Maling Kondang, Durhaka Kepada Ibu Pertiwi

17-10-2012 11:10:40 By Desca A. Yudha
img

Alkisah, seorang laki-laki bernama Malin Kundang yang sudah hidup sukses dari perantauannya, pulang kembali ke kampung halaman. Bukannya berpura-pura tidak mengenal ibu kandungnya karena malu, si Malin malah menjanjikan ibunya untuk pergi naik haji, dan hidup bahagia berlimpah harta bersamanya. Padahal, hartanya itu hasil dari praktek korupsi. Petikan kisah tersebut merupakan bagian dari sebuah pertunjukan dalam lakon “Maling Kondang”, yang digelar di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 13-14 Oktober lalu. Dalam pertunjukan yang menjadi rangkaian pementasan Indonesia Kita ke-tiga di tahun 2012, ini sutradara Yusril Katil dan tim kreatif: Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, serta Agus Noor, mengangkat tema korupsi dengan latar legenda Malin Kundang Si Anak Durhaka. “Mungkin ibu adalah perlambang Ibu Pertiwi”, jelas Butet dalam sebuah tulisannya yang dimuat di buletin Indonesia Kita. Berbeda dari kisah Malin Kundang yang asli, kedurhakaan Malin pada lakon ini juga dinilai mengkhianati Ibu Pertiwi, dengan praktek korupsi yang dilakukanya. Selain itu, lakon yang terinspirasi dari kisah klasik di tanah Minang, ini juga menggambarkan tokoh Malin Kundang yang kekinian, melalui sentuhan cerita yang modern. Suatu hari, suara helikopter yang terdengar menggema, membuat kehebohan di sebuah kampung. Rakyat jelata berkumpul untuk mengetahui apa yang terjadi. Ketika helikopter mendarat, karpet merah pun digelar untuk menyambut kedatangan Malin, lengkap dengan tari-tarian penyambutan. Kabar pulangnya Malin ke kampung halaman menyebar ke seluruh pelosok desa. Berita tersebut mengusik para Datuk (pemimpin adat Minang). Mereka menganggap Malin yang kaya raya dan berkuasa itu akan mengancam ketentraman desa. Akhirnya sang Ibu mengetahui bahwa harta kekayaan Malin selama ini, didapatkan dari hasil korupsi. Lalu Ibunya mengutuk Malin menjadi batu. Namun dengan kepicikannya, Malin berhasil mengakali seorang warga untuk memakai pakaian kebesarannya dan berdiri di atas batu karang, untuk menggantikan kutukannya menjadi sebongkah batu. Sebuah adegan konyol yang menggambarkan betapa mudahnya seorang koruptor meloloskan diri dari jeratan hukum. Isu korupsi di lingkungan kepolisian dan upaya pengerdilan kekuatan KPK juga menjadi bahan komedi satir, yang dilontarkan dengan cara yang cerdas dan menyentil. “Hanya dua hal yang ibu dukung di dunia ini. Pertama KPK, yang kedua kau menikah dengan Nirina”, kata sang ibu kepada Malin dan Nirina, gadis yang dicintainya. Disamping itu, pementasan lakon “Maling Kondang” juga sarat dengan pertunjukan ragam kesenian khas dari daerah Minang. Pertunjukan tari piring, kesenian randai (menampilkan irama musik dengan cara menepuk sarung yang dikenakan), berbalas pantun, dendang syair Minang dan permainan seruling khas Minang, menambah kentalnya nuansa kebudayaan Minang di atas panggung. Sementara kehadiran rapper Tommy Bollin, yang tampil menyanyikan lagu rap berbahasa Minang, memberikan keunikan tersendiri bagi akulturasi kebudayaan Minang dengan budaya Barat. Selain Iwel Sastra yang berperan sebagai Malin Kundang, dan Oppie Andaresta yang menjadi Ibu Malin, pertunjukan ini juga didukung oleh deretan nama-nama yang sudah tidak asing lagi di dunia televisi tanah air, seperti Nirina Zubir, Efendi Ghazali, dan Murfi. Photos: Egon Saputra