Parodi Bapak-bapak Pejabat Yang Takut Istri

20-11-2012 02:11:16 By Desca A. Yudha
img

Tipikal suami-suami takut istri yang sudah menjadi stereotype di kalangan masyarakat luas, sering menjadi bahan sorotan yang akrab di dunia televisi. Lihat saja salah satu lawakan yang menampilkan sosok seorang lelaki bertubuh tegap yang disegani di lingkungannya, itu ternyata bisa tunduk di bawah perintah istrinya. Lalu bagaimana jika hal itu terjadi di kalangan bapak-bapak pejabat? Jangan-jangan, kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini, juga tidak lepas dari pengaruh para nyonyanya. Tatanan rambut bersasak, riasan wajah dan tata busana yang tidak pernah absen dari kesan bersolek, serta gemerlap aksesoris perhiasan dan tentengan tas bermerek, menjadi atribut resmi bagi para sosialita ini. Kali ini, mereka tidak sedang menghadiri acara yang megah ala kaum jetset, tapi sedang mendampingi pasangan masing-masing yang segera dilantik menjadi anggota kabinet, di Istana negara. Dikisahkan, para menteri yang baru menjabat, itu beserta sang presiden, saling memamerkan kehidupan rumah tangga, yang menurut mereka harmonis. Salah satu menteri, yang diperankan Cak Lontong, mengatakan kepada pejabat yang lain, bahwa kehidupan rumah tangganya menjunjung asas demokrasi. Setiap kebijakan dalam rumah tangga diputuskan melalui lemparan koin. “Kalau koinnya gambar burung?”, tanya sang suami. “Berarti mamih yang ngatur”, jawab sang istri. “Kalau angka?”, lanjut suaminya. “Papih yang melakukan, mamih yang ngatur”, jelas si istri menteri. “Lah, terus kapan papih bisa ngatur?”. “Kalau koinnya berdiri”, tukas sang istri dengan nada tegas sambil menyeringai. Lebih lanjut lagi, kekuasaan para “nyonya istana” ini, turut mempengaruhi dalam pembuatan kebijakan-kebijakan pemerintah. Dengan cara-cara yang “halus”, mereka mendikte para suaminya. Di dalam sebuah sidang kabinet, mentri KomInfollow (plesetan bagi KomInfo), merencanakan untuk membuat agenda mengenai pembuatan website khusus kepresidenan. Lalu sang istri yang tengah sibuk bergosip dengan istri-istri pejabat lainnya, itu tiba-tiba menginterupsi. Ia lalu mengingatkan sang suami, dengan nada yang tidak mengancam namun cukup memprovokasi, agar proyeknya itu bisa melibatkan kerja sama dengan perusahaan milik keluarganya. Sang mentri lalu mengiyakan, dan mengusulkan hal tersebut kepada forum. Presiden Takut Istri Tidak jauh berbeda dengan keadaan para mentrinya, sang presiden pun, menjadi presiden tipe takut istri. Dibalik kewibawaannya dalam memimpin pemerintahan, ternyata orang nomor satu di negeri itu, bisa tunduk di bawah komando sang ibu negara. Misalnya, dengan mendikte apa yang harus dikatakan oleh seorang presiden, dalam suatu pidato kenegaraan. Pidato yang seharusnya menegaskan mengenai arah kebijakan pemerintah, malah berbelok menjadi pidato penegasan semangat 10 program kerja PKK. Sementara, di saat sang presiden sedang gamang dengan keselamatan dan keamanan di masa depannya, setelah selesai menjabat sebagai pemimpin di suatu negeri. Ibu negara, menyarankan agar sang presiden mendukung dirinya menjadi calon presiden di periode mendatang. Juga, menyarankan presiden untuk menyetujui ide sekretaris negara, dalam melaksanakan perkawinan politik, di mana putranya akan dinikahkan dengan putri dari pejabat yang punya pengaruh kuat dalam dunia politik. Ide cerita yang terinspirasi dari kehidupan para sosialita yang menjadi pasangan hidup dari para pembuat keputusan penting di dalam pemerintahan, ini merupakan gelaran terakhir dari rangkaian budaya Indonesia Kita di tahun 2012, dalam lakon “Nyonya-nyonya Istana” yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 16-17 November lalu. Adalah Hanung Bramantyo, sutradara yang dikenal dengan besutan film-filmnya seperti “Ayat-ayat Cinta”, dan “Perempuan Berkalung Sorban”, dipercaya sebagai sutradara dalam pementasan Indonesia Kita kali ini. Sementara trio kreatif : Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor, masih setia memberikan ide-ide kreatif yang kadang dipandang “nyeleneh”, di penutup pementasan kebudayaan Indonesia Kita. Terlepas dari siapa yang mendominasi pada pengambilan keputusan dalam berbagai kebijakan pemerintah, parodi “Nyonya-nyonya Istana” ini, memberi kritikan agar para pejabat pemerintah selalu berlaku adil dan tegas untuk memihak kepentingan publik. Photo: Egon Saputra