Representasi Keberagaman Musik Indonesia Di ICEMA 2012

01-12-2012 03:12:55 By Desca A. Yudha
img

“Jangan menilai musik Indonesia dari dari TV, radio, dan Koran. Tapi lihat juga yang ada di ICEMA”, ujar Wendy Putranto, salah satu juri ICEMA 2012 (Indonesia Cutting-Edge Music Awards), di Rolling Stone Café, Rabu malam (28/11). Pernyataannya di acara konferensi pers itu, menegaskan eksistensi ICEMA di dunia musik tanah air. Yaitu, sebagai wadah pemberian apresiasi bagi musisi dan karya musik populer yang bersifat alternatif. Sekaligus, sebagai media yang menyebarluaskan semangat keberagaman musik di Indonesia. Suatu hal yang bertolak belakang dengan industri musik Indonesia, yang kini sedang digempur dengan musik mainstream. Keberagaman musik, bisa dilihat dari 15 kategori, yang mewakili 15 genre musik cutting-edge yang berkembang di Indonesia. Namun, 15 kategori ini bukanlah angka pasti yang benar-benar merepresentasikan karya musik alternatif yang ada di tanah air. Menurut juri, masih ada karya musik yang belum dimasukkan ke dalam suatu kategori. Untuk itu, pihak ICEMA berusaha semaksimal mungkin, menjaring rilisan karya-karya musik baru. Terutama bagi musisi Indie yang menciptakan, memproduksi, dan mendistribusikan karyanya secara mandiri. 15 kategori musik alternatif itu adalah : death metal, electronic, hip-hop, folk, indie pop, indie rock, jazz, metal, noise, post-rock, punk/hardcore/post-hardcore, reggae/ska/rock-steady, rock/hard rock, soul/r n b, dan world music. Perkembangan Musik Cutting-Edge di Indonesia Menurut David Tarigan, pengamat budaya kontemporer yang menjadi salah satu juri di ICEMA, mengatakan bahwa perkembangan keberagaman musik alternatif di Indonesia, dipengaruhi dengan kemajuan teknologi informasi. Ia mencontohkan, bahwa saat ini seorang musisi dapat dengan mudah menciptakan suatu karya musik, dari kamarnya. Lalu dapat mendistribusikannya secara digital. Sementara itu, berdasarkan pengamatan Wendy, musik alternatif sudah dikenal sejak tahun 90-an di Indonesia. Hanya saja saat itu, band indie masih sangat sedikit. Ledakan band indie kemudian terjadi di tahun 2000-an. Bahkan di tahun 2010, band indie Indonesia sudah dikenal sampai ke negara-negara di Asia Tenggara. ICEMA pertama kali digelar di tahun 2010, dan kini telah menginjak tahun penyelenggaraan yang kedua. Dengan mengangkat tema “Karnaval Musik Indonesia”, ajang apresiasi musik yang didukung oleh Kementiran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu, menjadi suatu bentuk perayaan terhadap kekayaan ragam karya musik di Indonesia. Photos: Egon Saputra