Soekma Djaja - Tradisi Betawi Menghadapi Modernisasi

27-05-2013 06:05:15 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Gambang kromong adalah sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Sebutan gambang kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya. Endo Sasongko, perwakilan dari Diatone Asia, melihat kesenian yang berbau tradisi dinilai sudah mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta. Oleh karena itu sebagai promotor, Diatone Asia turut berperan serta membantu Teater Abnon dalam pelaksanaan pertunjukan. “Kami yakin warna kebudayaan Betawi yang dikemas dengan sangat menarik mampu menyampaikan pesan moral dengan cara yang dapat dinikmati berbagai kalangan”, ujarnya. Tiket dapat dibeli di Beam Cafe Jl Tebet Utara Dalam no.19 Tlp: 71224555 (Erick), ticket booth di Mandiri Carnival Nusantara (Senayan City, 26 Mei 2013) atau melalui website www.blibli.com dengan pembagian kelas sebagai berikut :
    • VIP : Rp 250.000
    • Kelas 1 : Rp 200.000
    • Kelas 2 : Rp 100.000
Menjelang pementasannya, para pemain juga menyelenggarakan showcase yang menampilkan salah satu adegan dalam pementasan tersebut lengkap dengan kostum serta musiknya dalam acara “Java Week 2013” di Main Atrium Senayan City pada hari Sabtu, 1 Juni 2013 pukul 19.00 WIB. Soekma-Djaja-Poster [divider] Sinopsis [/divider] Sandiwara Betawi, Soekma Djaja menuturkan potret kehidupan sebuah keluarga Betawi pinggiran yang masih mempertahankan tradisi musik Betawi, Gambang Kromong. Dikisahkan keluarga seniman ini, hidupnya semakin sulit karena desakan ekonomi yang tidak dapat dipenuhi dari pemasukan sebagai penggiat Gambang Kromong. Apalagi tradisi musik ini semakin tergerus oleh arus zaman modern. Berbagai cara pun dilakukan oleh keluarga Maman Djaja untuk bertahan hidup. Namun Jay, si sulung peraih beasiswa di kampus ternama, sama sekali tidak berminat terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kesenian Betawi. Kesenian tradisional dianggapnya tidak bisa memenuhi kepentingan ekonomi keluarga. Sementara Yadi, si bungsu yang duduk di bangku SMA, malah bertekad untuk meneruskan usaha keluarganya tersebut. Dunia kampus yang penuh warna dan kerasnya kehidupan jalanan, terpadu dalam kisah pencapaian cita-cita di ibukota tercinta,Jakarta.