Pentas Indonesia Kita Mengangkat Lakon "Maling Kondang"

29-09-2012 10:09:47 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Saat ini ada anekdot; “menjadi maling di republik ini, malah menjadi kondang”. Lihatlah, di televisi para koruptor yang tertangkap menjadi semakin ngetop dan kondang. Mereka malah terlihat tenang penuh senyum, dan selalu melambaikan tangan, seolah selebritas yang menyapa para penggemarnya. Menjadi kaya dengan jalan korupsi seolah-olah telah menjadi hal yang lumrah. Inilah gejala yang coba dilakonkan dengan gaya parodi dalam pentas Indonesia Kita yang ke tiga di tahun 2012 ini, yang mengangkat lakon Maling Kondang. “Lakon ini adalah bentuk keprihatinan kita, betapa orang kini tak lagi merasa malu melakukan korupsi,” ujar Butet Kartaredjasa, salah satu penggagas dan Tim Kreatif Indonesia Kita. “Lakon Maling Kondang ini, sebuah satir yang getir, yang mengolah khasanah seni budaya Minang sebagai dasar penggarapannya.” Lakon ini berangkat dari kisah klasik perihal Malin Kundang, yang pulang ke kampung halamannya, setelah ia sukses dan kaya-raya. Dengan uangnya yang melimpah itulah, ia hendak membangun kampung halamannya, mencalonkan diri menjadi pemimpin, dan ingin membangun monumen dirinya. Banyak yang bangga dengan kesuksesan Malin, tetapi ibunya bertanya, “Dari manakah semua uang itu didapat?” Inilah pertanyaan dasar yang retoris sekaligus menjadi titik pijak untuk mempertanyakan etika yang kini sudah langka. Ibu Malin menantang anaknya bersumpah; bila semua kekayaan itu didapat dari korupsi, ia akan mengutuknya menjadi batu. Dari kisah itulah lakon diolah dan dikembangkan, dengan meramu berbagai unsur dan bentuk seni yang berkembang di tanah Minang, mulai dari gerak ginyang maktaci, tapuak galembong, legaran randai, dendang dan silat Mak Katik, badendang dan saluang, sampai ke bentuk seni yang lebih kontemporer; Rap Minang. “Pentas ini memperlihatkan betapa seni di Minang terus berkembang, dan kontekstual dengan semangat jaman. Nanti akan terjadi kolaborasi antara maestro seni tradisi Mak Katik, dengan rapper Minang Tommy Bollin,” ujar Yusril Katil, sutradara petunjukan Maling Kondang ini. “Dalam pentas ini, kita akan melihat bentuk dan semangat baru, untuk terus mengolah tradisi yang ada, hingga menjadi tontonan yang lebih dinamis dan metropolis.” Pertunjukan Maling Kondang juga didukung oleh Oppie Andaresta, Nirina Zubir, Effendi Gazali, Iwel Sastra. Dan yang tak kalah lezatnya adalah digelarnya Pasar Kuliner yang menyertai perhelatan ini. Pasar Kuliner itu akan menghadirkan menu-menu legendaris yang berasal dari ranah Minang, diantaranya; Rendang Belut, Rendang Telur, Gulai Pakis Udang, Ketupat Pitalah, Lamang Tapai, Ampiang Dadiah, Sate Padang, Bareh Randang, Karupuak Sanjai, Bika, Kue Talam, Kampiun, Kopi Kawa, Tunjang, Ikan Gulai Asam Padeh, Gulai Usus, Pinyaram, Galamai. Pasar Kuliner akan berlangsung mulai pukul 12.00 WIB sampai malam. Pertunjukan maling Kondang akan digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jum’at s/d Sabtu, 12 – 13 Oktober 2012. HTM: Platinum Rp 500.000,- VVIP Rp 300.000,- VIP Rp 200.000,- Balkon Rp 100.000,-