Golden Path of Love: Persembahan Cinta WWF Indonesia Di Hari Ibu Untuk ‘Ibu Pertiwi’

26-12-2012 02:12:44 By Egon Saputra
img

Indonesia yang memiliki puluhan ribu pulau yang tersebar dari ujung barat sampai timur, memiliki kenekaragaman hayati yang beragam. Ribuan spesies hewan dan tumbuhan hidup di negeri ini. Beberapa tahun belakangan, kita dihadapkan pada issue Global Warming. Dimana terjadi kenaikan suhu permukaan bumi dan sebagian es di kutub mencair. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena rusakya ekosistem dan habitat makhluk hidup di bumi. Tangan-tangan manusia yang usil dan tidak bertanggung jawab lah yang membuat “Ibu Pertiwi Menangis”. Ibu Pertiwi yang kerap dikaitkan dengan Bumi mempunyai peran yang sama, keduanya sama-sama melahirkan dan menumbuhkan. Bumi merupakan ibunya kehidupan, sementara ibu pertiwi adalah tanah tempat kita berpijak. Hampir separuh hutan di bumi ini dibabat, ekplorasi tambang yang berlebihan, hancurnya terumbu karang karena penggunaan pukat harimau dan hewan-hewan dibunuh untuk kepentingan kelompok tertentu. Banyak orang yang tahu tapi pelupa. Ada pula yang tahu, namun pura-pura tidak tahu. Dan ironis, dia tidak tahu, namun sok tahu. Fenomena inilah salah satu penyebab cepatnya kerusakan Bumi, yang sebagaimana dikutip oleh Rani Badri Kalianda dalam buku acara Live Concert & Theatrical Performance Golden Path of Love. Golden Path Berangkat dari hal itu lah WWF Indonesia yang bertugas pada penyelamatan spesies langka, kini memperluas ruang lingkup kerjanya dengan menyelamatkan habitat spesies dan semua yang terkait dengan kelestarian ekosistem suatu kawasan. Perubahan strategi konservasi dilakukan dengan adanya beragam kerjasama dengan berbagai pihak. Kehadiran WWF Indonesia sejak 1962 telah memberikan banyak sumbangsih pada kelestarian alam Ibu Pertiwi yang telah memasuki dekade kelima. Golden Path of Love yang mengangkat judul ‘Persembahan Cinta Untuk Bumi’ merupakan cerminan rasa cinta dan prihatin yang mendalam pada nasib Ibu Pertiwi saat ini. Melalui beberapa rangkaian acara yang digelar pada tanggal 16 – 21 Desember seperti Green Bazaar, Music & Art Festival, Fun Bike, Photo Exhibition, Kid’s Corner dan ditutup oleh Live Concert & Theatrical Performance 22 – 23 Desember 2012 dii Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Sebuah moment yang tepat untuk mengakhiri rangkaian acara Golden Path of Love yang bertepatan dengan hari Ibu, 22 Desember. Live Concert & Theatrical Performance Golden Path of Love ‘Persembahan Cinta Untuk Bumi’ merupakan sebuah rangkaian cerita yang terdiri dari lima segmen yang saling berkaitan serta selaras. Dibuka dengan siluet lima orang warga pedalaman membawa tongkat, lentara, dan beban dipunggungnya harus keluar hutan untuk mencari makan akibat ekosistem tak seimbang. Muncul seorang bapak yang sedang menidurkan anaknya di gubuknya yang berada di puncak bukit di tengah hutan Kalimantan yang indah dan perawan seraya bersenandung mendeskripsikan keadaan Bumi dulu, kini dan harapannya ke depan sambil diiringi alat musik khas suku Dayak, Sampek. Saat itu lah tujuh bidadari yang diperankan oleh Ardina Rasty, Asty Ananta, Smitha Ranajni, Lucyana Zaluska, Andara Rainy, Sharena Rizki dan Anneke Jody turun satu persatu dari langit ke kolam air terjun. Mereka melepas baju dan mandi di bawah air terjun sambil mengagumi keindahan hutan. Hutan Kalimantan dan tujuh bidadari merupakan simbol keindahan bumi. Namun sifat manusia yang serakah dan tamak membuat ekosistem rusak secara perlahan. Selain Kalimantan, terdapat 4 daerah lain yang menjadi sasaran jamahan tangan-tangan serakah manusia yaitu Tesso Nilo (Riau), Lamalera (NTT), Bajo (Sulawesi Tenggara) dan Asmat (Papua). Semua orang dari daerah tersebut menari, bernyanyi, berdoa dan bersenandung sebagai tanda kepedulian terhadap tanah kelahiran mereka dan dengan penuh pengharapan agar tidak ada lagi tangan-tangan manusia yang menjamah kehidupan harmoni mereka.