampas.

Karya ini mengajak penonton menyaksikan kehidupan manusia di sebuah negeri yang memiliki kepelikan persoalan sangat sempurna, dengan kebuntuannya yang juga sangat sempurna. Menyibak takdir kebuntuan yang sekian lama tersumbat oleh sederetan pertanyaan yang tak mampu mereka jawab, suara-suara di pentas memperdengarkan kekecewaan, amarah, tangis, juga tawa.

Suara anak-anak kecil bernyanyi tentang harapan dan mimpi-mimpinya; seorang aktivis mabuk merasa tak berguna, dilakoni Teuku Rinu Wikana; Seorang pelacur merasa punya “mata berlapis” (Atiqah Hasiholan) serta seorang putri koruptor meratap menanggung malu (Maryam Supraba) dan sebuah sidang rakyat yang bertumpuk persoalan dan berakhir tanpa ujung. Kehadiran seorang Ibu yang sudah renta dimakan usia, menunjukkan karya ini menolak akhir yang putus asa, menggiring penonton melihat bahwa ada “Titik Terang” yang harus dikejar. Ada perenungan sejati yang harus ditempuh. Si Ibu pun mengajak penonton melakukan perenungan, dengan berdiri tegak menatap wajah kita dan membaca riwayat kita dengan keberanian jernih.