Pentas Ulang Kabayan Jadi Presiden di Bandung

04-02-2013 01:02:39 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Poster KJP Setelah sukses dipentaskan di Taman Ismail marzuki Jakarta pada13-15 Juli, kini lakon “Kabayan Jadi Presiden” akan hadir di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung, pada tanggal 7 Februari 2013, pukul 20.00 WIB. Pentas “Kabayan Jadi Presiden” ini merupakan lanjutan dari program INDONESIA KITA, yang bekerja dengan seniman-seniman Bandung seperti Tisna Sanjaya (yang berperan sebagai Kabayan),  Aat Soreatin, Didi Petet, Hari Pochang (sebagai Tim Kreatif) dan beberapa artis dan komedian seperti Peggy Melati Sukma, Joe P-Project, Argo, Oni SOS, Herry Antha, Budi Dalton, Mang Imank dan Kelompok Musik Karinding Attack, Rumah Musik Harry Roesli, dan banyak lagi. Acara ini didukung sepenuhnya oleh Djarum Coklat Ekstra. “Ini lakon komedi yang melihat secara kritis perihal kepemimpinan yang kehilangan ketauladanan” ujar Butet Kartaredjasa, yang menjadi salah satu Tim Kreatif INDONESIA KITA bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto. INDONESIA KITA merupakan sebuah forum budaya, yang mencoba memahami kembali Indonesia sebagai sebuah proses berbangsa dan bernegara; sebuah proses ke-Indonesia-an melalui jalan kesenian dan kebudayaan, dengan mengolah kembali kekayaan khasanah seni budaya. Di mulai pada tahun 2011, INDONESIA KITA telah menyelenggarakan dan memfasilitasi pentas-pentas, yang merupakan kolaborasi dari berbagai seniman lintas disiplin, dan juga melibatkan seniman-seniman dari beragam latar etnis, yang semakin menyadari pentingnya mengolah semua potensi ekspresi seni yang ada, ke dalam bentuk-bentuk pemanggungan yang kreatif dan menarik, sebagai sebuah jalan kebudayaan untuk membangun Indonesia yang plural, toleran dan berbudaya, sebagai “Rumah Bersama”. Tentang “Kabayan Jadi Presiden” Siapa yang tak kenal karakter Kabayan? Bisa dibilang karakter Kabayan berhasil melintas zaman justru karena konsistensi sikapnya. Sejak film layar lebar yang mengetengahkan karakter Kabayan dalam Si Kabayan Saba Kota (1989) hingga Kabayan Jadi Milyuner (2010), karakter lelaki asal Sunda ini tetap awet menampilkan karakter manusia yang polos, lugu, dan jujur. Sosok Kabayan mewakili figur manusia yang tetap memegang teguh prinsip tak peduli kondisi eksternal apa pun. Inilah yang juga tergambar dalam pertunjukan ini. Ketika perilaku politikus semakin sulit difahami. Ketika para pemimpin seperti sibuk dengan kepentingannya sendiri dan partainya, rakyat pun gelisah. Mereka sangat rindu pemimpin yang bisa mereka percayai. Dalam situasi seperti itu sosok Kabayan muncul. Ini menjadi semacam kerinduan rakyat pada sosok pemimpin yang benar-benar jujur dan bisa mereka percaya.  Rakyat ramai-ramai mengusung slogan: Kabayan for President. Partai politik pun berebut mengambil simpatik rakyat dengan mengusung Kabayan. Karena ketika diadakan survai, nama Kabayan pun jauh mengungguli popularitas para calon presiden lainnya, bankan lebih disukai dari pada incumbent. Apa yang kemudian terjadi, ketika akhirnya Kabayan Jadi Presiden? Inilah yang membuat menarik pertunjukan ini. Kabayan bukan sekadar tokoh yang lucu dan lugu. Kabayan bukan hanya menghadirkan kekonyolan. Kabayan sesungguhnya sebuah cara berfikir alternatif.  Itulah yang oleh tim kreatif pentas ini (Didi Petet, Aat Soeratin dan Hari Pochang) ingin dihadirkan dalam pementasan ini. Di kalangan anak-anak muda sekarang ini, banyak sekali interpretasi atas sosoknya. Karena ia dilihat bukan semata sebagai sosok yang dibutuhkan dunia hiburan, tetapi juga di tingkat gagasan. Sosoknya  bisa menjadi icon bagi “pemikiran alternatif, seperti Che Guevara. Ia bisa menjadi inspirasi perubahan melalui jalan kebudayaan. Kabayan mewakili harapan rakyat biasa, apa adanya, dan hanya berharap bahwa kondisi kehidupan yang dijalani baik-baik saja tidak hanya bagi dirinya namun juga lingkungan. Harapan yang sederhana namun ternyata begitu pelik saat diwujudkan. Terutama dalam kondisi politik Indonesia menjelang pemilihan presiden pada 2014 nanti. Kabayan hadir tak hanya sebagai wakil dari wujud masyarakat Indonesia yang masih murni, namun juga representasi dari moral yang seharusnya bisa menjadi panutan dalam bersikap. Menyaksikan Kabayan dalam lakon ini, penonton akan dihadapkan pada situasi bahwa sifat-sifat kebaikan manusia sekalipun, bisa ditunggangi dan dimanipulasi. Bahkan karakter manusia yang jujur dan polos, dalam dunia politik dikemas menjadi produk yang dijual kepada masyarakat. Inilah yang terjadi pada Kabayan. Kejujuran dan kepolosannya memang telah dikenal oleh banyak orang dan itulah yang membuatnya disukai dan populer. Dan menjelang pemilihan presiden, karakter manusia seperti ini sangat diperlukan untuk menarik massa. Kabayan dalam Konteks “Pilkada” Saat Ini Dan dalam konteks saat ini, ketika berlangsung proses Pemilihan Gubernur Jawa Barat, lakon yang menghadirkan sosok Kabayan ini menjadi makin relevan: Partai-partai politik akan berlomba-lomba memburu kandidat yang populer namun mau untuk dikemudikan arah sikapnya kelak jika terpilih. Kisah yang diangkat di pertunjukan ini sebenarnya bisa dijadikan rambu-rambu bagi masyarakat menjelang pemilu bahwa kita tak lagi hanya bisa mengandalkan karakter sosok yang dipilih tapi harus semakin cerdik untuk melihat unsur apa yang mendukung di balik itu. Justru kekuatan yang berada di belakang, wajib diwaspadai mengingat merekalah yang memiliki kepentingan besar untuk mendapatkan keuntungan dari rakyat. Maka, ketika “Kabayan Jadi Presiden” dipentaskan (ulang) di Bandung, ia menjadi sebuah peristiwa budaya, yang tak hanya bermakna sebuah pertunjukan. Peristiwa ini menjadi semacam peristiwa “Kabayan pulang kampung”, pulang ke rumah dan jiwa yang membesarkannya, ke jiwa rakyat yang menjadi sumber inspirasi kehidupannya. Kabayan seperti diingatkan: ia harus selalu dekat dan berada dalam jiwa rakyat yang mencintainya. Seperti itulah, semestinya, seorang pemimpin sejati. Inilah yang akan didapatkan oleh penonton lewat pertunjukan ini. Sebuah hiburan yang tak hanya kental dengan sentilan-sentilan, tapi juga mengingatkan apa yang sebentar lagi akan terjadi. Sekaligus memperlihatkan bahwa mempertahankan kejujuran dan idealisme telah menjadi barang langka di negeri ini. Terutama untuk sosok pemimpin. Selamat menyaksikan.