Disco Bersama KunoKini di Jazz Goes To Campus

28-11-2012 03:11:59 By Desca A. Yudha
img

Tidak melulu musik jazz. Perhelatan Jazz Goes To Campus 2012 pada minggu malam (25/11), juga menampilkan permainan musik eksperimental. Seperti yang dilakukan oleh grup Kuno-Kini. Mereka mengemas permainan musik tradisional Indonesia, ke dalam nuansa musik yang kekinian. Salah satunya musik disko. Bismo, vokalis utama Kuno-Kini mengajak penonton untuk bergoyang bersama dengan irama disko. Selintas penonton yang baru mendengar dan melihat permainan musik dari grup yang terdiri dari 5 orang pria, ini tidak bisa membayangkan bagaiamana presentasi musik disco ala Kuno-Kini. Namun, perpaduan permainan musik perkusi dan melodis (semacam kolintang), menghasilkan sebuah aransemen musik disco yang unik. Irama beat disko terdengar begitu familiar di telinga, namun dengan harmonisasi bunyi-bunyian alat musik tradisional. Penonton yang terlihat malu-malu untuk bergoyang, mulai mengangguk-anggukan kepala dan menggerak-gerakan badan. Sementara seorang wanita bule yang berdiri di barisan depan, dengan asyiknya berjoget mengikuti irama disko. Sementara itu, di tengah-tengah acara pertunjukan, sang vokalis utama memainkan alat musik tiup dari kerang bernama Bia, asal Papua. Lalu melanjutkan medley ke lagu “Yamko Rambe Yamko”. Irama musik bertempo up-beat itu, secara khusus mereka persembahkan untuk para korban gempa. Menurut Bismo, bencana itu adalah awal dari segalanya. Dan untuk mengawalinya diperlukan kebahagiaan. Selain musik disko, Kuno-Kini juga mengemas musik rap dan hip-hop melalui permainan alat musik daerah. Misalnya, pada lagu berjudul “Hey Babe”, dengan lirik berbahasa Inggris.

Suasana Mistis

Kontras dengan permainan musik disko, Kuno-Kini juga memainkan aransemen musik yang terkesan mistis. Suasana mistis semakin terasa ketika dua personil Kuno-Kini memainkan alat tiup, semacam suling, tapi dengan ukuran yang lebih panjang dan diameter yang lebih besar. Grup yang pernah memenangkan Best Performance di ajang Folk Festival, di Jerman, ini akan terus membuat karya-karyanya yang inovatif. Khususnya di dunia alat musik tradisional. “Ada yang suka, engga ada yang suka. Jalan terus!”, kata Bismo dengan semangat. Menyaksikan permainan musik Kuno-Kini, menyadarkan kita betapa begitu kayanya budaya bangsa Indonesia. Alat musik tradisional itu, bahkan bisa bersanding secara harmonis dengan budaya populer. Photo: Egon Saputra