“Kabayan Jadi Presiden” – Ketika Rakyat Merindukan Sosok Pemimpin Yang Jujur

18-07-2012 10:07:08 By Desca A. Yudha
img

Kabayan merupakan sosok imajinatif yang telah melegenda di tanah Sunda. Terlepas dari segala kekonyolannya, karakter Kabayan yang jujur, lugu, namun cerdas ini agaknya menjadi representasi watak rakyat kecil. Bagaimana ketika sosok Si Kabayan ini didaulat oleh rakyat untuk menjadi Presiden? Jumat malam (13/06), tepat sebelum pertunjukan dimulai, Butet Kertaradjasa yang merupakan salah satu penggas ide cerita memberikan sedikit pengantar pementasan “Kabayan Jadi Presiden” di atas panggung. Menurutnya pementasan kali ini mencoba untuk menggambarkan kerinduan dan harapan rakyat akan pemimpin yang jujur dan benar-benar bisa mensejahterakan rakyatnya. Diawali dengan setting panggung yang menggambarkan sebuah pedesaan yang indah, tentram, damai, jauh dari hiruk-pikuk dan karakteristik khas perkotaan. Kabayan dan Nyi Iteung dikagetkan dengan sosok Aa Jimmy (plesetan dari tokoh agama Aa Gym) yang menyampaikan pesan bahwa rakyat telah kehilangan pemimpin yang jujur. Perilaku politisi dan pemimpin yang dinilai sering mengabaikan kepentingan rakyat, membuat rakyat menjadi gelisah. Sosok Kabayan yang jujur dan bisa dipercaya ini menjadi harapan rakyat untuk bisa memimpin negrinya. Akhirnya Kabayan pun disusung ramai-ramai oleh rakyat untuk menjadi seorang Presiden. Bahkan kepopularitasannya mengalahkan para calon Presiden lainnya. Geram melihat hal ini, seorang calon Presiden dari partai ‘Cakcak Bodas’ malah berpura-pura memberikan segala dukungan untuk mensukseskan Kabayan menjadi Presiden. Padahal dibalik semua itu, yang ada dipikirannya adalah bagaimana cara memperalat Kabayan demi mensukseskan kepentingannya dan kepentingan partainya. Mengetahui niat jelek ini, Kabayan pun tidak tinggal diam dan tetap mempertahankan kepemimpinannya yang berlandaskan sikap kejujuran dan memihak kepentingan rakyat. Adegan ketika Kabayan melucuti semua atribut dan pakaiannya misalnya, mencerminkan bahwa Kabayan memeng rela memberikan segalanya demi kepentingan rakyat, dan bukan demi ambisi kekuasannya sebagai Presiden. Sosok yang begitu diidam-idamkan oleh rakyat. Di pementasan kali ini juga tidak hanya menampilkan satu Kabayan, tapi tiga sosok Kabayan sekaligus yang diperankan begitu apik oleh Didi Petet dan Mang Imank. Adegan ketika Kabayan saat ini meminta pendapat dari kedua Kabayan senior, mencoba menggambarkan bahwa sosok Kabayan telah melewati lintas generasi. Pementasan kedua dari rangkaian program Indonesia Kita ini, terkemas dengan apik oleh penggagas ide Agus Noor, Djaduk Ferianto dan sutradara Didi Petet yang dikenal sebagai pemeran tokoh Si Kabayan setelah era almarhum Abah Us Us, dan almarhum Kang Ibing. Turut pula didukung oleh seniman dan para pemain kenamaan seperti Tisna Sanjaya, Peggy Melati Sukma, Oni SOS, Budi Dalton, Mang Imank, Joe ‘Project P’, Aa Jimmy, Herliana Sinaga, Meriam Bellina, Karinding Attack dan Rumah Musik Harry Roesli. Yang juga menarik dari pementasan ini yaitu turut menampilkan kesenian-kesenian klasik Sunda seperti tari Jaipong, dan kesenian musik Karinding. Perlu diketahui bahwa kesenian musik Karinding ini bisa dibilang hampir punah sebagai bagian dari kebudayaan Sunda. Kali ini Karinding bahkan disandingkan dengan musik Rock, dimana vokal khas musik Rock Underground dibawakan dengan gaya yang garang oleh sang seniman yang berambut gondrong. Pementasan “Kabayan Jadi Presiden” tidak hanya menghibur dan sarat akan kebudayaan Sunda. Tapi juga menjadi sebuah ‘sentilan’ bagi siapapun yang sedang dan akan memimpin negeri ini. Desca Ardhi Yudha Egon Saputra