Konser Bloc Party Jakarta: Penantian 8 Tahun Untuk 90 Menit

22-03-2013 06:03:12 By Egon Saputra
img

Hujan lebat yang mengguyur Tennis Indoor Senayan pada Rabu lalu (20/3), ternyata tidak menyurutkan antusiasme para penonton konser band indie rock asal Inggris, Bloc Party.

Setelah dijadwalkan bermain di Future Music Festival Sepang dan Singapore, kini giliran Jakarta menjadi pemberhentian selanjutnya Kele Okereke (Rhythm Guitar, Vocal), Russel Lissack (Lead Guitar), Gordon Moakes (Bass, Synths, Backing Vocals) dan Matt Tong (Drums, Backing Vocals).

Melalui hasil voting di twitter, Ismaya Live selaku promotor menganugerahkan sebuah kesempatan emas kepada The Adams yang diutus sebagai opening act konser Bloc Party di Jakarta. Band yang terbentuk tahun 2002 ini, mulai naik panggung sekitar pukul 20:25 WIB. Lagu-lagu andalan The Adams seperti ‘Selamat Pagi Juwita’, ‘Waiting, ‘Kau Disana’, ‘Pijakkan’, ‘Berwisata’, ‘Hanya Kau’ dan ‘Konservatif’ berhasil “memanaskan” seisi Tendor sampai ‘Halo Beni’ menutup perjumpaan kelima personil The Adams.

Jeda saat The Adams turun panggung ternyata cukup lama juga, hampir sejam para crew Bloc Party mengeset instrumen. Para penonton semakin tidak sabar dengan penampilan band Inggris tersebut yang telah melahirkan empat album. Lampu dimatikan dan crowd mulai heboh, satu persatu para personil Bloc Party berbaris menaiki stage sambil melambaikan tangan. Matt yang berada di barisan depan terlihat bertelanjang dada yang hanya mengenakan celana jeans. Kemudian barisan selanjutnya diikuti Russel, Moakes, dan Kele. “Good evening Jakarta. We are Bloc Party, we are from England” sapa Kele, yang langsung membuka konser pada pukul 22:00 WIB dengan lagu dari album Four So He Begins To Lie yang disambut oleh histeria penonton. Disusul Trojan Horse, Hunting for Witches serta Positive Tension yang memainkan nada-nada penuh distorsi. Malam itu Kele yang mengenakan kaos hitam bertuliskan “Support Your Local Artist” acap kali mencoba berinteraksi dengan para penggemarnya. Beda lagi dengan Russell dan Matt, mereka sangat atraktif diatas panggung. Sedangkan Moakes lebih passive dibanding ketiga temannya, karena sibuk memainkan tiga buah instrumen secara bergantian. Bass, keyboard dan Glockenspeil, seperti saat lagu Waiting For The 7:18 berdenting. Nomor selanjutnya yang dimainkan adalah lagu dari album A Weekend In The City, Song for Clay. Hampir seluruh lagu di album Four dimainkan seperti Day Four, We Are Not Good People, Octopus dan Truth.

Tiga belas lagu sudah mereka bawakan, tanpa basa-basi para personil Bloc Party turun panggung. Turunnya mereka hanya ingin beristirahat sejenak. Rasanya tidak mungkin mereka menyudahi konser, namun penonton yang memenuhi kategori festival mulai meneriakan “We want more.. we want more..” . Selang berapa menit kemudian mereka kembali ke panggung. “Let’s to round two” Ujar Kele disambung lagu keempat belas Kreuzherg dan lagu kelima belas Ares. Sepenggal reff dari lagu Rihanna We Found Love pun dimainkan yang sebelumnya Kele meminta kepada para penonton perempuan untuk ikut bernyanyi bersama. Flux dan This Modern Love ternyata menjadi penutup encore pertama.

Lagi-lagi para personil Bloc Party balik ke belakang panggung, kali ini teriakan “We want more” semakin kencang. Penonton merasa belum puas, Bloc Party pun mengyuguhkan tiga lagu terakhirnya buat para penggemarnya yang sudah sabar menanti kedatangan mereka selama 8 tahun. Sunday dan Like Eating Glass dikumandangkan. Klimaks semakin terasa saat Helicopter “diterbangkan”. Dua buah balon raksasa berbentuk kubus dilemparkan ke arah penonton. Aksi panggung Bloc Party juga semakin lengkap dengan sound dan lighting yang ciamik. Semua penonton dan rekan-rekan media pun kagum dengan apa yang mereka saksikan malam itu. Sembilan puluh menit aksi panggung yang maksimal dan totalitas akan menjadi moment berharga bagi mereka yang hadir di Tendor. Sebagai tanda penghormatan, para personil Bloc Party berkumpul di tengah panggung membungkukan badan sejenak dan melambaikan tangan sebelum akhirnya mereka hilang ke belakang panggung.