Teater Gandrik ‘Gundala Gawat’ : Negeri Ini Penuh Sandiwara

30-04-2013 12:04:00 By Egon Saputra
img

Mari kita flashback ke beberapa tahun silam. Ingat dengan karakter superhero Amerika jebolan Marvel Comics yang mengenakan topeng dengan baju ketat bergambarkan bendera negaranya disertai tameng? Akhir-akhir ini tokoh tersebut kembali hadir di serial The First Avenger (2011) dan The Avengers (2012).

Ya! dia adalah Captain America. Di Indonesia ternyata memiliki pula karakter serupa namun tak sama. Gundala Sang Putra Petir, sebuah karakter komik nan krusial karya komikus ternama Indonesia, E. Harya Suraminata (Hasmi). Gundala sempat merajai dunia komik di tahun 70an. Gundala tak mengenakan bendera apapun, ia berkostum hitam seluruhnya, berupa kaos ketat. Ia bertopeng dan bertutup telinga yang berhiaskan sepasang sayap kecil. Sekilas mirip dengan Captain America, tapi justru itulah awal parodinya. Hasmi seakan-akan hendak menapilkan tokoh yang dikenal luas bertarung di kota besar Amerika seperti New York, tapi sebenarnya ia meletakkannya di sebuah kota yang tak cocok, Yogya.

Ungkapan “Dunia ini adalah panggung sandiwara” seyogyanya menjadi cerminan bagi negeri ini. Betapa tidak sedikitnya sandiwara-sandiwara yang digoreskan oleh pelakon yang mengatasnamakan wakil rakyat dan instansi telah kita saksikan di layar kaca. Mulai dari sandiwara rumah tangga, sandiwara santet, sandiwara hipnotis, sandiwara korupsi hingga sandiwara pendidikan yang mana para calon penerus bangsa diperlakukan bak kelinci percobaan demi meraup keuntungan sepihak. Ketidakseimbangan elemen-elemen tersebut melahirkan sebuah lakon. Lakon tersebut bermain dalam sebuah teater yang dikenal ‘Gundala Gawat’. Berangkat dari problematika negeri ini, Goenawan Mohamad dan Hasmi mencoba menyelesaikan masalah sandiwara Tanah Air dengan sebuah sandiwara pula yang dikemas secara humor dan “menyentil”.

Gundala Gawat sepenuhnya dipercayakan kepada sanak saudara dari Teater Gandrik. Dikenal sebagai kelompok kreatif, Teater Gandrik sangat fleksibel. Panggung menjadi medan permainan para aktor secar luwes, cair dan cenderung “memain-mainkan karakter” dalam lakon-lakonnya, sehingga tak ada batasan yang jelas antara “aktor sebagai pemain” dengan “watak yang dimainkannya”. Sebagai leluhur Teater Gandrik, Butet Kertaradjasa sepenuhnya mendukung sepenuhnya pementasan yang diselenggarakan selama beberapa hari pada 16 – 17 April 2013 di Taman Budaya Yogyakarta dan 26 – 27 April 2013 di Graha Bhakti Budaya, TIM. Bahkan Gundala sendiri merupakan tokoh lakon pesanan Butet. Selain itu, nama Djaduk Ferianto dan Agus Noor menjadi otak dibalik tata musik dan naskah Gundala Gawat. Goenawan Mohamad menyebut Agus Noor sebagai “Pendamping Hidupnya” (baca: Penulis Pendamping) .