Djakarta Artmosphere 2012: Sebuah Harmonisasi Dalam Konser Lintas Generasi

14-11-2012 03:11:45 By Egon Saputra
img

Untuk ke 4 kalinya, perhelatan musik lintas generasi digelar. Sejak tahun 2009, Djakarta Artmosphere berupaya meruntuhkan dinding yang membatasi generasi musik dan genre musik yang selama ini begitu kokoh menyekat dua kutub yang seolah tak mungkin bersatu dan bersenyawa dalam gugus musik Indonesia dengan menyajikan pertunjukan musik lintas generasi dan lintas genre. Akhirnya kedua kutub yang berbeda itu leleh juga, tak ada lagi gap antara musisi lawas dengan musisi masa kini. Djakarta Artmosphere 2012 akhirnya rampung  pada Sabtu (10/11) di Balai Sarbini. Sekitar pukul 20:00 WIB, Djaksphere 2012 dibuka dengan penampilan The S.I.G.I.T yang diamanatkan berkolaborasi dengan Benny Soebardja. 'Clove Dopper' menjadi andalan Rekti Cs untuk membuka show malam itu. Atmosfir Balai Sarbini semakin memanas  saat ‘Up & Down’ mengudara, dilanjutkan 'Horse' dan 'Money Making'. 4 lagu sudah mereka kumandangkan, kini waktunya Benny Soebardja untuk tampil. Meski agak kurang fit, Benny tetap berusaha tampil semaksimal mungkin demi acara ini. Kolaborasi Rekti Cs bersama Benny sangat apik ketika mereka membawakan 'My Love'. Gimmick seru berhasil ditampilkan ketika Rekti memainkan suling disela-sela lagu ciptaan Beny ’18 Years Old’ dinyanyikan. Tak hanya saling sumbang vokal, namun mereka juga menunjukan permainan gitar yang menarik. Kurang lebih 45 menit The S.I.G.I.T dan Benny menghibur penonton, lagu ke 8 ‘Black Amplifier’ menjadi penutup penampilan mereka. Salah musisi independent yang yang melahirkan album ‘Salacca Zalacca’, Zeke Khaseli, dipercaya untuk berkolaborasi dengan penyanyi cantik lawas Ermy Kullit.Penampilan teatrikal dengan kostum-kostum yang menggambarkan sosok  alien dan hewan menjadi ciri khas dalam setiap penampilan Zeke Khaseli. Munculnya pria dan wanita bertopeng kuda yang berdansa sempat membuat penonton bertanya-tanya ‘Apakah itu Zeke?’. Di beberapa penampilan sebelumnya, Zeke selalu mengenakan topeng macan, namun terlihat penampilan berbeda Zeke yang hanya mengenakan topi bak Sherlock Holmes dengan muka dilumuri cairan hitam.  Zeke pun membawakan lagu ‘Boylien 9 on 1’ kemudian ‘11:01’. Kembali sosok alien ‘menjajah’ panggung. Aksi panggung Zeke memang beda dari musisi biasanya. Usai lagu 'Rolling Like a Stupid Stone', Ermy Kullit muncul dengan dress putih sambil membawakan lagu ‘Kasih’. Tidak mau melewati kesempatan ini, Ermy pun mengajak penonton untuk ikut bernyanyi. Zeke yang tadi mengiringi Ermy bernyanyi, kali ini ikut bersuara di lagu kedua mereka yang berjudul 'Don't Worry Darlin' dilanjutkan dengan lagu ‘Walau Dalam Mimpi’. Sembari menunggu penampilan selanjutnya, Soleh Solihun dan Sarah Sechan sebagai pembawa acara, mengisi kekosongan di setiap jeda dengan menyuguhkan guyonan-guyonan segar yang membuat penonton tidak bosan untuk menyaksikan penampilan selanjutnya. Kolaborasi epik The Upstairs dan Andy Ayunir menambah kemeriahan Djakarta Atmosphere 2012. Bersandingnya The Upstairs menjadikan Andy Ayunir layaknya personil baru bagi The Upstairs yang juga memilih sofistikasi synthesizer dalam racikan musiknya. Ini sebuah penampilan langka dari dua generasi berbeda dengan ragam music yang memiliki relativitas. Aksi pertama band yang terbentuk di tahun 2001 itu diawalidengan medley ‘Hanya Aku, Musik, Dan Lantai’ dan ‘Anarki’. Sempat menyapa penonton, Jimi Cs kemudian menyuguhkan ‘Sekelebat Menghilang’ dan ‘Selamat Datang di Tubuh Kami’. Setelahnya sejenak menyapa penonton, Jimi cs langsung tancap gas dengan ‘Sekelebat Menghilang’ dan ‘Selamat Datang di Tubuh Kami’. “Kami tidak tampil sendiri. Sosok Andy Ayunir tampak seperti seorang “Future-man” yang bergelimang teknologi masa depan. Musisi berambut pirang itu membawa alat musik elektronik andalannya, mulai dari keyboard, synthesizer, dan gadget. Gimmick seru juga The Upstairs tampilkan ketika mereka membawakan ‘Matraman’ tidak seorang diri, hadir pula rocker Ikang Fawzi dari backdrop panggung. Sentak penonton terkejut dan sang Rocker seolah membawa penonton ke era 80-an dengan ‘Catatan Si Boy’. Penampilan 50 menit The Upstair ditutup dengan 'Gadis Gangster'. Pukul 23.30 WIB, Shaggydog memasuki panggung. Heru sang vokalis sebelum membawakan lagu pertama terlebih dahulu menyapa penonton. "Selamat malam Djakarta Atmosphere. Ini pertama kalinya shaggydog tampil disini,". Single ‘Kembali Berdansa’ dipilih menjadi pembuka, yang dilanjutkan dengan ‘Hey Cantik dan 'From The Dog To The Dog’. Apa jadinya jika Shaggydog bernyanyi dan berdansa bersama legenda hidup Bob Tutupoly? Bayangkan jika keenam lelaki dari Sayidan Yogyakarta mulai menggetarkan sukma dengan Doggystyle yang berlemenkan ska, reggae, swing jazz serta rock lalu merekatkannya dengan gaya swing jazz, soul funk dan poppish yang telah menjadi trademark Bob Tutupoly pada akhir era 50an hingga 70an. Rasanya ShaggyBob bukan lagi wacana konser kolaborasi semalam saja". Heru pun mengajak Bob untuk naik ke atas panggung untuk bernyanyi dan berdansa bersama. Saya tumbuh dari berbagai macam musik. Saya bangga bisa bernyanyi dengan penyanyi yang waktu kecil saya suka dengar lagunya," ucap Heru setelah menyanyikan lagu ‘Dimana’ bersama Bob.  Lagu hit ‘Mengapa Tiada Maaf’ pun langsung membawa sebagian penonton bernostalgia ka jaman ketika lagu tersebut populer. Kolaborasi mereka berlanjut di lagu ‘Lagu Rindu’. Bob pun sempat undur diri sejenak untuk berganti kostum mengenakan jas dan topi gold. Lagu yang paling ditunggu-tunggu penonton akhirnya dibawakan oleh ShaggyBob, Shaggydog membuat lagu Bob ‘Widuri’ terasa lebih segar dengan aransemen musik ska dan jazz. Shaggydog kemudian mengajak para Doggies – sebutan fans Shaggydog --  menyanyi bersama di lagu ‘Sayidan’. Lagu tersebut menjadi penutup Djakarta Atmosphere 2012.